Move

Move
Kampanye besar-besaran


__ADS_3

"Siapa Ayah biologis dari Putrimu itu?" ucap Ibunya dengan tiba-tiba.


Mendapat pertanyaan secara mendadak seperti itu, tentu saja membuat Alice langsung terdiam dengan seketika. Entah apa yang akan Alice katakan kepada Ibunya, lagi pula sungguh tidak mungkin jika ia menceritakan segalanya dari awal.


"Ibu tidak perlu khawatirkan soal itu karena aku akan menjadi Ayah serta Ibu bagi anak ku." ucap Alice dengan nada penuh keyakinan saat itu, sambil mematikan kompor di depannya.


Mendengar hal tersebut lantas membuat Arina menghembuskan napasnya dengan kasar. Arina jelas tahu jika Alice telah melewati hari yang panjang. Soal Caramel, jika Alice memang tidak ingin mengatakannya maka Arina tidak akan mempertanyakannya secara lanjut. Cukup dengan Alice kembali saja Arina sudah begitu bahagia. Persoalan Caramel biarkan segalanya berjalan sesuai alur ceritanya.


Arina yang seakan tahu jika Alice telah melewati hari yang panjang, lantas terlihat mengusap pundak putrinya dengan lembut. Membuat Alice yang mendapat perlakuan tersebut tentu saja langsung mengernyit dengan tatapan yang bertanya-tanya.


"Jika kamu tidak mau bercerita, Ibu tidak akan memaksanya jalani kehidupan mu sesuka hatimu asalkan dalam hal yang positif. Ibu tahu kamu sudah melewati hari yang berat selama ini, jadi mari kita lewati hari-hari selanjutnya dengan penuh kebahagiaan." ucap Arina dengan nada yang lembut membuat Alice yang mendengar nasihat tersebut tentu saja langsung memeluk tubuh Arina dengan erat.


Kerinduan Alice selama bertahun-tahun kepada Ibunya akhirnya bisa terobati hari ini. Alice sangat-sangat bersyukur memiliki orang tua yang pengertian seperti Arina. Meski Alice tumbuh tanpa figur sosok seorang Ayah, nyatanya Arina berhasil mendidik dan juga merawat Alice hingga detik ini.


Hal inilah yang membuat Alice bercermin pada Arina dalam membesarkan Caramel putrinya. Hanya saja sayangnya ekspektasi tidaklah sesuai dengan kenyataannya. Disaat Alice jatuh dan juga terpuruk beberapa tahun yang lalu. Alice yang berusaha bangkit seorang diri nyatanya harus menerima uluran tangan dari Ashraf.


Kisahnya dan juga kisah Ibunya tentulah tidak sama, namun Alice akan berusaha sebaik mungkin untuk melakukan yang terbaik bagi Caramel.


Alice terlihat menarik napasnya dalam-dalam membicarakan masalah ini benar-benar membuatnya kembali teringat kepada Kafin. Membuat Alice kemudian perlahan-lahan terlihat mulai melepas pelukannya.


Ditatapnya Arina saat itu dengan tatapan yang intens kemudian mulai kembali membuka suaranya.


"Bu, bagaimana pendapat mu tentang Ashraf? Kami berdua sudah lama bersama dan Ashraf mengajak ku untuk menikah." ucap Alice pada akhirnya.


Sepertinya pilihan seperti ini tidak akan bisa jika diputuskan seorang diri. Membuat Alice pada akhirnya memutuskan untuk membaginya kepada Arina saat itu.

__ADS_1


"Ibu rasa Ashraf adalah orang yang baik, bukankah kalian sudah bersama sejak lama? Apa yang membuat mu begitu tidak yakin kepadanya? Apa karena Ayah kandung Caramel?" ucap Arina yang lantas membuat Alice mendengus dengan kesal.


Nyatanya Arina selalu saja mengerti akan isi hatinya, meski Alice mencoba untuk menutupinya sekalipun sayangnya hal tersebut tidaka akan berhasil kepada Arina.


"Ayolah Bu.. Mengapa Ibu selalu saja bisa membaca isi hati ku? Bukankah ini tidak adil?" ucap Alice yang merengek dengan nada merajuk membuat Arina langsung tertawa begitu mendengar perkataan dari Alice barusan.


