Move

Move
Jika kamu marah katakan saja


__ADS_3

Area lobi SJ Company


Setelah melakukan semua itu kepada Alex nyatanya sama sekali tak membuat hati Kafin menjadi lebih tenang sekarang. Kafin menghentikan langkah kakinya di dekat mobilnya, kemudian menyandarkan punggungnya sejenak pada mobilnya dan terdiam sambil mengusap raut wajahnya dengan kasar.


Bayangan bagaimana kebodohan dirinya di masa lalu benar-benar membuat Kafin menyesal karenanya. Kafin benar-benar merutuki kebodohannya yang tidak mempercayai Bianca saat itu.


"Apa yang telah aku lakukan? Mengapa aku tidak menyadarinya sama sekali? Apa aku sebegitu bodohnya hingga tidak menyadari akan hal ini? Argg benar-benar sialan!" pekik Kafin dengan kesal sambil menendang ban mobilnya cukup keras saat itu.


Dari arah tak jauh di mana posisinya berada Dimas yang tahu jika Kafin sedang tidak baik-baik saja, lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Kafin berada saat ini.


"Tuan..." panggilnya dengan nada yang lirih, membuat Kafin yang mendengar panggilan tersebut lantas langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Ada apa?" ucap Kafin dengan nada suara yang serak.


"Katakan lah sesuatu Tuan, saya siap untuk menjalankan tugas dari anda." ucap Dimas yang seakan tahu apa yang selanjutnya terjadi.


Kafin yang mendengar perkataan dari Dimas barusan lantas terdiam sejenak kemudian menarik napasnya dalam-dalam, seakan berusaha untuk mengambil keputusan yang tepat di saat-saat seperti ini. Sampai kemudian ketika Kafin benar-benar telah buntu dan yakin akan keputusan ini, Kafin menatap lurus ke arah depan dan mulai memberikan perintahnya.


"Hentikan semua hubungan dan juga kerjasama kita dengan SJ Company, jika perlu blokir semuanya. Aku benar-benar ingin melihat apa yang bisa dia lakukan setelah ini. Akankah dia benar-benar bisa bangkit dengan kakinya sendiri atau hanya bualan semata." ucap Kafin sambil menatap lurus ke arah depan dengan manik mata yang penuh kilatan amarah.


"Baik Tuan sesuai dengan perintah anda, saya permisi..." ucap Dimas kemudian sebelum berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.


Sedangkan Kafin setelah melihat kepergian Dimas dari sana, ia langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil. Hingga kemudian sebuah suara deringan ponsel miliknya, lantas membuat Kafin langsung merogoh saku celananya.

__ADS_1


Kafin yang melihat nama Altair tertulis jelas pada layar ponsel miliknya, lantas terlihat langsung mengernyit dengan seketika.


"Bukankah seharusnya mereka sekolah? Tumben sekali Alta menghubungi ku." ucap Kafin sambil mulai menggeser icon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


"Hal..." ucap Kafin namun terpotong dengan suara Altair di seberang sana.


"Apa yang sedang Ayah lakukan sebenarnya? Apa Ayah tadi pagi memukul Bunda?" pekik Altair dengan nada yang meninggi.


Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Kafin terkejut bukan main. Kafin bahkan sampai melupakan jika ia tanpa sengaja telah menyakiti Alice tadi pagi. Diusapnya area wajahnya dengan kasar sambil merutuki kebodohannya karena telah melupakan hal tersebut.


Karena Kafin terlalu fokus dengan masalah Alex dan juga Bianca, ia sampai melupakan jika ada Alice yang tersakiti. Pagi ini karena mengira jika Alice adalah Bianca, ia bahkan sampai tanpa sadar melayangkan sebuah tamparan keras pada area pipi Alice. Membuat Kafin langsung menghela napasnya dengan panjang ketika menyadari akan kesalahannya yang sangat fatal.


"Bagaimana aku bisa melupakannya? Kau benar-benar bodoh Kaf..." ucap Kafin menggerutu dalam hatinya ketika ia baru mengingat tentang Alice saat ini.


