
"Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa kamu hanya diam? Jawab aku Al!" pekik Ashraf yang lantas membuyarkan lamunan Alice dengan seketika.
"Kamu bahkan masih bertanya kenapa katamu? Apakah kamu tidak sadar akan apa yang kamu lakukan tadi di bahu jalan? Kamu bahkan sudah tidak waras, mereka berdua bahkan masih anak-anak tapi tingkah mu itu yang tidak menyukai mereka begitu mencolok dan terlihat dengan jelas. Bukankah aku sudah bersama dengan mu? Lalu mengapa kamu masih seperti itu?" pekik Alice yang tidak mengerti lagi akan jalan pikiran Ashraf.
"Kamu tanya kenapa? Itu karena dirimu! Kamu memang bersamaku selama ini, tapi hati dan juga pikiranmu tetap untuk mereka! Apa kau pikir aku tidak tahu Alice? Jika memang kamu memilihku, harusnya kamu lakukan dengan benar jangan hanya menipu ku setiap harinya. Aku sudah muak Alice! Tidakkah kau mengerti juga?" ucap Ashraf dengan nada yang meninggi.
Sedangkan Alice yang mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Ashraf tentu saja terkejut bukan main, ia tidak menyangka jika Ashraf akan mengatakan hal tersebut hari ini. Entah bagaimana ia bisa merasakan perasaannya, namun yang jelas Alice terkejut akan setiap perkataannya.
"Aku juga sedang berusaha, apa kamu pikir semuanya begitu mudah hingga aku hanya perlu membalikan tangan saja? Kenyataannya tidaklah semudah itu, kau sama sekali tidak mengerti. Cobalah untuk jadi diriku sebentar, kenyataannya setiap hal yang aku lalui bersama Altair dan juga Belinda benar-benar terlalu membekas di kepala ku. Hingga aku bahkan melihat Belinda dalam diri Caramel setiap harinya, cobalah untuk mengerti jika aku juga sedang berusaha Ashraf!" ucap Alice dengan nada yang begitu kesal pada akhirnya.
Perkataan Ashraf benar-benar telah menyakitinya, Kafin memang menipunya. Namun setiap hal dan juga tindakan yang ia lakukan bukanlah hanya sebuah tipuan. Setiap detik dan juga hari yang ia lewati benar-benar membekas di ingatannya hingga kini.
Namun sayangnya perkataan Alice yang keluar begitu saja tanpa bisa ia cegah, bukannya mendapat simpati dari Ashraf. Ashraf malah tampak tersenyum menatap ke arahnya dengan tatapan yang sinis. Entah apa maksud dari tatapan tersebut, tapi yang jelas Alice tidak ingin menutupi segalanya lagi dari Ashraf.
"Kamu mengatakan Belinda dan juga Altair, namun nyatanya aku malah melihat nama Kafin di dalam bola mata mu itu. Bahkan setiap hembusan napas mu hanya terdengar nama Kafin di sana. Apa kau pikir aku bodoh? Jangan gunakan Belinda dan juga Altair untuk membentengi dirimu sendiri Al!" ucap Ashraf sambil menggoyangkan bahu Alice agar menatap manik matanya saat itu.
__ADS_1
Alice yang mendengar perkataan tersebut, lantas langsung mendongak menatap ke arah Ashraf dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Setetes air mata terlihat jelas jatuh di pipi Alice saat itu di sertai dengan manik mata yang berkaca-kaca. Membuat Ashraf yang mendapati hal tersebut lantas membuatnya melepas pegangan kedua tangannya sekaligus.
"Lihatlah bahkan hingga kini nama itu masih terukir jelas di sana. Apa kebohongannya benar-benar telah membuat mu bahagia? Mana Alice ku yang dulu.. Alice yang selalu menatap ku dengan penuh cinta dan bertanya, apakah kamu bisa pulang cepat malam ini sayang? Aku begitu merindukan mu! Kemana perginya dia? Kemana ku tanya? Apa semudah itu dia merebut segalanya dari ku?" ucap Ashraf dengan tatapan yang tajam saat itu.
Sikap Alice yang terlihat masih begitu mencintai Kafin, benar-benar melukai dirinya. Ashraf bahkan selama ini sudah mencoba untuk menunggu agar hati Alice kembali terbuka untuknya. Namun nyatanya hingga kini rasa sayang dan juga hati Alice tetap dimiliki oleh Kafin. Apakah semudah itu hati seorang perempuan berubah? Seperti hembusan angin yang tak menentu arahnya, sikap Alice seolah berubah seutuhnya tepat setelah Ashraf menemukannya beberapa tahun yang lalu.
"Hentikan! Jangan katakan itu lagi karena aku tidak ingin mendengarnya!" ucap Alice sambil berbalik badan memunggungi Ashraf saat itu.
Namun Ashraf yang seakan sudah tidak ingin lagi menghentikan segala pemikiran liar di kepalanya, lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alice berada dan membuatnya menatap ke arahnya saat itu.
Mendapati perlakuan kasar dari Ashraf yang tiba-tiba seperti itu tentu saja membuat Alice terkejut. Entah apa yang tengah merasuki Ashraf kali ini, namun sebisa mungkin Alice berusaha untuk menghindarinya.
"Akh sakit! Apa yang kamu lakukan sebenarnya?" rintih Alice sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Ashraf yang kencang.
Ashraf yang memang sedang berada di puncak kemarahan saat itu, tak sampai pada situ saja. Dengan arogannya Ashraf mengangkat tubuh Alice begitu saja dan melemparnya ke sofa ruang tengah. Di j4m4hny4 area leher Alice hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana sambil memegang kedua tangan Alice agar tidak memberontak dan menghalangi jalannya saat itu.
__ADS_1
"Katakan padaku Al! Apa dia juga m3nj4m4h mu seperti ini? Bagian mana yang sudah ia beri tanda cinta? Biar aku menghapusnya dan pastikan jika aku lebih memiliki tenaga yang besar daripada dirinya!" ucap Ashraf dengan kesetanan terus menjamah tubuh Alice saat itu bahkan hingga bermain pada kedua gunung kembarnya.
Air mata Alice benar-benar mengalir dengan derasnya, tingkah Ashraf yang lebih mirip dengan binatang benar-benar di luar dugaan Alice saat itu.
"Kau benar-benar b3r3ngs3k, aku membenci mu! Hik hiks..." ucap Alice dengan nada yang berteriak.
Tepat setelah mendengar teriakan tersebut gerakan Ashraf yang sedari tadi begitu kesetanan lantas terhenti dengan seketika. Ia mencoba menarik napasnya dalam-dalam seakan berusaha untuk meredam rasa amarah yang begitu memuncak di hatinya saat itu.
Diangkatnya tubuhnya sedikit naik dan membenarkan posisinya. Penampilan Alice saat itu sudah terlihat begitu acak-acakan, di sertai dengan begitu banyaknya tanda cinta di sekitaran area leher dan dadanya yang sudah nampak terbuka karena ulah dari Ashraf tadi. Membuat Ashraf yang mendapati hal tersebut tentu saja terkejut, entah apa yang merasukinya namun manik mata Alice yang berkaca-kaca tentu saja mengganggunya.
Ashraf bangkit dari posisinya saat itu sambil mengambil posisi membelakangi Alice, sepertinya Ashraf tidak berdaya melihat air mata yang jatuh dan membasahi pipi Alice saat ini.
"Minggu ini kita akan menikah, suka atau tidak suka kamu harus tetap mengikutinya!" ucap Ashraf sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan Alice seorang diri di sana.
Bersambung
__ADS_1