
"Jangan seperti ini Al, jika kamu marah katakan saja kepada ku.. Jangan seperti ini dan membuat ku semakin merasa bersalah!" ucap Kafin kemudian yang lantas membuat langkah kaki Alice terhenti seketika.
Alice yang tadinya hendak melupakan segalanya dan bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa, mendengar perkataan dari Kafin barusan lantas membuat Alice kembali teringat akan kejadian tadi pagi.
"Maksud mu soal ini? Sudahlah lagi pula kamu hanya mengigau, bukan? Hanya saja aku mohon kepadamu jangan memanggil ku dengan nama Bianca. Entah itu panggilan kecil ku atau apa, namun anehnya aku selalu merasa tidak nyaman ketika semua orang memanggil ku dengan nama itu." ucap Alice dengan nada yang berusaha senormal mungkin sambil menunjuk ke area pipinya yang masih memerah dan terlihat jelas bekas tangan di sana.
Mendapati bekas memerah pada pipi Alice masih terlihat dengan jelas, membuat Kafin langsung bergerak mendekat ke arah Alice dan berusaha untuk melihat kondisi pipi Alice saat itu.
"Aku benar-benar minta maaf Al, apakah rasanya sangat sakit? Mau aku panggilkan dokter? Apakah kamu sudah mengompresnya tadi? Jangan di biarkan seperti ini nanti bisa membekas." ucap Kafin dengan nada yang khawatir ketika melihat bekas tangannya terlihat dengan jelas di pipi Alice saat itu.
Melihat raut wajah khawatir yang di tunjukkan oleh Kafin benar-benar membuat Alice langsung luluh seketika. Terserah jika beberapa orang menganggap Alice begitu bodoh atau apa. Hanya saja bagi Alice, ketenangan yang selalu ia dapatkan dari sosok seorang Kafin selama ini, tak akan pernah bisa terhapus hanya karna kesalahan kecil seperti ini.
Alice tersenyum dengan simpul sambil menurunkan secara perlahan telapak tangan Kafin yang sedang mengusap dengan lembut area pipinya yang memar.
"Tak perlu khawatir, aku yakin nanti juga sudah mendingan. Lebih baik kamu segera sarapan, bukankah kamu harus pergi ke kantor?" ucap Alice sambil mulai menarik tangan Kafin agar mengikuti langkah kakinya dan mengambil duduk di area meja makan.
Hanya saja Kafin yang di tarik bukannya langsung duduk, ia malah mengarahkan Alice untuk duduk di kursi meja makan. Membuat Alice yang mendapati hal tersebut, tentu saja langsung mengernyit sambil bertanya-tanya apa yang hendak dilakukan oleh Kafin saat ini.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu nanti bisa telat pergi ke kantor..." ucap Alice dengan raut wajah yang kebingungan.
"Tak perlu khawatir akan masalah kantor, aku bahkan bosnya di sana... Ada dan tidak adanya aku, perusahaan akan tetap berjalan hanya dengan komando dari ku, kamu mengerti? Jadi sekarang yang perlu kamu lakukan hanya duduk dengan tenang dan jangan pergi ke mana-mana, oke?" ucap Kafin sambil mulai mengambil langkah ke arah dapur dan mengambil sesuatu di sana.
.
.
__ADS_1
.
.
Beberapa menit masuk ke dalam dapur, saat ini Kafin terlihat keluar dari area dapur sambil membawa satu box es batu dan sebuah handuk kecil. Membuat Alice yang melihat hal tersebut lantas langsung mengernyit dengan seketika, seakan bertanya-tanya apa yang akan dilakukan oleh Kafin saat ini.
"Apa yang mau kamu lakukan dengan itu?" ucap Alice bertanya-tanya.
Mendengar pertanyaan dari Alice barusan, lantas membuat Kafin tersenyum dengan simpul. Sambil membalut beberapa es batu kecil dengan handuk yang ia bawa, Kafin kemudian mulai mengarahkannya ke arah pipi milik Alice saat itu.
