
Kamar utama
Pagi itu setelah melakukan beberapa ronde dalam semalaman, Kafin nampak mulai mengerjapkan kelopak matanya dengan perlahan. Seulas senyum nampak terlihat terbit dari wajah Alvaro ketika mengingat malam panasnya bersama dengan Alice semalam. Alice benar-benar sesuatu, Kafin bahkan tidak menyangka jika Alice begitu pandai dalam bermain olahraga panas seperti itu.
Sambil memegang area tengkuknya yang sedikit pegal, Kafin mulai terlihat bangkit dari tempat tidurnya. Ditatapnya area ranjang sebelahnya yang saat ini sudah kosong tanpa keberadaan Alice di sana. Namun ketika tatapan Kafin terhenti pada seprei berwarna putih yang melapisi ranjangnya, Kafin lantas terkejut ketika mendapati ada bercak noda darah di atas sprei. Kafin menelan salivanya dengan kasar disaat mengingat kejadian semalam dimana Alice yang sedikit berteriak ketika pusakanya mulai memasuki daerah intim milik Alice, begitu sempit dan terlihat sedikit terkejut membuat Kafin baru menyadari jika ternyata Alice masih perawan.
"Oh astaga apa yang aku lakukan? Aku tidak menyangka jika ia masih perawan mengingat bagaimana Alice mendominasi permainan semalam, mengapa aku tidak menyadarinya?" ucap Kafin yang seakan terkejut ketika mendapati fakta tersebut.
Kafin yang mendengar suara gemericik air berasal dari area kamar mandi, lantas hanya bisa menatap ke arah pintu kamar mandi dengan tatapan yang sendu. Kafin benar-benar menyesal atas apa yang telah ia lakukan kepada Alice saat itu.
Awalnya Kafin mengira bahwa Alice adalah perempuan independen yang suka melakukan hubungan **** dengan beberapa pria sekaligus, mengingat ia bertemu dengan Alice pertama kali di bar dan sedang melakukan pesta minum-minum bersama teman-temannya. Ia tidak menyangka jika Alice merupakan perempuan yang baik-baik, ia bahkan merutuki kebodohannya karena hanya melihat seseorang dari covernya saja.
"Jika sampai Alice tahu aku menipu serta mengambil sesuatu yang paling berharga di hidupnya, entah apa yang akan ia lakukan kepadaku nanti. Aku berharap saat itu tidak akan pernah datang atau aku akan menyesalinya seumur hidup ku!" ucap Kafin sambil menatap lurus ke arah pintu kamar mandi.
***
Kamar mandi
Terlihat Alice saat ini tengah mandi di bawah guyuran air shower yang mulai jatuh dan membasahi tubuhnya. Disaat Alice merasa semuanya adalah miliknya, lagi dan lagi Alice kembali di hempaskan oleh tanda tanya besar yang terus berputar di kepalanya saat ini.
__ADS_1
Siapa sebenarnya Bianca? Mengapa semua orang selalu saja menyebutnya dengan nama Bianca? Apakah wajahnya begitu mirip dengan Bianca? Apakah Bianca benar-benar ada? Atau malah ia yang seharunya tidak ada?
Alice mengusap raut wajahnya yang saat ini basah terkena air sambil menghela napasnya dengan panjang. Entah mengapa semua pertanyaan itu benar-benar terus berputar dan memenuhi isi kepala Alice saat ini.
"Apakah aku adalah Bianca? Tidak-tidak itu benar-benar tidak mungkin! Aku jelas mengingatnya jika nama ku adalah Alice, ya nama ku adalah Alice. Namun mengapa aku tidak mengingat kejadian selanjutnya selain nama ku Alice dan juga pesta promosi jabatan tersebut? Apa yang salah sebenarnya?" ucap Alice dengan raut wajah yang begitu kebingungan karenanya.
