
"Aku bertemu dengan Bianca tadi dan seperti perkataan mu ada yang aneh dengannya!" ucap Cicil yang tentu saja langsung membuat Alex menatap ke arahnya dengan seketika.
Mendengar hal tersebut tentu saja langsung membuat Alex mematikan puntung rokoknya ke asbak kemudian menatap ke arah Cicil dengan raut wajah yang serius. Cicil yang melihat hal tersebut tentu saja langsung terdiam seketika. Sebuah nama yang selalu menjadi bayang-bayang di dalam rumah tangganya selama ini, membuat Cicil begitu membenci Bianca karena selalu bisa mengambil perhatian Alex bagaimana dan dimanapun ia berada.
Meski setelah kepergiannya sekalipun Alex tetap saja terus memikirkannya.
"Apa yang kamu dapatkan darinya, apakah ia benar-benar Bianca?" ucap Alex kemudian dengan raut wajah yang penasaran begitu mendengar Cicil menjeda kalimatnya.
"Apakah Bianca semenarik itu hingga kamu terus saja memikirkan dirinya?" ucap Cicil kemudian yang langsung memutar bola matanya dengan jengah.
Mendengar hal tersebut lantas membuat Alex bangkit dari tempat duduknya dan langsung mengambil posisi berkacak pinggang. Alex benar-benar lelah terus-terusan memperdebatkan hal ini selama bertahun-tahun. Entah apa yang membuat Cicil terus saja memulai dan mengulang masalah ini, namun Alex benar-benar telah lelah menghadapinya.
"Jika kau tidak mau mengatakannya tak perlu membuka luka lama! Apa kau tidak lelah terus-terusan membahas hal ini? Come on Cil aku benar-benar capek! Jika kamu datang dan menghampiri ku hanya untuk membahas hal ini sebaiknya tak perlu mengajak ku bicara lagi!" ucap Alex dengan nada yang kesal sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Cicil seorang diri di area kolam renang.
Cicil yang mendengar segala perkataan juga kekesalan yang di katakan oleh Alex barusan, hanya menatap ke arah punggung suaminya yang nampak berjalan semakin jauh meninggalkannya. Diusapnya rambut miliknya dengan kasar ke arah belakang kemudian menghela napasnya dengan panjang.
"Selalu saja aku yang bersalah, limpahkan saja semua kesalahan kepadaku! Aku tahu kau begitu menggilai Bianca sehingga aku sama sekali tidak ada apa-apanya bagi mu!" pekik Cicil dengan raut wajah yang kesal ketika mendapati Alex yang lagi-lagi marah hanya karena membahas tentang Bianca.
***
Kediaman Kafin
Di sebuah ranjang dengan ukuran King size terlihat Alice tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Yang ia lakukan sedari tadi hanya berbalik badan ke arah kanan dan kiri secara berulang kali. Pikirannya saat ini benar-benar melayang membayangkan kembali segala tingkah aneh Kafin tadi siang.
__ADS_1
Entah mengapa Alice merasa ada yang aneh dengan Kafin saat itu. Alice menghela napasnya dengan panjang ketika ia tak kunjung mendapati sebuah jawaban apapun atas pemikirannya saat ini. Sampai kemudian sebuah tangan yang mendadak melingkar di area perutnya saat itu, lantas langsung mengejutkan Alice dengan seketika.
"Apa yang membuat mu begitu gelisah? Apakah ada sesuatu hem?" ucap Kafin sambil memejamkan matanya namun dengan posisi tubuh yang mendekat ke arah Alice.
Begitu dekatnya tubuh Kafin saat ini hingga membuat sengatan kecil di tubuh Alice mulai terasa. Entah mengapa di pegang seperti ini membuat tubuh Alice menjadi panas dingin tak karuan. Lidahnya mendadak keluh tak lagi bisa mengatakan sebuah kata apapun untuk menjawab pertanyaan dari Kafin saat itu.
