
Taxi
Pada kursi penumpang terlihat Alice tengah menatap kosong ke arah luar jendela saat itu. Pikiran Alice benar-benar melayang membayangkan setiap hal yang baru saja terjadi kepadanya. Diarahkannya rambut bagian depannya dengan kasar, sambil menghela napasnya panjang.
Segala hal yang di katakan oleh Kafin sebelumnya benar-benar telah mempengaruhinya, membuat Alice tidak bisa tenang dan berpikiran jernih saat ini.
Alice menyenderkan kepalanya keada kursi penumpang dan menatap langit-langit mobil saat itu.
"Apa yang harus aku lakukan? Mengapa semuanya kian menjadi rumit seperti ini? Aku bahkan sudah berjuang selama bertahun-tahun lamanya untuk melupakan Kafin, namun Kafin malah seenaknya kembali hadir dan menarik diriku untuk kembali membuka kenangan lama. Apakah dia sama sekali tidak punya hati? Apa yang harus aku lakukan aku Tuhan? Tidak bisakah Engkau memberikan sedikit ketenangan kepadaku?" ucap Alice dalam hati menggerutu seakan mencoba untuk mengadu kepada Sang Pencipta.
Suara decitan rem yang diinjak saat itu, lantas membuyarkan segala pemikiran Alice saat itu. Membuatnya yang mendapati hal tersebut kemudian terlihat membenarkan posisinya.
"Sudah sampai Nyonya..." ucap sopir taksi tersebut.
"Terima kasih banyak Pak." ucap Alice sambil membuka pintu mobil dan melangkahkan kakinya turun dari taksi tersebut.
.
.
.
Dengan langkah kaki yang gontai Alice nampak mulai membawa langkah kakinya masuk ke dalam area mansion. Sebuah suara yang berasal dari area tangga saat itu, kemudian lantas menghentikan langkah kaki Alice dengan seketika.
"Apakah kamu senang telah bertemu dengannya? Hingga penampilan mu berantakan seperti itu? Apa kalian baru saja bermain cakar-cakaran?" ucap Ashraf sambil menuruni satu persatu anak tangga mendekat ke arah dimana Alive berada saat ini.
Mendapat pertanyaan tersebut tentu saja membuat lidah Alice keluh saat itu. Entah apa yang akan Alice jelaskan kepada Ashraf saat ini, namun yang jelas apa yang saat ini ada di pikiran Ashraf sama sekali bukanlah sebuah kebenarannya.
__ADS_1
"Apa kamu akan percaya jika aku mengatakan tidak ada yang terjadi diantara kita berdua? Apa kamu akan mempercayaiku? Jika... Apa yang kamu lihat bukanlah sebuah kebenarannya?" ucap Alice kemudian.
Alice bahkan sudah tidak perduli lagi apakah Ashraf benar-benar mempercayainya atau tidak. Pikirannya saat ini sudah cukup kacau akan setiap perkataan yang keluar dari mulut Kafin sebelumnya. Sehingga membuat Alice tidak ingin lagi ambil pusing akan setiap hal yang mungkin saja tidak akan pernah Ashraf percayai.
Sementara itu Ashraf yang mendapat pertanyaan tersebut lantas terdiam sejenak. Ditatapnya raut wajah Alice yang saat ini penampilannya benar-benar telah berantakan. Namun ketika sebuah perban yang terbalut di telapak tangan Alice saat itu, membuat Ashraf menghela napasnya dengan panjang.
Ashraf jelas tahu jika itu adalah bekas infus dan hal itu juga lah yang membuat Ashraf sedikit melega, ketika mengetahui jika apa yang Kafin sampaikan sama sekali tidak seperti kebenarannya.
"Sepertinya Kafin sedang mencoba untuk memancing ku dengan membiarkan pakaian dan penampilan Alice seperti ini." ucap Ashraf dalam hati dengan tatapan yang menelisik.
