
Area dalam mobil
Setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Alice, membuat Kafin memutuskan untuk mengajak Alice pulang terlebih dahulu dan membahasnya nanti. Alice yang memang ingin mendengar jawabannya secara langsung dari Kafin, pada akhirnya hanya bisa menuruti segala perkataan Kafin tanpa membantahnya sama sekali.
Keheningan mendadak terjadi diantara keduanya ketika Alice dan juga Kafin baru saja memasuki area mobil miliknya. Kevin menarik nafasnya dalam-dalam seakan berusaha untuk berpikir, apa yang hendak ia jelaskan kepada Alice jika Alice benar-benar telah mengetahui segalanya.
Kafin nampak memutar otaknya seakan berusaha untuk mencari jawaban yang tepat sekaligus untuk mengetahui, apakah Alice benar-benar sudah mengingat segalanya atau memang ia hanya mencoba untuk memancing Kafin saja.
Kafin menghela napasnya kembali dengan panjang, membuat Alice yang tak kunjung mendapat jawaban dari Kafin akan pertanyaannya kemudian mulai menatap ke arah ke Kafin dengan tatapan yang intens dan juga menelisik.
"Sebenarnya ada sesuatu yang..." ucap Kafin namun terhenti ketika perkataannya terpotong oleh perkataan Alice saat ini.
"Apa aku pernah mengalami sebuah insiden kecelakaan?" ucap Alice langsung memotong perkataan Kafin sebelum ia sempat menjelaskannya.
Mendengar pertanyaan tersebut tentu saja langsung membuat Kafin mengernyit dengan seketika. Jika saat ini Alice menanyakan tentang sebuah insiden kecelakaan, itu artinya Alice belum mengingat sesuatu apapun tentang dirinya. Lalu mengapa Alice mendadak mempertanyakan hal tersebut kepadanya?
"Ada apa ini Al? Mengapa tiba-tiba kamu menanyakan hal ini?" tanya Kafin dengan raut wajah yang penasaran.
"Aku juga tidak tahu, mengapa? Hanya saja aku terus teringat akan sebuah insiden yang aku sendiri tidak tahu seperti apa insiden tersebut, apakah aku benar-benar ada di dalamnya atau tidak? Namun ketika insiden tersebut memenuhi kepalaku, kepalaku selalu saja berdenyut dengan hebat dan sakit. Aku mencoba untuk berusaha mengingatnya namun selalu saja tidak bisa dan berakhir dengan diri ku yang langsung sesak atau bahkan pingsan. Bisakah kamu menjelaskannya untuk ku?" ucap Alice dengan raut wajah yang mulai frustasi sambil memegang area kepalanya yang kembali berdenyut saat ini.
Kafin yang melihat Alice mulai terlihat frustasi lantas memegangi kedua tangan Alice yang saat ini berada di area kepalanya. Membuat Alice yang mendapati hal tersebut tentu saja langsung menatap ke arah Kafin dengan tatapan yang intens.
"Dengarkan aku... tenangkan dirimu dahulu, jika kamu seperti ini aku tidak bisa menceritakan segalanya. Tarik napas secara perlahan kemudian buang... Cobalah untuk tenang dan kendalikan dirimu Al." ucap Kafin kemudian yang lantas diikuti dengan tarikan napas Alice sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Kafin barusan.
Setelah beberapa menit mencoba untuk mengatur napasnya, Kafin yang melihat Alice sudah bisa lebih tenang dan mengendalikan dirinya lantas mulai bercerita dan membuka suaranya.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
Alice terdiam setelah mendengar sebuah cerita dari Kafin barusan. Memang terdengar sedikit aneh namun apa yang diceritakan oleh Kafin masih nyambung dengan apa yang dilihat dan terus berputar di kepalanya sedari kemarin. Ditatapnya Kafin dengan tatapan yang intens seakan mencoba untuk mencari kebenaran dalam mata Pria tersebut.
Kafin memang menceritakan segalanya namun tentu bukan segalanya. Alice tidak pernah tahu jika yang Kafin ceritakan adalah tragedi kecelakaan yang terjadi kepadanya dan juga Bianca satu tahun yang lalu. Kafin sengaja melakukan hal tersebut sekaligus untuk mengetes seberapa jauh ingatan Alice tentang kecelakaan itu. Dan ternyata tidak ada satupun yang Alice ingat selain sebuah tragedi kecelakaan.
