Move

Move
Cari sampai ketemu


__ADS_3

"Jika aku katakan pergi ya pergi Al... Jangan membantah ku!" ucap Ashraf dengan nada yang tidak ingin di bantah sama sekali.


"Tapi... Bukankah kamu mengatakan jika kita tidak perlu keluarga negeri asalkan aku bersama dengan mu dan tidak bertemu dengan Kafin juga kedua anaknya?" ucap Alice yang seakan bingung akan sikap Ashraf yang berubah-ubah.


Ashraf yang mendengar perkataan dari Alice barusan, lantas langsung terdiam seketika, diusapnya raut wajahnya dengan kasar. Entah mengapa setelah mendapati jika Alice hamil anak Kafin, amarahnya selalu saja meningkat ketika mendengar tentang sesuatu hal yang menyangkut dengan Pria tersebut.


"Aku minta maaf karena terlalu emosional tadi, aku hanya tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi. Aku memang sudah menyembunyikan mu semampu ku, namun aku benar-benar tidak yakin jika Kafin tidak akan menemukan tempat persembunyian kita. Aku mohon kepadamu Al.. Jika kamu ingin hidup kita lebih tenang ikutlah dengan ku ke luar negeri.. Aku mohon.." ucap Ashraf dengan raut wajah yang memelas.


Sedangkan Alice yang mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Ashraf saat itu, tentu saja langsung terdiam dengan seketika. Bayangan tentang bagaimana kebersamaannya bersama dengan Kafin dan juga kedua anak-anaknya, tentu saja kembali terlintas di pikirannya saat itu. Ada sedikit perasaan tidak rela dalam diri Alice ketika ia harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya harus berpisah jauh dari kedua anak kembar yang lucu tersebut.


Namun kenyataan jika ia tidak lagi bisa berada di samping mereka, lantas membuatnya kembali tertampar kenyataan dan seakan terbangun dari mimpi indahnya selama ini.


"Tidak bisakah kita untuk tetap tinggal? Aku janji tidak akan menemui mereka, tapi ku mohon kepadamu jangan pergi..." ucap Alice dengan nada yang memohon.


"Tidak bisa, Al kita harus tetap pergi! Jika kamu ingin memulai kehidupan yang baru, kamu harus mengambil langkah sejauh mungkin dari kehidupan Kafin dan juga kedua anak kembarnya." ucap Ashraf yang seakan menolak dengan keras permintaan dari Alice barusan.


Mendengar perkataan dari Ashraf barusan, lantas membuat Alice menghela napasnya dengan berat. Entah apa yang sedang Alice pikirkan saat ini, yang jelas Alice benar-benar tidak menginginkan pergi jauh dari kedua anak kembar tersebut. Alice bahkan benar-benar tidak tahu, akankah alasan ia tidak ingin pergi hanya karena Belinda dan juga Altair? Atau bahkan karena seorang Kafin? Ya perasaannya kepada Kafin sepertinya sulit sekali untuk dijelaskan hanya dengan kata-kata saat ini.


"Apakah hanya dengan pergi ke luar negeri aku bisa melupakan mereka semua?" ucap Alice kemudian dengan raut wajah yang seakan tidak yakin akan opsi tersebut.


"Tentu Al, kamu tidak akan tahu sampai kamu benar-benar mencobanya." ucap Ashraf kemudian sambil tersenyum ke arah Alice dengan manik mata yang teduh.

__ADS_1


"Apakah perkataan Ashraf benar? Bagaimana jika segalanya malah kebalikannya? Apakah aku siap untuk meninggalkan mereka semua?" ucap Alice dalam hati bertanya-tanya.


"Bagaimana Al?" ucap Ashraf kemudian bertanya kembali karena tidak mendengar jawaban apapun dari Alice sebelumnya.


"Aku tidak tahu keputusan mana yang akan aku ambil dan terbaik untuk mu, tapi aku.. Aku akan mencobanya, aku serahkan segalanya kepada mu Ashraf.." ucap Alice pada akhirnya yang lantas membuat Ashraf tersenyum dengan simpul ketika mendengar jawaban tersebut.


