Move

Move
Berhenti memanggil ku Papa


__ADS_3

Altair yang saat itu tidak sabaran hendak mengetahui hasil dari pembicaraan Alice tentang pertandingan sepak bolanya, lantas mulai melangkahkan kakinya hendak menyusul Alice di ruangan Kafin.


Dengan seulas senyum yang mengembang Altair mulai membawa langkah kakinya menuju ke ruangan Kafin. Hanya saja ketika langkah kaki Altair sampai di ambang pintu, sebuah perkataan Kafin yang menohok lantas membuat langkah kaki Altair terhenti dengan seketika.


"Sekali ku bilang tidak ya tetap tidak..." ucap Kafin lagi dengan nada yang datar.


"Kaf..." panggil Alice yang tak mengerti akan perubahan sikap Kafin saat ini.


Mendengar pembicaraan keduanya lantas membuat langkah kaki Altair terhenti dengan seketika di ambang pintu. Altair sudah menduga hal ini jika Kafin tidak akan pernah menyetujuinya. Sejak Altair kecil Kafin tidak pernah menyukai jika Altair bermain sepak bola dan selalu marah tanpa alasan yang jelas. Itulah sebabnya Altair sama sekali tak berekspektasi terlalu tinggi akan hal ini karena ia tahu jika Kafin tidak akan pernah mengijinkannya.


"Aku bahkan sudah tahu jika akhirnya akan seperti ini, apa yang aku harapkan lagi?" ucap Altair dengan raut wajah yang sendu menatap lurus ke arah Kafin dan juga Alice yang tengah berdebat saat ini.


**


Alice yang tidak bisa membujuk Kafin saat itu pada akhirnya memilih untuk pergi dari ruangan Kafin dan hendak bermaksud membujuknya nanti. Namun sayangnya ketika Alice hendak berlalu pergi dari sana, ia malah mendapati Altair tengah berdiri di ambang pintu sambil menatap sendu ke arahnya saat ini.


"Alta!" pekik Alice kemudian yang langsung membuat Kafin menoleh dengan seketika ke arah sumber suara.


Alice yang melihat Altair sepertinya telah menguping semua pembicaraannya bersama dengan Kafin barusan. Lantas mulai mengambil langkah kaki yang bergegas mendekat ke arah dimana Altair berada saat ini.


"Alta mengapa ada di sini? Apakah kamu butuh sesuatu?" tanya Alice kemudian seakan mencoba untuk menepis pikiran buruk di kepalanya jika Altair telah mendengar segalanya sedari tadi.


Mendengar hal tersebut membuat Altair hanya menggeleng dengan pelan kemudian tersenyum tipis.

__ADS_1


"Tidak ada Bun.. Tadi Alta hanya mampir karena melihat pintu ruangan kerja Ayah terbuka dengan lebar. Maaf jika Alta mengganggu pembicaraan kalian berdua." ucap Altair kemudian sambil berusaha untuk tetap tersenyum.


"Tidak perlu minta maaf, Alta tidak salah di sini. Ayo Bunda antar Alta ke kamar..." ucap Alice kemudian sambil mengajak Altair untuk beranjak pergi dari sana meninggalkan Kafin seorang diri di ruangannya.


Sedangkan Kafin yang melihat kepergian keduanya barusan hanya bisa mengusap raut wajahnya dengan kasar. Kafin benar-benar menyesal ketika melihat raut wajah sendu milik Altair barusan, namun ia sama sekali tidak menginginkan Altair bergabung dalam tim tersebut.


Sebuah kejadian di masa lalu benar-benar membuat Kafin membenci tentang sepak bola. Baginya sepak bola adalah sebuah hal yang telah merenggut segalanya dari dirinya. Mimpi, orang tua, dan juga segala angan-angannya mendadak lenyap begitu saja tanpa ada satu pun yang tersisa.


Nyatanya sebuah kemenangan yang ia dapatkan dahulu tak bisa menyelamatkan segalanya dalam hidupnya saat itu.


"Argggg benar-benar menyebalkan! Mengapa harus seperti ini? Bagaimana bisa aku membiarkan Altair bermain jika aku takut Altair mengalami hal yang sama seperti diriku waktu itu. Sial... Mengapa harus sekarang!" pekik Kafin dengan nada yang kesal sambil menatap ke arah ambang pintu, dimana keduanya sudah tidak lagi terlihat di sana.


