
"Siapa dia sebenarnya?" ucap Alex dengan raut wajah yang kebingungan.
Alex yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ketika melihat kedatangan Asraf saat itu, lantas langsung mengambil ponselnya dan merekam setiap adegan yang terjadi di antara Ashraf, Caramel dan juga Alice saat itu. Entah berapa banyak foto dan juga video yang dia ambil, sehingga membuat seulas senyum terlihat dengan jelas diraut wajahnya saat itu.
"Aku yakin Kafin pasti akan langsung kebakaran jenggot jika melihat beberapa vidio dan foto ini." ucap Alex dalam hati sambil menatap lurus ke arah depan.
Di saat Alex tengah sibuk mengabadikan momen diantara ketiganya, baik Rafi dan juga kadas yang juga berada di sana lantas langsung mengernyit melihat tingkah Alex yang seperti itu. Mereka berdua benar-benar aneh dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Alex, membuat Rafi yang menyadari akan hal tersebut lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alex dan membisikkannya sesuatu.
"Apakah ada sesuatu Pak? Mengapa anda senyum-senyum sendiri?" ucap Rafi dengan nada yang berbisik.
Mendengar suara bisikan yang berasal dari Rafi saat itu, tentu saja langsung membuyarkan lamunannya dengan seketika. Sambil berdehem mencoba untuk mencairkan suasana Alex terlihat memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celananya, kemudian kembali melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang tegap seakan tidak terjadi apa-apa.
"Pak Alex.. Tunggu Pak..." ucap Rafi dengan raut wajah kebingungan.
Sedangkan Kades yang melihat kepergian dan juga mendengar teriakan dari Rafi barusan, hanya menatap keduanya dengan tatapan yang mengernyit. Namun detik berikutnya mengikuti langkah kaki Alex tanpa bertanya lebih lanjut akan apa yang terjadi kepadanya barusan.
***
Kediaman Arina
Caramel yang melihat kedatangan Ashraf barusan, tentu saja langsung senang bukan main. Tanpa memperdulikan beberapa hal lainnya lagi, Caramel nampak berlarian menuju ke arah di mana Ashraf berada saat ini. Dengan raut wajah yang gembira dan tangan yang terbuka dengan lebar, Caramel terlihat berlarian ke ara Ashraf sambil terus memanggilnya Papa Beluang.
__ADS_1
"Papa Beluang... Papa Beluang..." teriak Caramel yang lantas membuat Ashraf berjongkok dan berusaha menangkap tubuh Caramel saat itu.
Dengan tertawa kecil Caramel nampak langsung meloncat dan mendekap tubuh Ashraf dengan hangat saat itu. Membuat Ashraf yang mendapati hal tersebut, lantas langsung membawa tubuh Caramel ke dalam pangkuannya sambil mencubit gemas hidung Caramel saat itu. Ashraf bahkan nampak mencium pipi Caramel beberapa kali saat itu.
"Apa kamu merindukan Papa?" ucap Ashraf sambil tersenyum dengan simpul ke arah Caramel saat itu.
"Tentu saja, Cala bahkan tidak bisa tidul semalam. Cala benal-benal melindukan tubuh besal Papa Beluang." ucap Caramel mulai menceritakan segalanya, membuat Ashraf lantas tersenyum ketika mendengarnya.
Sedangkan Alice yang melihat segala Interaksi yang terjadi di antara keduanya, lantas hanya bisa terdiam di tempatnya saat itu. Entah apa yang saat ini tengah memenuhi kepalanya. Namun yang jelas Caramel masih butuh figur seorang Ayah dan Ashraf bisa memenuhi itu. Helaan napas terdengar berhembus dengan jelas dari mulutnya saat itu, membuat hati Alice terasa semakin canggung saat itu.
"Apa keputusan ku sudah benar? Bagaimana jika aku salah dalam mengambil langkah? Apakah aku akan kembali menyesali segalanya?" ucap Alice dalam hati sambil mulai menetap ke arah Ashraf dan juga Caramel yang nampak sedang berbincang saat ini.
