
"Mama? Apakah Alice dan Ashraf sudah menikah?" ucap Kafin dengan raut wajah yang terkejut.
Mendapati semua hal yang terlihat dengan jelas di depan kedua mata kepalanya, lantas membuat Kafin mengurungkan niatannya. Hati yang semula merindu dan menggebu ingin memeluk Alice dengan segera, mendengar sebuah teriakan dari gadis kecil yang memanggil Alice dengan sebutan Mama lantas langsung memecahkan hatinya berkeping-keping.
Tatapan sendu jelas terlihat pada raut wajah Kafin saat itu ketika melihat gadis kecil tersebut terus berlarian dan menyerahkan sebuah ponsel kepada Alice saat itu. Hanya saja tidak beberapa lama seulas senyum nampak terlihat jelas di wajah Kafin, begitu ia menyadari satu hal yang tidak pernah ia pikirkan selama enam tahun belakangan ini.
"Kafin.. Kafin... Bukankah kau terlalu naif? Setelah Alice mengingat segalanya, apa yang kau harapkan dari semua itu? Apakah Alice mencintai mu? Tentu saja tidak, jika memang ia menaruh rasa kepadamu sudah bisa dipastikan jika saat ini Alice akan tetap bersama dengan dirimu. Sayangnya saat ini kenyataannya benar-benar telah berbeda, Mama dan Papa? Cih.. Bahkan panggilan Ayah dan Bunda lebih terdengar cocok di telinga ku saat ini." ucap Kafin sambil menertawakan dirinya sendiri masih dengan tatapan yang lurus ke arah depan.
Kafin yang mendapati jika Alice tidak lagi bisa digapai, lantas mengurungkan niatannya untuk turun dan menghampiri Alice saat itu. Dengan perasaan kecewa yang teramat mendalam, Kafin pada akhirnya memutuskan untuk menancap gasnya dan berlalu pergi dari sana sejauh mungkin.
Untuk saat ini Kafin hanya ingin pergi dan menenangkan dirinya, lagi pula perasaan yang sudah ia tumpuk selama bertahun-tahun lalu. Rasanya harus terhempas begitu saja ketika mendapati pemandangan di hadapannya saat ini. Benar-benar terasa menikam hatinya, ketika mengetahui jika ternyata Alice dan juga Ashraf telah menikah tepat ketika kepergian Alice beberapa tahun yang lalu.
**
Sementara itu Alice yang baru saja menerima ponsel yang di berikan oleh Caramel sebelumnya, lantas hendak melangkahkan kakinya masuk setelah mengambil pesanannya. Hanya sekelebat bayangan yang berasal dari sebuah mobil yang melaju dengan kencang melewati area depan kediamannya, mendadak langsung mengingatkan Alice pada seseorang.
"Kafin..." ucap Alice dengan spontan begitu ia merasa tidak asing akan pemilik mobil yang baru saja lewat.
Manik mata Alice lantas tertuju pada sebuah mobil yang terlihat sudah melaju semakin jauh dari hadapannya saat itu. Sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari ponsel miliknya, lantas membuat Alice tersadar dari lamunannya seketika iti.
"Halo Al.. Apa kamu mendengarkan ku? Alice" ucap Ashraf ketika tidak mendengar suara apapun di sebrang sana.
__ADS_1
"Iya aku mendengar mu, maaf aku baru saja mengambil pesanan, tadi Caramel mengatakan jika ia lapar. Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Alice kemudian sambil sesekali masih melirik ke arah perginya mobil tersebut.
"Aku hanya ingin mengatakan jika sepertinya nanti aku akan pulang sedikit larut malam. Kalian berdua tidak perlu menunggu ku untuk makan malam nanti." ucap Ashraf kemudian karena memang tujuannya menelpon adalah untuk mengabari Alice jika ia akan pulang terlambat.
"Baiklah, jangan terlalu keras dalam memforsir tubuh mu. Kerjakan yang penting saja dan segera pulang, aku yakin Cara akan mencari mu nanti." ucap Alice sambil menghembuskan napasnya secara perlahan, begitu mendengar perkataan Ashraf barusan.
"Tentu kamu tidak perlu khawatirkan hal tersebut, aku tutup dulu telponnya... Katakan salam ku kepada Cara bahwa aku menyayanginya." ucap Ashraf kemudian sebelum pada akhirnya memutus sambungan telponnya.
Alice yang mendengar perkataan terakhir Ashraf barusan tentu saja langsung menghembuskan napasnya dengan kasar. Disaat ia baru saja memikirkan tentang Kafin, satu lagi perhatian kecil dari Ashraf lantas membuatnya tersadar akan kenyataan yang saat ini berada di hadapannya.
"Ayolah Al.. Lagi pula untuk apa Kafin kemari? Dia bahkan sama sekali tidak tahu akan kepulangan mu. Pemilik mobil seperti itu jelas banyak jadi bukan hanya dia seorang saja." ucap Alice pada diri sendiri sambil berbalik badan hendak mengajak masuk Caramel yang mungkin saja saat ini masih menunggunya.
"Cara.... Apa yang kamu lakukan ha?" pekik Alice sambil berkacak pinggang menatap tajam ke arah Caramel yang tengah asyik memakan cake tersebut.
Mendengar teriakan khas yang hanya dimiliki oleh Alice, lantas membuat Caramel langsung mendongak dengan seketika ke arah Alice saat itu. Seulas senyuman garing nampak terlihat pada raut wajah Caramel yang penuh dengan krim coklat di sana.
"Cake nya enak Ma.. Mama mau?" tawar Caramel dengan santainya sambil mengarahkan box Cake tersebut yang juga penuh dengan krim coklat.
"Mengapa tingkahnya begitu mirip dengan Papanya sih? Selalu tidak sabaran!" ucap Alice dalam hati sambil menarik napasnya dengan panjang.
.
__ADS_1
.
.
Alice yang baru saja selesai membersihkan Caramel dari noda krim coklat yang mengotori beberapa bagian tubuhnya, lantas terlihat mulai membawa piring berisi puding dan juga buah di atas nampan menuju ke arah dimana Caramel berada saat ini.
"Apa yang kamu tonton nak?" tanya Alice kemudian yang lantas di balas Caramel dengan gelengan kepala pelan.
"Lain kali kalau ingin makan sesuatu kamu harus membukanya dengan perlahan terlebih dahulu uya? Jangan seperti tadi.. Mama tidak menyukai hal tersebut. Jika Cara melakukannya lagi maka Mama akan.." ucap Alice hendak menjelaskan kepada Caramel namun malah di potong oleh gadis kecil tersebut.
"Mama akan angly sama sepelti hulk!" ucap Caramel sambil tersenyum dengan lebar, membuat Alice langsung mendengus dengan kesal begitu mendengar perkataan dari Caramel barusan.
"Oh ya? Jadi sekarang Mama adalah hulk? Jika sampai kamu nakal lagi nanti Mama akan... Klitik klitik..." ucap Alice sambil mulai menggelitiki perut Caramel saat itu dengan perlahan.
"Ampun Ma... Geli sekali.. Mama... Hahaha...." pekik Caramel terus meminta ampun kepada Alice yang saat itu begitu membuatnya geli.
Disaat Alice tengah sibuk bercanda dengan Caramel saat itu, sebuah siaran berita yang terdengar menggema di ruangan tersebut lantas membuat Alice langsung menghentikan gerakannya dengan seketika.
"Dia Alex? Apa yang terjadi hingga ia mendadak mencalonkan dirinya untuk maju ke pemilu tahun ini? Apa yang terjadi selama enam tahu belakangan ini?"
Bersambung
__ADS_1