**


Setelah segala halnya menjadi berantakan hari ini, Alex nampak melangkahkan kakinya masuk ke dalam kediamannya dengan langkah kaki yang lesu. Entah apa lagi yang terjadi keesokan harinya, namun yang jelas setidaknya hari ini ia sudah berhasil melewati segalanya. Tanpa tahu esok hari akan ada badai apalagi menghantam dirinya karena ulah Kafin yang terang-terangan mengibarkan bendera perang kepadanya.


Tak tak tak


Derap langkah kaki Alex yang terdengar memasuki area Mansion, lantas membuat Cicil yang memang telah menunggu kedatangan Alex sedari tadi langsung bangkit dari tempat duduknya dan berlarian menuju ke arah Alex.


"Apa benar Kafin menarik semua kerjasamanya? Apa semua pemberitaan di media benar adanya? Tidak mungkin ini terjadi bukan? Lalu bagaimana dengan keadaan perusahaan? Apa kamu baik-baik saja?" ucap Cicil langsung mencecar berbagai pertanyaan kepada Alex, membuat helaan napas kasar lantas terdengar berhembus dari mulutnya saat itu.


"Kurangi menonton berita mulai hari ini, jangan ganggu aku dan tanyakan apapun baik masalah perusahaan atau yang lainnya. Aku benar-benar lelah hari ini, jadi mari kita akhiri pembicaraan ini cukup sampai di sini." ucap Alex dengan nada yang lesu sambil melepaskan cengkraman tangan Cicil yang melingkar di lengannya saat itu.

__ADS_1


Mendapati tingkah Alex yang terkesan menghindar, lantas membuat Cicil menatapnya dengan tatapan yang kesal. Bagaimana bisa Alex bersantai ketika semua anggota arisannya tengah membahas topik yang sama tentang perusahaannya tadi.


"Tidak bisa! Aku harus segera meluruskan segalanya, sebelum semua halnya menjadi tak karuan..." ucap Cicil sambil mulai mengambil langkah kaki besar menyusul kepergian Alex barusan.


"Tunggu sebentar! Apa salahnya sih berbagi kepada istrimu? Aku bahkan juga bisa dan layak sebagai pendengar, bagaimana bisa kamu melewati ku seperti ini?" ucap Cicil yang mulai kesal akan tingkah Alex yang tak pernah menceritakan segala sesuatunya kepada dirinya, seakan rasanya seperti Cicil tak pernah dianggap ada oleh Alex di rumah ini.


Mendengar perkataan dari Cicil barusan tentu saja langsung membuat Alex menghentikan langkah kakinya dengan seketika. Sambil menahan amarah yang memuncak di dadanya, Alex nampak mulai berbalik badan dan menatap ke arah dimana Cicil berada.


"Bukankah sudah ku bilang padamu untuk diam dan tidak bertanya? Apa kau sama sekali tidak mengerti bahasa manusia ha?" pekik Alex dengan nada yang meninggi, membuat Cicil langsung menelan salivanya dengan kasar.


Cicil yang jelas tahu jika Alex tengah marah saat ini kemudian mulai melangkahkan kakinya dengan perlahan mendekat ke arah dimana Alex berada sambil menarik napasnya dalam-dalam.


"Aku sudah muak dengan tingkah mu yang selalu introvert itu.. Aku bahkan istrimu, apa susahnya untuk berbagi sih? Ini sudah beberapa tahun Lex, tapi kamu selalu saja seperti ini dan tidak pernah menganggap ku ada!" pekik Cicil yang mulai lelah menghadapi tingkah Alex yang selalu saja seperti ini.


"Harusnya kau itu sadar diri dan tahu mengapa aku memperlakukan mu seperti ini.. Kau bahkan.." ucap Alex dengan nada yang meninggi namun terhenti dengan seketika disaat mendengar suara Tia dari arah tangga.


"Mama.. Papa..." ucap Tia yang tanpa sengaja mendengar pertengkaran keduanya, yang lantas membuat Alex dan juga Cicil menoleh ke arah sumber suara


"Kalian berdua sama saja, ajari anak mu untuk berhenti memanggil ku Papa karena aku bukan lah Papa kandungnya!" pekik Alex dengan nada yang kesal ketika mendapati Tia lagi dan lagi memanggilnya dengan sebutan Papa.


"Lex.."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2