Dengan langkah kaki yang perlahan tapi pasti, Ashraf nampak terus membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Alice berada. Ashraf terlihat berhenti ketika ia sampai tepat di hadapan Alice dan langsung menggamit tangannya saat itu.
"Apakah kamu sedang tidak enak badan? Mengapa kamu tidak mengabari ku? Aku sangat cemas memikirkan keadaan mu dan juga Caramel. Jika tahu kamu sedang tidak baik-baik saja, aku pasti akan menyusul mu Al..." ucap Ashraf kemudian yang lantas membuat Alice mengernyit dengan seketika.
Sampai kemudian pandangan Alice lantas terhenti pada punggung tangannya yang masih terdapat plester bekas selang infus sebelumnya.
"Akh ternyata ada untungnya juga aku melupakan untuk membuangnya tadi." ucap Alice dalam hati yang mulai mengerti akan apa yang sedang terjadi saat ini.
"Caramel ada di kamar dan sedang tidur saat ini, sepertinya ia begitu kelelahan. Apakah ada sesuatu yang terjadi kepada kalian berdua? Mengapa Cara pulang bersama Putra Putri Kafin?" ucap Ashraf kemudian yang mulai mencercanya dengan berbagai pertanyaan.
"Em.. Itu... Em anu ada sesuatu yang harus aku urus tadi dan kebetulan aku tak sengaja bertemu dengan keduanya, jadi aku memutuskan untuk meminta tolong kepada Altair dan Belinda agar mengantarkan Caramel pulang ke sini." ucap Alice kemudian yang mulai membuat alasan berharap dengan begitu Ashraf akan mempercayainya.
Helaan napas terdengar berhembus kencang ketika mendapati jawaban dari Alice barusan. Membuat Alice langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung akan ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Ashraf saat ini.
"Baiklah, sebaiknya kamu segera mandi dan berganti pakaian. Aku akan menyuruh Bibi untuk menyiapkan makan malam untuk kita bertiga." ucap Ashraf sambil mengusap pundak Alice secara perlahan.
"Terima kasih banyak." ucap Alice dengan tersenyum simpul yang lantas di balas Ashraf dengan senyuman pula.
__ADS_1
***
Keesokan paginya
Tepatnya di Ruangan CEO terlihat Dimas tengah sibuk membacakan agenda Kafin hari ini. Namun sepertinya Kafin yang tidak bisa fokus, terlihat hanya menatap lurus ke arah depan dengan tatapan yang tajam. Kafin sama sekali tidak berniat mendengarkan perkataan Dimas sedikit pun.
Bayangan bagaimana Kafin mendapatkan balasan chat dari Ashraf kemarin benar-benar membuatnya begitu kesal. Sampai-sampai membuatnya tidak bisa fokus sama sekali.
**
Flashback on
Kafin yang baru saja selesai mandi malam itu, terlihat mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah ranjang berukuran king size dan mengambil duduk di sana. Di ambilnya ponsel miliknya dan melihat beberapa chat yang mungkin saja penting dan menunggu balasan darinya.
Sampai kemudian pandangannya terhenti pada satu chat yang tak asing baginya saat itu. Sebuah foto keluarga yang tengah makan bersama terpampang jelas di sana, membuat bola mata Kafin lantas membulat dengan seketika.
"Makan malam bersama katanya? Benar-benar kurang ajar!" pekik Kafin sambil melempar ponselnya hingga menjadi beberapa bagian.
Flashback off
**
"....Hingga nanti sore mungkin jadwal anda akan sangat padat Tuan, apakah ada sesuatu yang ingin anda rubah?" ucap Dimas mengakhiri laporannya dengan tanda tanya.
Hanya saja sebuah jawaban tak terduga malah terdengar menggema di ruangan tersebut dan langsung mengejutkan Dimas yang sedari tadi sibuk memberikan laporan.
Brak...
__ADS_1
"Kurang ajar! Apa sebenarnya yang dia inginkan!" pekik Kafin dengan tiba-tiba sambil menggebrak meja kerjanya saat itu.
Bersambung