
"Sudah ku bilang untuk diam!" pekik Alex dengan nada yang meninggi.
Prank... Bruk...
Suara telepon duduk yang dilempar dengan cukup keras membentur ke arah dinding tembok ruangan tersebut, membuat Rafi yang semula berbicara langsung terdiam dengan seketika. Raffi benar-benar terkejut akan tingkah Alex yang tiba-tiba melemparnya dengan telepon duduk barusan. Beruntung telpon duduk tersebut tidak mengenai dirinya dan hanya melewati sampingnya saja, sehingga ia bisa selamat dari serangan Alex barusan.
"Tanpa kau jelaskan sekalipun aku sudah mengetahui kondisinya, jadi stop untuk terus membuat kepalaku semakin merasa hampir pecah. Kau pikir aku tidak tahu ha? Si Kafin sialan itu benar-benar telah merusak segalanya! Argh bagaimana bisa dia menarik kerja samanya seperti ini? Dia pikir dia siapa?" pekik Alex dengan nada yang meninggi meluapkan kekesalannya yang sudah teramat.
Alex benar-benar kesal akan kenyataan tepat setelah Kafin pergi dari ruangannya, Kafin menarik semua kerjasamanya. Tidak hanya kerjasama yang terjadi di antara keduanya, namun juga kerjasama dengan beberapa klien yang dalam lingkup SJ Company. Hal tersebut benar-benar membuat Alex marah dan juga kesal, entah bagaimana bisa Kafin melakukan hal ini kepadanya Alex sendiri juga tidak mengerti sama sekali.
Sedangkan Rafi yang melihat kemarahan Alex begitu jelas saat ini, hanya bisa terdiam sambil menunduk. Berbicara sekalipun ia akan tetap salah, namun jika terus diam seperti ini ia juga akan tetap salah. Pada akhirnya Rafi memilih untuk pergi secara diam-diam dari ruangan Alex, setidaknya dengan begitu ia tidak akan menjadi sebuah pelampiasan kemarahan Alex.
Hanya saja ketika langkah kakinya tepat di ambang pintu ruangan tersebut, sebuah suara yang berasal dari Alex lantas langsung menghentikan langkah kaki Rafi dengan seketika.
"Mau pergi kemana kau?" pekik Alex yang lantas membuat Rafi langsung berbalik badan begitu mendengar pertanyaan tersebut.
"Saya hendak mengurus beberapa hal dengan klien, apakah ada sesuatu yang anda inginkan Pak?" ucap Rafi dengan nada serendah mungkin takut jika Alex akan kembali mengamuk.
"Tekan beberapa pemberitaan yang keluar di media tentang pemutusan kerja sama yang dilakukan oleh Kafin. Sementara ini beri penjelasan kepada klien kita dan minta mereka untuk tetap bertahan dan mempercayakan segalanya kepada perusahaan kita. Apakah kau bisa melakukan hal itu?" ucap Alex kemudian dengan nada yang lebih rendah kali ini.
"Tentu Pak, saya permisi..." ucap Rafi yang langsung mengerti perintah dari Alex barusan.
Setelah kepergian Rafi dari sana Alex nampak memijat pelipisnya dengan perlahan. Kepalanya benar-benar terasa berdenyut saat ini, namun nyatanya tak membuatnya menyerah sama sekali.Sampai kemudian sebuah suara dari deringan ponsel miliknya lantas mulai terdengar menggema di ruangan tersebut, yang lantas membuat Alex dnegan malas merogoh saku jasnya.
Tanpa melihat siapa yang tengah menelponnya saat ini, Alex menggeser icon berwarna hijau pada layar ponselnya begitu saja.
__ADS_1
"Halo" ucap Alex dengan nada yang ketus.
"Bagaimana Lex? Apa kamu sudah menyadari perbedaan kedudukan di antara kita berdua? Harusnya kamu diam dan jangan bertingkah! Aku menolong mu karena Ayah, tapi kau malah memutuskannya hanya karena rasa iri dengki yang ada di dalam hati mu. Karena kau Bianca bahkan...Ah sudahlah berbicara dengan orang seperti mu tidak akan nyambung sama sekali. Hari ini akan ku tunjukkan batasan yang tidak bisa kau lewati meski dirimu merangkak kembali kepada ku sekalipun. Kesalahan mu yang fatal benar-benar tidak bisa ku maafkan sama sekali." ucap Kafin dengan nada yang begitu terdengar dingin.
