
"Apa kamu begitu membenci ku? Hingga sama sekali tidak menyapaku walau kita berada di tempat yang sama." ucap sebuah suara yang lantas kembali menghentikan langkah kaki Alice dengan seketika.
Ditatapnya raut wajah Kafin yang terlihat menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan saat itu. Membuat helaan napas kasar terdengar berhembus dari mulut Alice saat itu.
"Tak perlu khawatir soal itu karena aku sudah memaafkan mu, hanya saja jika untuk berbicara dan mengobrol berdua aku rasa aku belum siap. Jadi aku harap kamu mau mengerti akan hal ini Kaf." ucap Alice yang lantas membuat raut wajah kecewa terlihat jelas di wajah Kafin saat itu.
Alice yang memang sedang tidak ingin berbicara kepada Kafin saat ini, lantas mulai membawa langkah kakinya berlalu pergi dari sana. Hanya saja sebuah tarikan tangan dari seseorang lagi dan lagi kembali menghentikan langkah kakinya saat itu.
"Kafin!" ucap Alice dengan raut wajah yang mengernyit, begitu mendapati jika yang menarik tangannya adalah Kafin.
"Aku mohon ijinkan aku untuk menjelaskan segalanya, aku janji tidak akan ada yang aku tutup-tutupi kepadamu." ucap sebuah suara yang lantas membuat Alice menghela napasnya dengan panjang begitu mendengar perkataan Kafin barusan.
Mendengar hal tersebut lantas membuat mulut Alice terdiam dengan seketika. Entah mengapa Alice bahkan tidak mengetahui hal tersebut, namun yang pasti mendengar perkataan Kafin barusan membuat hati Alice goyah saat itu.
Alice menggigit bibir bagian bawahnya seakan berusaha menimang langkah apa yang akan ia ambil saat ini. Hingga kemudian sebuah tangan yang mencengkram lengan Kafin saat itu, lantas membuat Kafin dan juga Alice menoleh ke arah atas dengan seketika.
"Lepaskan Alice sekarang juga! Biarkan dia untuk pergi." ucap sebuah suara yang berasal dari Ashraf.
Mendengar hal tersebut tentu saja langsung membuat Kafin kesal, hingga tanpa sadar mencengkram tangan Alice dengan erat saat itu dan membuatnya meringis kesakitan.
"Aw sakit... Bisakah kamu untuk tidak mencengkram tangan ku terlalu kuat?" ucap Alice dengan raut wajah yang kesal.
__ADS_1
Sadar jika perbuatannya menyakiti Alice saat itu, lantas membuat Kafin dengan spontan melepas cengkraman tangannya saat itu.
"Aku benar-benar minta maaf, aku sungguh tidak bermaksud menyakiti mu barusan." ucap Kafin dengan raut wajah yang kebingungan sekaligus khawatir jikalau ia menyakiti Alice lagi.
"Sudah ku bilang jika kau sama sekali tidak cocok dengannya, jangan coba-coba untuk mendekatinya karena kehidupan kami sudah lebih bahagia sebelum kedatangan mu dan anak-anak mu yang mengacaukan segalanya." ucap Ashraf sambil menunjuk tepat ke arah muka Kafin saat itu.
"Jaga cara bicara mu itu! Kau pikir kau siapa ha?" pekik Kafin yang tidak terima sambil mendorong bahu Ashraf saat itu.
Melihat situasi yang memanas membuat Belinda dan juga Kafin mulai mendekat ke arah ketiganya sambil berusaha untuk memisahkan mereka.
"Hentikan Ayah.. Apa yang sedang Ayah lakukan sebenarnya?" ucap Belinda sambil memegangi tangan Kafin dengan erat, seakan berusaha untuk melerai keduanya saat itu.
Namun sayangnya Kafin yang terlebih dahulu tersulut emosi karena Ashraf yang seakan membuat Alice sebagai hak miliknya, lantas tanpa menggubris perkataan Belinda barusan. Kafin sedikit menghempaskan pegangan tangan Belinda kemudian maju dan mencengkram kemeja milik Ashraf saat itu. Membuat Ashraf yang mendapati hal tersebut lantas hanya tersenyum dengan tipis seakan tengah mengejek Kafin saat ini.