Alice terdiam sejenak sambil menundukkan kepalanya hanyut ke dalam perasaan yang bertanya-tanya. Sampai kemudian Alice yang seakan mendapat sebuah ide cemerlang yang terlintas di pikirannya, lantas langsung mendongak secara perlahan dan mengusap kembali raut wajahnya yang basah terkena guyuran air shower.
"Jika memang aku hanya mengingat pesta promosi naik jabatan tersebut, tidak ada salahnya jika aku pergi mencari keberadaan Bar itu bukan? Setidaknya hal itu mungkin akan mengobati sedikit rasa penasaran dalam diriku." ucap Alice kemudian.
***
Sementara itu Kafin yang melihat Alice belum juga keluar dari area kamar mandi, lantas langsung bangkit dari tempat tidurnya sambil mulai mengambil beberapa pakaiannya yang berserakan di lantai dan langsung memakainya dengan gerakan yang cepat. Di tariknya sprei yang ada di atas ranjang miliknya dengan sembarangan kemudian menggulungnya begitu saja, hal ini harus Kafin lakukan untuk menyembunyikan segala buktinya sebelum Alice mengetahui segalanya.
"Bi... Bibi..." panggil Kafin yang terdengar menggema ketika ia menuruni satu persatu anak tangga.
Lala yang kebetulan baru saja mempersiapkan sarapan untuk anak-anak sebelum berangkat ke sekolah, mendengar panggilan tersebut lantas langsung membuatnya berlarian mendekat ke arah dimana Kafin berada saat ini.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Lala kemudian setelah menghentikan langkah kakinya tepat di samping Kafin saat itu.
__ADS_1
"Tolong cuci sprei ini sekarang juga, saya tidak mau tahu harus bersih dan tanpa noda sedikitpun. Apa kamu bisa melakukannya?" ucap Kafin kemudian sambil menyerahkan sprei tersebut ke arah Lala.
"Baik Pak.." ucap Lala kemudian berlalu pergi dari sana setelah menerima seprei beserta selimut tersebut.
Sedangkan Altair dan juga Belinda yang mendengar Kafin sudah ribut-ribut pagi-pagi begini, lantas langsung menoleh ke arah Kafin dengan tatapan yang bertanya. Membuat Kafin yang menyadari akan hal tersebut, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah keduanya dengan langkah kaki yang perlahan.
"Untuk apa Ayah menyuruh Bibi mencuci sprei itu? Apakah ada sesuatu Yah?" tanya Belinda dengan raut wajah yang penasaran seakan ingin tahu alasan Kafin ingin mencuci sprei tersebut.
"Sprei tersebut kotor dan sudah beberapa hari tidak diganti, Ayah hanya tidak ingin nanti hal tersebut dapat menimbulkan penyakit jadi ayah ingin Bibi untuk segera mencucinya. Oh ya kalian sarapan dengan benar dan segera berangkat pergi ke sekolah." ucap Kafin kemudian sambil mengusap rambut Belinda dan juga Altair dengan lembut.
Setelah mengatakan hal tersebut Kafin nampak hendak melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana dan kembali ke atas. Hanya saja sebuah suara yang berasal dari Altair lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
"Yah..." panggil Altair dengan tiba-tiba membuat Kafin langsung berbalik badan dan menatap ke arah Altair dengan raut wajah yang penasaran.
Altair yang melihat Kafin berhenti, lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Kafin berada.
"Apakah Bunda baik-baik saja Yah? Mengapa aku merasa Bunda seperti sedang tidak baik-baik saja? Bunda selalu saja nampak kebingungan ketika dipanggil namanya. Dan juga.. Mengapa Ayah memanggil Bunda dengan sebutan Alice? Bukankah nama Bunda adalah Bianca?" ucap Altair dengan tiba-tiba yang lantas membuat Kafin terkejut ketika mendengarnya.
Deg...
__ADS_1
"Bagaimana anak ini bisa menyadari segalanya?" ucap Kafin yang seakan tak percaya jika Altair menyadari segalanya.
Bersambung