"Tentu Al kamu tidak perlu khawatirkan akan hal tersebut..." ucap Ashraf kemudian dengan nada yang terdengar bahagia.


**


Ruangan CEO


Kafin yang tidak kunjung menemukan keberadaan Alice di area Ibukota, tentu saja semakin terlihat frustrasi. Ia bahkan menunda beberapa pertemuan dan juga meeting yang seharusnya dilakukan olehnya hari ini juga.


"Tuan, Pak Laskar baru saja pergi meninggalkan perusahaan. Apakah anda yakin tidak ingin bertemu dengannya dan membahas kerjasama kita sebentar saja?" ucap Dimas dengan nada yang pelan karena takut jika Kafin akan marah karenanya.


Mendengar sebuah suara yang tiba-tiba saja terdengar di telinganya saat itu, lantas membuat Kafin langsung menatap ke arah sumber suara dengan seketika. Helaan napas terdengar berhembus dengan kasar dari mulutnya saat itu, membuat Dimas yang menyadari akan kesalahannya lantas langsung menundukkan kepalanya dengan seketika.


"Jika kamu senggang sebaiknya kamu cepat cari keberadaan Alice di manapun ia berada, malam ini juga kamu harus menemukannya. Apakah kamu mengerti bahasa manusia?" ucap Kafin kemudian dengan nada penuh penekanan sambil menatap tajam ke arah Dimas saat itu, membuat Dimas yang mendengar hal tersebut lantas langsung menelan salivanya dengan kasar.


"Saya mengerti Tuan, saya minta maaf jika perkataan saya barusan menyinggung anda. Saya permisi..." ucap Dimas kemudian yang sadar jika saat ini kondisinya tidaklah memungkinkan untuk mengarahkan Kafin pada pekerjaannya.

__ADS_1


Sedangkan Kafin yang mendengar perkataan dari Dimas barusan hanya menatapnya dengan tatapan yang seperti kesal. Entah mengapa Dimas saat itu tidak bisa membaca situasinya, jangankan untuk melakukan pertemuan, untuk mengerjakan pekerjaannya saja Kafin benar-benar malas dan hanya terpikirkan dengan Alice lagi dan Lagi membuatnya tidak bisa fokus akan pekerjaannya.


"Sial, dia bahkan benar-benar tidak bisa membaca situasinya. Apakah aku harus menjelaskan kepadanya sedetail mungkin? Benar-benar menyebalkan!" ucap Kafin dengan nada yang kesal.


***


Sore harinya di Kediaman Alex


Dari arah halaman utama terlihat Alex tengah melangkahkan kakinya memasuki area kediamannya. Entah apalagi yang harus ia lakukan saat ini, namun yang jelas situasi perusahaannya semakin sulit dan juga tidak lagi bisa ia kendalikan. Beberapa saham perusahaannya bahkan terus terjun dan juga anjlok, membuat kepalanya terasa begitu pusing ketika mendapati hal tersebut.


Sambil melangkahkan kakinya terus masuk ke dalam kediamannya, Alex nampak memijat pelipisnya dengan pelan yang saat ini terasa sedikit berdenyut.


"Ahk benar-benar menyebalkan..." ucap Alex sambil menggerutu dengan kesal karenanya.


Hanya saja di saat langkah kaki Alex terus ia bawa masuk hendak menuju ke arah kamarnya sebuah suara sama sekali tidak ingin Ia dengar saat itu lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika


"Kamu sudah pulang Lex?" ucap sebuah suara yang lantas menghentikan langkah kakinya dengan seketika saat itu.


Sadar jika sebuah suara yang menyapa telinganya barusan adalah seseorang yang sama sekali tidak ingin ia temui, lantas membuat Alex mulai memulai berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara dengan malas.


"Apa yang Papa lakukan di sini?" ucap Alex begitu melihat seseorang tersebut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2