"Kau berani-beraninya...." ucap Alex namun terpotong ketika suara sambungan telpon yang terputus dari seberang sana, lantas menggema di telinga Alex saat ini.
Alex yang tahu dengan jelas apa maksud dari perkataan Kafin barusan, lantas menjadi semakin kesal. Ditendangnya kaki meja dengan cukup keras hingga bergerak beberapa senti dari posisinya, namun tak bisa menggulingkannya.
"Semuanya benar-benar berantakan! Argg Kafin kau sungguh menyebalkan!" teriak Alex dengan nada yang meninggi hingga membuat teriakannya menggema di ruangan kantornya saat itu.
***
Ruangan kerja Kafin di kediamannya
Tak tak tak
Sebuah suara derap langkah kaki lantas mulai terdengar menggema di ruangannya dan membuat Kafin langsung menoleh dengan seketika ke arah sumber suara.
"Alice?" ucap Kafin dengan tatapan yang mengernyit begitu mendapati Alice datang ke ruangannya dengan raut wajah yang serius.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepadamu!" ucap Alice kemudian.
Mendengar hal tersebut membuat Kafin langsung bangkit dari tempat duduknya kemudian menuntun Alice untuk duduk di sofa ruangannya. Berharap dengan begitu bisa membuat Alice sedikit lebih tenang dan bisa bercerita lebih santai.
"Apakah ada sesuatu? Apakah pipimu masih sakit? Kita bisa pergi ke Rumah sakit sekarang juga." ucap Kafin mencoba untuk menerka arah pembicaraan dari Alice saat ini.
__ADS_1
"Bukan itu yang ingin aku bicarakan kepadamu.. Jika untuk luka ini tak perlu khawatir karena aku yakin besok bekas memerahnya pasti sudah memudar." ucap Alice lagi yang lantas membuat Kafin semakin penasaran.
"Lalu apa?" tanya Kafin dengan raut wajah yang penasaran.
"Ada pertandingan sepak bola di sekolah Alta dan kebetulan Alta terpilih sebagai salah satu pemain yang mewakili sekolah untuk bertanding di..." ucap Alice mulai menjelaskan maksud dan tujuannya, namun mendadak terpotong ketika ia mendengar perkataan dari Kafin barusan.
"Tidak!" potong Kafin yang seakan tahu arah pembicaraan Alice saat ini.
"Tapi kamu bahkan belum mendengarkan penjelasan dari ku, setidaknya kamu harus mendengarnya sampai selesai baru boleh memberikan komentar." ucap Alice yang mulai tidak suka akan cara Kafin memotong pembicaraannya saat ini.
"Sekali ku bilang tidak ya tetap tidak..." ucap Kafin lagi dengan nada yang datar.
"Kaf..." panggil Alice yang tak mengerti akan perubahan sikap Kafin saat ini.
Sebuah bayangan kejadian di masa lalu mendadak terlintas begitu saja di kepala Kafin saat itu ketika mendengar perkataan dari Alice barusan. Membuat Kafin langsung bangkit dari posisinya dan memunggungi Alice saat itu.
"Jangan membahasnya saat ini Al, aku sama sekali tidak melarang Alta untuk mengikuti setiap acara. Namun untuk yang satu ini aku tidak bisa menyetujuinya. Sebaiknya kamu sampaikan kepada Alta sendiri atau aku yang akan menyampaikan langsung kepadanya." ucap Kafin dengan nada yang tegas membuat Alice langsung terkejut begitu mendapati perubahan Kafin yang tiba-tiba itu.
"Kaf setidaknya pikirkanlah dahulu, kamu..." ucap Alice namun lagi dan lagi kembali di potong oleh Kafin saat itu.
"Sebaiknya kamu tidur ini sudah malam, pembicaraan ini kita akhiri saja sampai di sini." ucap Kafin tanpa ingin di bantah sama sekali.
"Alta!" pekik Alice yang terkejut akan kehadiran Altair di ambang pintu saat ini.
Bersambung
__ADS_1