"Ayah minta maaf Al, sepertinya Ayah benar-benar telah bersalah kepada Bunda.. Kamu belajar dengan benar, biar Ayah menyelesaikan masalah dengan Bunda dahulu." ucap Kafin kemudian memutus perkataan Altair barusan.


"Jangan pernah kecewakan Bunda Ayah.. Aku harap Ayah masih bisa memperbaikinya dengan benar.." ucap Altair kemudian yang lantas membuat Kafin langsung terdiam dengan seketika.


Anak itu benar-benar tahu apa yang sedang ia rasakan, tanpa mengatakannya lebih lanjut sekalipun Altair seakan sudah bisa menebaknya dengan benar.


"Tentu, kamu tidak perlu khawatir Alta karena Ayah berjanji kepadamu.. Kamu tahu jika Ayah berjanji, Ayah tidak akan pernah mengingkarinya, bukan?" ucap Kafin kemudian berusaha untuk menenangkan bocah laki-laki itu.


"Tentu Ayah, Ayah bahkan sudah membuktikannya dengan membawa Bunda kembali pulang ke Rumah. Semangat Ayah aku mendukung mu..." ucap Altair kemudian sebelum pada akhirnya panggilan telpon tersebut terputus begitu saja.

__ADS_1


Setelah panggilan telpon tersebut terputus, Kafin langsung melajukan mobilnya meninggalkan SJ Company menuju ke kediamannya untuk menyelesaikan segala urusannya dengan Alice.


***


Kediaman Kafin


Di halaman depan kediamannya, Kafin nampak melangkahkan kakinya keluar dari dalam mobilnya dan langsung bergegas masuk ke dalam area mansion. Bagaimanapun marahnya Alice saat ini, yang jelas ia harus tetap minta maaf dan menyelesaikan segalanya.


Kafin yang sedari tadi melangkahkan kakinya masuk ke area dalam, lantas terlihat menghentikan langkah kakinya begitu ia melihat Alice tengah duduk termenung di area meja makan saat ini. Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus dari mulut Kafin begitu mendapati Alice yang tengah melamun di sana.


"Em Al... Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Kafin mencoba untuk memulai pembicaraan.


Mendengar sebuah suara yang tak asing di pendengarannya saat ini, lantas membuat Alice dengan spontan menoleh ke arah sumber suara. Ada sedikit perasaan kesal dalam diri Alice saat ini ketika mendapati jika saat ini orang yang membuat luka di area pipinya tengah berdiri tepat di hadapannya sekarang.


Namun anehnya seberapa besar Kafin telah menyakitinya entah mengapa Alice sama sekali tidak bisa marah kepadanya. Seakan semua perasaan kesal dan juga amarah mendadak terbang begitu saja dalam hatinya. Entahlah Alice sendiri juga tidak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini, namun yang jelas hatinya mendadak luluh ketika ia melihat raut wajah sendu milik Kafin saat ini. Mungkinkah ini yang dinamakan dengan cinta?


Melihat Kafin melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya, lantas membuat Alice langsung bangkit dari posisinya sambil menghela napasnya dengan panjang.


"Apa kamu sudah sarapan? Aku tadi membuat menu sarapan kesukaan mu, jika kamu belum sarapan aku akan menyiapkannya untuk mu. Anak-anak baru saja berangkat, tadi mereka sempat menanyakan mu sebelum pergi." ucap Alice mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan Kafin sebelumnya karena ia sendiri pun tidak tahu, apakah saat ini ia tengah marah atau tidak terhadap tingkah Kafin sebelumnya.


Kafin yang melihat sikap Alice biasa saja tidak seperti ekspetasinya, lantas terlihat mengernyit dengan tatapan yang bingung menatap ke arah Alice.


"Jangan seperti ini Al, jika kamu marah katakan saja kepada ku.. Jangan seperti ini dan membuat ku semakin merasa bersalah!" ucap Kafin kemudian yang lantas membuat langkah kaki Alice terhenti seketika.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2