Sedangkan Kafin yang tak mendengar jawaban apapun dari Alice tentu saja langsung membuka kelopak matanya dengan tatapan yang mengernyit. Di arahkannya tubuh Alice berbaring dengan satu tarikan tangannya, yang tentu saja langsung membuat Alice terkejut dengan seketika begitu mendapati hal tersebut.
Manik mata keduanya bertemu dalam sepersekian detik di keheningan malam yang menciptakan perasaan aneh dalam diri keduanya saat itu. Wajah Alice yang begitu mirip dengan Bianca, membuat Kafin terkadang lupa jika yang ada dihadapannya saat ini bukanlah Bianca melainkan Alice. Kafin selalu saja terhanyut akan perasaan kerinduan dan juga bersalah yang menggebu dalam dirinya, sehingga membuat Kafin melupakan sebuah fakta jika Alice bukanlah Bianca, keduanya adalah orang yang berbeda.
Alice yang sadar ini sudah mulai kelewatan, lantas membuatnya mulai berdehem dan membuyarkan segala lamunan Kafin saat itu.
"Ehem mas.. Apa yang sedang kau pikirkan saat ini? Bisakah kamu untuk tidak menatap ku seperti ini?" ucap Alice dengan nada yang terdengar begitu ragu.
Entah apa yang ada di pikirannya saat ini yang jelas Alice hanya terkejut akan apa yang baru saja di lakukan oleh Kafin kepadanya. Kafin yang mendapati hal tersebut tentu saja ingin menggoda Alice dengan mencium bibirnya, namun terhenti dan beralih mendekat tepat ke arah telinga Alice untuk membisikkannya sesuatu.
"Jika kamu berkenan, bolehkah aku melakukannya malam ini?" ucap Kafin dengan napas yang begitu lembut menerpa kulit telinga Alice dan menimbulkan gelayar aneh dalam dirinya, membuat Alice perlahan mulai terhanyut ke dalam sebuah keindahan dunia tanpa sadar akan apa yang baru saja di minta oleh Kafin saat ini.
"Kediaman mu aku anggap sebagai lampu hijau untuk ku Al..." ucap Kafin kembali dengan nada yang lirih.
Setelah mengatakan hal tersebut tanpa menyianyiakan kesempatannya, Kafin mulai mel***t bibir ranum milik Alice dengan perlahan seakan mulai membuka jalan masuk untuknya secara perlahan. Alice yang begitu terbuai akan permainan Kafin yang begitu lembut, lantas membalik keadaan dan bertukar posisi dengan Alice yang kini menjadi pemandunya.
Kafin yang merasa permainannya bagai gayung yang di sambut oleh Alice, lantas semakin mempercepat segalanya dan mulai beralih membuka baju tidur Alice satu persatu sambil mulai bermain di antara dua gunung kembar milik Alice dengan gerakan yang sensual.
__ADS_1
Suara yang di timbulkan oleh Alice benar-benar terdengar begitu indah dan juga memabukkan, membuat Kafin yang bersiap untuk memulai penyatuan, lantas tanpa sadar melakukannya dengan terburu-buru dan langsung membuat Alice sedikit menjerit karena merasakan sakit di bagian intinya.
Kafin yang menyadari akan hal tersebut lantas mengusap lembut rambut Alice sambil mencoba untuk membuatnya kembali rileks.
"Aku minta maaf Al aku terlalu terburu-buru..." ucap Kafin sambil mulai mengatur ritmenya secara perlahan dan kembali membawa Alice pada ketenangan.
.
.
.
.
.
Pagi harinya keduanya benar-benar langsung tepar setelah melakukan beberapa ronde dengan penuh semangat. Keduanya yang sudah mulai lelah lantas nampak menghentikan permainan mereka pagi itu. Dikecupnya puncak kepala Alice cukup lama kemudian ikut berbaring di sebelah Alice, membuat Alice langsung memeluk dan tidur tepat di area dada bidan milik Kafin saat itu.
"Terima kasih banyak Bianca, aku mencintaimu!" ucap Kafin tanpa sadar sambil mengecup puncak kepala Alice saat itu.
"Bianca?"
Bersambung
__ADS_1