"Benarkah? Kamu pikir kamu bisa berbohong dari Ibu?" ucap Arina dengan senyuman yang menggoda membuat Alice semakin merasa kesal karenanya.


Disaat keduanya tengah asyik menikmati quality time, sebuah panggilan yang berasal dari Caramel lantas membuat pembicaraan keduanya terhenti dengan seketika.


"Oma, Cala ingin lihat itu...." teriak Caramel dari arah depan, membuat Alice dan juga Arina yang mendengar hal tersebut lantas langsung saling pandang dengan seketika.


Mendapati panggilan dari cucunya lantas membuat Arina mulai beranjak hendak menghampiri cucunya, namun ketika langkah kakinya sampai di ambang pintu Arina terlihat menghentikan langkah kakinya saat itu.


"Ingatlah nak, semua keputusan itu ada di tangan mu. Ikuti saja kemana kata hatimu menunjukkan arahnya, Ibu yakin kata hati tidak akan pernah salah dalam menuntut Tuannya." ucap Arina dengan mengerlingkan kelopak matanya sebelum pada akhirnya benar-benar berlalu pergi dari sana.


"Kata hati... Kata hati... Yang benar saja, jika aku mengikuti kata hatiku.. Aku pasti akan berakhir dalam jeratan seorang Kafin Aksan Devendra. Aku benar-benar tidak ingin hidup dengan menjadi bayang-bayang mantan istrinya yang telah meninggal. Jikan Kafin memang menginginkan ku, ia harus belajar untuk melupakan mantan istrinya terlebih dahulu." ucap Alice dengan nada bicara yang angkuh kemudian kembali fokus untuk memasak.


.


.


.


Setelah menyelesaikan masakannya, Alice yang tidak kunjung mendapati suara Arina dan juga Caramel. Lantas mulai penasaran akan kemana perginya dua orang tersebut. Sambil meletakkan tudung saji di meja makan, Alice kemudian memutuskan untuk mencari keduanya ke luar Rumah.

__ADS_1


Suasana di luar Rumah saat itu begitu ramai akan beberapa orang yang berlalu lalang menuju ke arah balai desa. Alice yang memang tiba sore harinya sama sekali tidak mengetahui ada acara apa di Balai desa saat ini, hingga membuat orang-orang ramai berbondong-bondong menuju ke arah sana.


"Apa ada sebuah acara di Balai desa? Mengapa ramai sekali?" ucap Alice dalam hati sambil menatap ke arah beberapa orang yang lewat di halaman Rumahnya.


Alice yang tak ingin tenggelam dalam rasa penasaran yang mendera hatinya, lantas membuat Alice memutuskan untuk ikut menuju ke arah Balai desa dan melihat apa yang ada di sana.


Sebelum kepergiannya Alice nampak terlebih dahulu mengunci pintu Rumah, baru setelah mulai melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju ke arah Balai desa.


**


Balai desa


Disaat langkah kaki Alice sampai di sana, suasananya saat itu begitu ramai dengan warga desa yang mengerumuni area aula. Seperti layaknya sebuah tontonan riuh gemuruh warga desa nampak terdengar menggema di sana malam itu.


"No satu.. Nomor satu... Nomor satu... Nomor satu..."


Suara riuh para penduduk desa yang menyuarakan nomor satu secara berulang, lantas membuat Alice mengernyit ketika mendengar hal tersebut. Alice yang penasaran akan apa yang terjadi kemudian mulai menepuk pundak salah seorang warga desa di sana.


"Maaf Bu, ini sebenarnya ada apa ya? Kok ramai sekali?" ucap Alice dengan raut wajah yang penasaran.


"Ada kampanye besar-besaran yang di lakukan oleh calon Preseden dengan nomor urut satu, tidak hanya itu saja neng mereka juga menyuguhkan bazar dan bagi-bagi hadiah bagi para warga yang kurang mampu." ucap salah seorang warga desa tersebut.


"Memangnya siapa calon nomor urut pertama?" ucap Alice kemudian.


"Bapak Alex dan juga wakilnya pak Fatih." ucapnya lagi yang tentu saja membuat Alice terkejut karenanya.

__ADS_1


"Apa?"


Bersambung


__ADS_2