"Diam dan jangan bergerak.." ucap Kafin sambil mulai mendekat ke arah wajah Alice, membuat Alice langsung membeku dengan seketika.
Nyes...
Hawa dingin terasa begitu menyeruak menyentuh tubuhnya, tidak hanya area pipinya saja bahkan hatinya yang terus saja meleleh akan setiap perlakuan kecil yang di berikan oleh Kafin kepadanya. Alice terpaku di tempatnya ketika lagi dan lagi merasakan perasaan yang berdebar di hatinya saat ini.
Hembusan napas Kafin terasa begitu hangat menerpa area sensitif Alice meski hawa dingin yang terasa akibat es batu tersebut masih terasa. Sepertinya hawa panas mengalahkan rasa dingin yang menerpa kulit area pipinya saat itu.
"Apa ini? Oh astaga pikiran ku benar-benar kotor!" ucap Alice dalam hati sambil mulai menutup kelopak matanya dengan spontan.
Mendapati hal tersebut membuat Kafin lantas tersenyum dengan simpul. Kafin jelas tahu alasan kelopak mata Alice mendadak menutup dengan sempurna, membuat seulas senyum terlihat mengembang dengan jelas di raut wajahnya saat itu.
"Apa kamu ingin melanjutkan ronde yang kemarin sempat tertunda?" ucap Kafin dengan nada berbisik tepat di telinga sebelah kanan Alice, yang tentu saja langsung membuat kelopak mata Alice terbuka dengan seketika begitu mendengar bisikan dari Kafin barusan.
Alice yang terkejut tentu saja langsung bangkit dari tempat duduknya sambil menatap aneh ke arah Kafin, membuat Kafin langsung menahan tawa kecilnya agar tidak keluar ketika melihat ekspresi raut wajah yang ditunjukkan oleh Alice saat ini.
__ADS_1
"Aku belum mandi.. Aku pergi dulu..." ucap Alice dengan raut wajah yang memerah kemudian berlalu pergi dari area meja makan.
Hanya saja sebuah panggilan yang berasal dari Kafin, lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
"Em Al.. Kamar mandi ada di kamar utama? Jika kamu pergi ke sana kamu tidak akan menemukan kamar mandi karena di sana hanya ada kompor dan juga peralatan masak lainnya." ucap Kafin sambil menahan tawanya ketika melihat Alice malah berjalan menuju ke arah dapur.
"Oh aku ingin minum sebentar, tidak-tidak aku langsung mandi saja..." ucap Alice kemudian berbalik arah dan menuju ke lantai atas dengan langkah kaki yang terburu-buru.
"Dia benar-benar lucu..." ucap Kafin sambil menatap kepergian Alice saat ini.
***
SJ Company
Sore harinya keadaan di perusahaan keluarga Sanjaya benar-benar kacau balau. Beberapa telpon yang berasal dari klien mereka nampak terus terdengar menggema di ruangan tersebut, membuat semua karyawan lantas kalang kabut ketika mendapati hal tersebut.
Disaat semua karyawan tengah sibuk menerima telpon yang terus terdengar tanpa henti. Rafi nampak melangkahkan kakinya memasuki ruangan Alex, dimana Alex tengah berdiri sambil berkacak pinggang menatap lurus ke arah tembok bercat warna putih di ruangannya.
"Pak apa yang harus kita lakukan sekarang?" ucap Rafi begitu melihat Alex yang hanya terdiam tanpa melakukan apapun saat ini.
"Diam dan jangan berisik!" ucap Alex dengan nada yang dingin.
"Tapi semua orang sedang..." ucap Rafi lagi namun langsung terhenti ketika mendengar suara bentakan di sertai telpon duduk yang melayang dan hampir mengenainya.
"Sudah ku bilang untuk diam!"
__ADS_1
Prank... Bruk...
Bersambung