Move

Move
Bukan anak kecil lagi


__ADS_3

Di kediaman Alex


Terlihat Alex tengah menatap lurus ke arah depan dengan tatapan yang kosong. Pikirannya saat ini melayang membayangkan pemandangan yang baru saja ia lihat di kediaman Kafin. Sebenarnya Alex sama sekali tidak ada niatan untuk melewati kawasan tersebut.


Hanya saja setelah telponnya terakhir kali yang menghubungi Kafin, membuatnya begitu penasaran akan kondisi Kafin saat ini. Syukur-syukur jika Kafin tengah terpuruk setelah mendapat berita darinya karena hal itu akan membuat hatinya lebih bahagia.


Hanya saja sayangnya sebuah ekspetasi selalu saja tidak sesuai dengan kenyataannya. Disaat Alex berpikir untuk merayakan keberhasilannya mempengaruhi Kafin, yang ia lihat malah sesuatu yang tak mengenakan baginya.


Alex berdecak dengan kesal tak kala mengingat kembali jika Alice baru saja keluar dari kediaman Kafin saat itu. Membuat alex yang mendapati hal tersebut lantas mengepalkan tangannya dengan erat. Entah mengapa melihatnya saja membuat hati Alex tak tenang, apa lagi jika sampai kabar tentang Kafin dan juga Alice yang kembali bersama adalah benar.


"Sial! Tujuan ku mengatakan hal tersebut bahkan bukan untuk membuat keduanya bersama. Bagaimana mungkin Alice bisa kembali bersama dengan Kafin? Benar-benar menyebalkan!" ucap Alex dengan nada yang kesal pada diri sendiri saat itu.


Alex benar-benar tidak tahu jika segalanya akan jadi seperti ini. Sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari arah pintu utama, lantas membuyarkan segala lamunannya saat itu.


"Bisa-bisanya kau berada di sini? Sedangkan aku menunggu mu di taman sedari tadi untuk acara pembukaan taman kota. Apa kau lupa jika pembukaan taman kota di langsungkan hari ini?" ucap Cicil dengan nada yang terdengar kesal sambil membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Alex berada saat ini.


"Aku lupa" ucap Alex dengan nada yang datar seakan tanpa merasa bersalah sama sekali.

__ADS_1


Padahal yang terjadi sebenarnya Alex tidaklah lupa, setelah melihat Alice keluar dari kediaman Kafin tadi. Membuat Alex lantas membanting setirnya dan kembali ke Rumah. Entah mengapa mood nya seketika hilang disaat ia melihat hal tersebut. Padahal apa yang ia lihat belum tentu sebuah kebenarannya.


Alex yang enggan untuk berdebat dengan Cicil pada akhirnya memutuskan untuk bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi dari sana. Membuat Cicil yang mendapat hal tersebut, lantas menatap tak percaya ke arah Alex karena dengan gampangnya hanya bersembunyi di atas kata-kata lupa.


Melihat kepergian Alex yang seakan menganggap segalanya enteng, lantas membuat Cicil mempercepat langkah kakinya dan menyusul Alex saat itu.


Ditariknya tangan Alex dengan kuat, hingga membuat Alex berbalik badan dan menghentikan langkah kakinya dengan seketika.


"Kau bilang lupa? Bukankah tadi pagi aku sudah mengingatkan mu akan hal ini? Berhenti bersikap main-main dan lakukan dengan benar. Papa sudah mengorbankan segala hal untuk membuat mu sampai ke titik ini. Tidak bisakah kau menghargainya barang sedetik saja? Pemilihan mu bahkan sudah berada di depan mata, bukan saatnya bagi mu untuk bermain-main atau semua reputasi yang sudah di bangun dengan susah payah akan hancur begitu saja!" pekik Cicil dengan nada yang terdengar begitu kesal menatap lurus ke arah Alex saat itu.


Manik mata Alex membulat dengan seketika begitu mendapati Cicil berteriak dan menumpahkan segala hal kepadanya. Ditatapnya Cicil dengan tatapan yang tajam, namun sama sekali tidak membuat Cicil gentar sama sekali. Lagi pula apa yang di lakukan oleh Alex benar-benar sudah keterlaluan. Orang tuanya bahkan berjuang mati-matian untuk menjadikan Alex seorang pemimpin negara. Namun Alex malah menganggap segalanya begitu enteng dan tidak memperdulikan sama sekali usaha dan kerja keras orang tuanya.


"Memangnya apa yang belum pernah aku lihat dari dirimu? Sifat buruk bahkan perangai mu sekalipun aku sudah mengetahuinya!" ucap Cicil tak mau kalah.


Plak...


Sebuah tamparan yang keras mendarat tepat di pipi Cicil saat itu. Membuat Cicil langsung terdiam mematung di tempatnya dengan seketika.

__ADS_1


Pandangannya menggelap sejenak tak kala tangan besar milik Alex mengenai pipinya saat itu. Ini adalah pertama kalinya Alex mengangkat tangannya seperti ini. Selama ini semarah apapun Alex ia hanya akan mendapatkan perang mulut saja dan tidak lebih dari itu. Namun kali ini sebuah pukulan malah ia dapatkan hanya karena hal kecil seperti ini.


Hal ini tentu saja membuat Cicil begitu terkejut karenanya. Entah apa yang tengah terjadi kepada Alex sehingga menamparnya dengan keras barusan. Membuatnya sekan tidak percaya jika ia benar-benar mendapatkannya saat ini.


"Sudah ku bilang untuk tidak mengganggu ku, kau tidak akan tahu seberapa buruknya aku sampai kau yang memulainya sendiri!" ucap Alex dengan nada yang terdengar dingin, sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Cicil yang masih terdiam di tempatnya saat itu.


Cicil yang mengetahui dengan jelas kepergian Alex hanya bisa menatapnya dengan manik mata yang berkaca-kaca. Cicil bahkan bingung harus bereaksi seperti apa saat ini.


Sampai kemudian sebuah pelukan di pinggangnya yang berasal dari Tia ketika itu, lantas membuat Cicil buru-buru mengusap air matanya yang sudah menetes saat itu dan berharap jika Tia tidak menyadarinya.


"Apakah Mama baik-baik saja? Aku akan memperingatkan Papa agar tidak menyentuh Mama. Bagaimana bisa ia melukai wanita terhebat di dunia ini?" ucap Tia sambil memeluk erat Cicil saat itu.


Mendengar perkataan dari Tia benar-benar membuat hati Cicil sedikit melega. Diusapnya puncak kepala Tia saat itu kemudian mencoba untuk tersenyum sebisa mungkin.


"Tidak perlu, Papa sedang banyak pikiran saat ini. Kamu tahu? Pemilu sudah semakin dekat dan Papa takut jika ia akan kalah suara dalam pencalonan perdananya." ucap Cicil mencoba untuk mencari alasan yang tepat untuk Putrinya saat ini.


"Mama jangan coba-coba menipu ku, aku jelas tahu bagaimana sikap Papa selama ini kepada Mama. Aku tidak bisa hanya diam dan menyaksikan segalanya tepat di depan mata kepala ku sendiri. Aku sudah besar Ma bukan lagi anak-anak yang hanya mengiba memohon kasih sayang dari Papa. Jika Papa tidak menginginkan ku terserah, aku bahkan sudah tidak memperdulikan hal itu. Tapi jika sampai Papa menyentuh Mama, hal itu sudah beda cerita. Jangan mencoba untuk menghentikan ku Ma!" ucap Tia dengan nada yang terdengar kesal dan hendak berlaku pergi menyusul Alex.

__ADS_1


"Berhenti Tia!"


Bersambung


__ADS_2