"Hai Al, apa aku mengganggu kebersamaan kalian? Aku benar-benar tidak bisa menahan rinduku yang teramat kepada Caramel maupun juga dirimu, sehingga pada akhirnya membuat ku memutuskan jika aku akan menyusul mu kemari." ucap Ashraf sambil tersenyum dengan simpul ketika mendapati hal tersebut.
Mendengar ajakan dari Alice barusan, lantas membuat keduanya mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kediaman Arina saat itu. Ashraf terlihat mulai mengambil langkah kaki yang besar sambil membawa tubuh Caramel di gendongannya saat itu.
"Apakah kamu sudah makan? Ibu tadi memasak menu favorit ku." ucap Alice sambil membawa langkah kakinya masuk ke dalam, diikuti dengan Ashraf dan juga Caramel saat itu.
"Boleh, setidaknya aku bisa beristirahat beberapa menit sebelum pada akhirnya kita pulang nanti." ucap Ashraf sambil mencium dengan gemas pipi tembam milik Caramel.
"Baiklah, Oh ya.. Tumben bukan pak Cokro yang datang dan menjemput ku? Mengapa kamu datang jauh-jauh seorang diri? Bukankah melelahkan menyetir sendiri kemari?" ucap Alice kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
__ADS_1
"Tidak juga, aku bahkan sengaja datang ke sini seorang diri sekalian untuk merefresh otak ku kembali dari penatnya pekerjaan yang aku kerjakan belakangan ini. Lagi pula aku sudah lama tidak bertemu dengan Ibumu." ucap Ashraf kemudian yang lantas membuat Alice hanya manggut-manggut tanda mengerti.
Setelah mengatakan hal tersebut Ashraf nampak mendudukkan Caramel pada kursi yang berada meja makan, kemudian mengambil duduk tepat di sebelah Caramel saat itu.
"Baiklah, jika begitu sebaiknya kalian makan yang banyak dan simpan tenaga kalian untuk perjalanan yang jauh sebentar lagi." ucap Alice kemudian sambil mulai membuka piring untuk keduanya.
"Hole.. Kita pulang dengan Papa Beluang..." teriak Caramel yang lantas membuat tawa kecil terdengar menggema di sana.
***
Sementara itu di ruangannya, Kafin terlihat tengah sibuk menyelesaikan beberapa pekerjaan dengan raut wajah yang sama sekali tidak sedap dipandang. Pikiran Kafin saat ini benar-benar kacau memikirkan segala hal yang terjadi selama ini, tidak hanya hubungannya bersama dengan Belinda dan juga Altair yang semakin menjauh. Pikiran Kafin saat ini juga tertuju kepada Ashraf dan juga Alice yang nampak semakin dekat.
Kafin yang kesal akan segala hal yang menimpa dirinya, lantas terlihat melempar pulpen yang semula berada di tangannya ke sembarang arah saat itu.
"Arg mengapa aku sama sekali tidak bisa fokus sih?" ucap Kafin dengan raut wajah yang di tekuk saat itu.
Di saat perasaan kacau memenuhi hatinya saat itu, Kafin terlihat mengusap raut wajahnya dengan kasar. Sampai kemudian suara yang berasal dari notifikasi pada ponsel miliknya, lantas langsung membuyarkan segala pemikiran Kafin saat itu. Sambil dengan gerakan yang malas, diambilnya ponsel miliknya dengan ogah-ogahan.
Kafin yang mendapati jika nama Alex tertera dengan jelas pada jendela layar ponselnya, lantas langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung. Ini adalah pertama kalinya Alex mengirim pesan setelah bertahun-tahun lamanya keduanya bermusuhan. Entah apa yang menjadikan Alex tiba-tiba mengirim pesan singkat kepadanya, membuat Kafin yang penasaran lantas langsung membuka isi pesan tersebut.
"Apa-apaan ini!"
__ADS_1
Bersambung