"Kau benar-benar ya...." ucap Ashraf sambil mengepalkan tangannya hendak memukul Kafin saat itu.
Hanya saja ketika kepalan tangan Ashraf saat itu hampir mengenai Kafin saat itu, sebuah panggilan lantas terdengar dan menghentikan gerakan tangan Ashraf saat itu juga.
"Papa beluang... Mama... Apa yang teljadi?" ucap sebuah suara yang berasal dari area dimana mobil Ashraf terparkir sedari tadi.
Keheningan mendadak terjadi di area tersebut tepat ketika suara cadel Caramel terdengar menggema di telinga mereka semua. Setiap manik mata seseorang yang berada di sana lantas langsung terpikat pada sosok seorang gadis mungil nan polos yang berada tidak jauh dari posisi mereka berada.
__ADS_1
Ashraf yang sadar jika suara tersebut adalah Caramel, lantas langsung melepas cengkraman tangannya yang melekat dengan erat di bahu Kafin saat itu. Sedangkan tangan yang semula mengepal terlihat perlahan-lahan mulai turun dan kembali ke tempat semula, tidak perkelahian yang terjadi diantara keduanya tepat setelah panggilan tersebut keluar dari mulut Caramel barusan.
Entah mengapa mendengar Caramel memanggilnya dengan sebutan Papa tepat di depan Kafin saat itu, lantas membuatnya seakan merasa kemenangan berada di tangannya saat itu. Meski tidak ada yang menyadarinya, namun perubahan raut wajah Kafin benar-benar membuatnya bahagia.
"Kena kau! Aku yakin perubahan raut wajah mu itu pasti karena mendengar panggilan Caramel kepada ku barusan." ucap Ashraf dalam hati sambil tersenyum dengan simpul melirik sekilas ke arah Kafin saat itu, yang tentu saja tanpa Kafin sadari
**
Dengan langkah kaki yang di sengaja, Ashraf lantas mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah di mana Caramel berada saat itu. Ketika langkah kaki Ashraf berhenti tepat di sebelah Caramel, Ashraf kemudian langsung menggendong tubuh gembul Caramel di gendongannya dan mencium pipinya dengan pelan. Seakan memang sengaja menunjukkan segalanya kepada Kafin dan kedua anak kembarnya.
"Kamu sudah bangun rupanya, Maafkan Papa dan juga Mama ya. Ada beberapa hal yang harus kami berdua urus sebelumnya. Apa kamu lapar? Mau makan sesuatu? Bagaimana jika kita pergi dan cari makanan kesukaan mu." ucap Ashraf sambil melangkahkan kakinya menuju bangku penumpang yang berada di dalam mobilnya saat itu.
Dengan gerakan yang perlahan Ashraf terlihat menuntun Caramel untuk masuk ke dalam mobil, kemudian memastikannya duduk dengan tenang di dalam sana. Baru setelah itu ia menutup pintu mobil dan kembali menangkap kakinya menuju ke arah kursi pengemudi saat itu.
"Ayo pergi sekarang Al, apakah kamu tidak mendengar jika Caramel tengah lapar saat ini? Sebaiknya kamu segera masuk sekarang juga!" ucap Ashraf dengan nada penuh penekanan saat itu.
Mendengar hal tersebut pada akhirnya membuat Alice mau tidak mau lantas melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana. Dengan langkah kaki yang berat Alice mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah dimana mobil milik Ashraf berada. Sambil sesekali melambaikan tangannya kepada Belinda maupun Altair yang menatapnya dengan tatapan yang sendu.
"Yang seharusnya dipanggil Papa adalah aku! Bagaimana bisa dia merenggut tempat ku dan memanfaatkan segalanya tepat di hadapan ku sendiri?" ucap Kafin dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Belinda dan juga Altair saat itu.
"Apa yang Ayah maksud sebenarnya?"
__ADS_1
Bersambung