Sedangkan Alice yang mendengar segala ceritanya hanya bisa terdiam tanpa bisa berkomentar karena memang apa yang diceritakan oleh Kafin sama sekali tak bisa memancing sebuah ingatan tentang kejadian tersebut. Membuat Alice lantas mengernyit, entah mengapa Alice lebih bereaksi ketika ia melihat langsung sebuah kecelakaan atau bahkan korban kecelakaan, daripada mendengar segala cerita keseluruhan tentang apa yang terjadi kepadanya di masa lalu.
"Aneh mengapa aku sama sekali tidak ada reaksi? Bukankah aku harusnya mengingat kejadian tersebut barang sedetik saja? Mengapa aku sama sekali tidak bisa mengingatnya? Ada apa ini sebenarnya?" ucap Alice dalam hati seakan bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya terjadi, mana yang nyata dan mana yang hanya rekayasa semata.
***
Malam harinya
Setelah makan malam selesai, Alice terlihat menemani Altair dan dan juga Belinda untuk mengerjakan pekerjaan rumah mereka. Dengan telaten Alice mulai mengajari beberapa hal yang di tanyakan oleh keduanya sebisanya. Entah mengapa Alice seperti mahir dalam pelajaran Bahasa Indonesia, membuat ia lantas langsung mengernyit ketika baru menyadari akan hal tersebut.
__ADS_1
"Apa aku dulu adalah lulusan Sastra atau semacamnya? Mengapa aku lancar sekali jika dalam urusan ini. Entahlah mungkin karena ini hanyalah pelajaran anak-anak jadi aku merasa mudah untuk mengerjakannya." ucap Alice dalam hati sambil terus menatap ke arah buku panduan milik Belinda dan juga Altair.
Disaat Alice, Belinda dan juga Altair tengah sibuk belajar dan mengerjakan tugas mereka di area ruang tengah. Lain halnya dengan Kafin yang terlihat mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah sebuah Almari dimana biasanya ia menyimpan obat milik Alice di sana.
Kafin yang melihat ketiganya tengah sibuk dan fokus belajar, tanpa keduanya sadari Kafin nampak merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
Dari saku celananya Kafin terlihat mengeluarkan beberapa jenis obat-obatan yang hampir mirip dengan milik Alice namun tentu saja tidaklah sama.
Tanpa sepengetahuan Alice yang saat ini tengah sibuk mengajari Belinda juga Altair di ruang tengah, Kafin mulai menukar semua obat tersebut dengan obat yang tadi berasal dari saku celananya. Entah apa yang sedang di rencanakan oleh Kafin saat ini, namun yang jelas bukanlah sesuatu yang buruk karena Kafin juga tidak ingin menyakiti Alice sedikitpun.
**
Area ruang tengah
Dari arah tak jauh dimana ketiganya berada, Kafin terlihat mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah ketiganya untuk ikut bergabung dengan mereka. Sambil meletakkan satu gelas air putih dan juga beberapa butir obat yang akan diminum oleh Alice di atas meja, Kafin mulai mencari tahu apa yang sedang ketiganya lakukan.
"Apakah kalian kesulitan mengerjakannya?" tanya Kafin sambil bergabung dengan ketiganya.
"Tidak ada Ayah, Bunda menjawab semua hal yang kami tidak bisa dengan begitu mudah, bukankah Bunda sangat keren Yah?" ucap Belinda dengan raut wajah yang sumringah.
"Tentu saja, jika Bunda kalian tidak hebat Ayah tidak akan mau dengannya..." ucap Kafin dengan nada yang menggoda membuat tawa kecil mulai terdengar di sana.
"Dasar..." ucap Alice sambil mengambil obat yang baru saja di letakkan oleh Kafin di meja dan mulai meminumnya dengan perlahan.
"Aku minta maaf Al, tapi ini harus aku lakukan agar kamu tetap bersama dengan ku dan juga anak-anak." ucap Kafin ketika mendapati Alice mulai meminum obatnya.
__ADS_1
Bersambung