
SJ Company
Di area lobi perusahaan, terlihat Dimas tengah melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang bergegas untuk menyusul langkah kaki Kafin yang ia yakin jika Kafin sudah berada di dalam saat itu.
Sambil mempercepat langkah kakinya Dimas lantas mulai membawa langkahnya menuju ke arah ruangan CEO, mungkin karena Dimas sendiri tidak terlalu yakin jika Alex saat ini berada di area ruangan CEO tapi setidaknya ia tetap harus mencobanya bukan.
Ting...
Suara pintu lift yang terbuka dengan lebar saat itu lantas membuat Dimas langsung melangkahkan kakinya keluar dari area dalam lift. Sambil menatap ke arah sekitaran ia mulai mencari keberadaan Kafin saat ini.
"Harusnya Tuan dengarkan dahulu perkataan ku sampai selesai, jika sudah begini apa yang harus aku lakukan? Sepertinya hanya Tuhan yang tahu akan akhir dari cerita rumit ini. Argg lagi-lagi pekerjaan ku bertambah lagi!" ucap Dimas sambil terus mempercepat langkah kakinya mencari keberadaan Kafin di sekitaran sana.
Sampai kemudian ketika langkah kaki Dimas sampai tepat di ruangan CEO, Dimas yang melihat Kafin melangkahkan kakinya tak jauh dari tempatnya berada kemudian langsung melipir dan mengikuti kepergian Kafin barusan.
Brak....
Suara pintu yang di buka dengan keras, lantas membuat Dimas langsung berlarian menuju ke arah sumber suara. Ruangan rapat kala itu nampak begitu hening, namun suara Kafin yang sangat kerasa lantas menciptakan suasana yang tegang tepat setelah Kafin masuk ke dalam ruangan rapat tersebut.
"Dasar kau baj**gan!" pekik Kafin sambil terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alex berada saat ini.
__ADS_1
Semua mata yang juga mendengar makian dari Kafin barusan tentu saja langsung menoleh ke arah sumber suara. Terlihat dengan jelas gurat wajah penuh amarah yang berasal dari Kafin saat itu, membuat beberapa orang lantas saling pandang antara satu sama lain seakan bertanya-tanya akan apa yang sedang terjadi sebenarnya saat ini.
"Ada apa ini Kaf?" tanya Alex dengan raut wajah yang penuh kebingungan.
Namun Kafin yang mendapat pertanyaan tersebut, bukannya menjawab malah melayangkan pukulannya begitu saja pada area rahang Alex. Sementara Alex yang mendapati sebuah serangan yang mendadak, lantas membuat Alex langsung terhuyung dan jatuh dari kursi kebesarannya dengan seketika.
Suara riuh ricuh beberapa peserta rapat begitu Alex mendapat pukulan secara mendadak, mulai terdengar layaknya kerumunan lebah yang berterbangan di area ruangan tersebut.
Alex yang di perlakukan seperti itu lantas mukai bangkit dari posisinya, namun Kafin malah mencengkram dengan kuat kerah baju milik Alex saat itu.
"Apa-apaan kau ini? Apa kau tengah mabuk sekarang?" pekik Alex sambil mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah akibat pukulan dari Kafin barusan.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya? Aku bahkan sudah berusaha untuk menolong mu sebisa ku. Aku berikan segalanya untuk mu hingga kau bisa bangkit dan kembali berbisnis. Tapi kau.. Kau dengan angkuhnya merasa lebih pantas dan ingin merebut Bianca dari ku! Apa kau sudah benar-benar gila ha?" pekik Kafin dengan nada yang meninggi, membuat semua orang yang ada di sana lantas terkejut bukan main begitu mendengar perkataan yang keluar dari mulut Kafin barusan.
"Bagaimana bisa pak Alex ingin merebut istri pak Kafin? Bukankah mereka berdua berteman?" ucap sebuah suara di tengah kerumunan peserta rapat saat itu, membuat Alex yang mendengar hal tersebut lantas langsung berdecak dengan kesal.
"Aku tidak menyangka jika istilah tentang pagar makan tanaman juga terjadi di kelas atas seperti mereka." jawab yang lainnya lagi.
"Sialan!" gerutu Alex di dalam hati ketika mendengar perkataan beberapa karyawannya tersebut.
__ADS_1
Disaat situasi tengah memanas saat ini, Dimas yang baru saja sampai di ruang rapat lantas langsung berusaha untuk melerai keduanya. Ditariknya tubuh Kafin agar bangkit dari posisinya, namun Kafin yang seakan tak suka dengan cara Dimas melerai keduanya kemudian terlihat menghempaskan tangan Dimas begitu saja.
"Lepaskan Dim! Jangan ikut campur masalah ini." pekik Kafin yang terlanjur kesal akan informasi yang baru saja ia terima.
"Tuan tenanglah, masalah ini sama sekali tidak seperti apa yang anda cerna dan anda tangkap begitu saja. Ada beberapa hal yang belum anda pahami, memang benar tenta fakta dimana Alex menginginkan Nyonya sepenuhnya. Namun yang dilakukan Nyonya di kamar hotel saat itu hanyalah sebuah jebakan untuk membuat Alex mengakui semua kejahatannya." ucap Dimas mulai menjelaskan segalanya dengan nada yang berbisik, seakan berusaha untuk mencoba meyakinkan Kafin akan hal ini.
Mendengar hak tersebut lantas membuat Kafin menghentikan langkah kakinya dengan sejenak. Sebuah ingatan perkataan Bianca sebelum terjadinya kecelakaan tersebut yang kembali berputar di kepalanya, membuat Kafin lantas langsung jatuh dalam posisi yang terduduk.
"Kamu tidak tahu seberapa buruk dan culasnya Alex selama ini, aku tidak tahu apa yang membuat mu begitu berhutang budi padanya. Tapi seberapa besar hutang budi itu sekalipun, kamu harus tetap membuka mata mu Kaf... Buka mata mu!"
Dimas yang melihat Kafin jatuh dalam posisi yang terduduk sambil menatap kosong ke arah depan, lantas langsung bangkit dan mengamankan situasinya. Dimas yang tak ingin masalah ini bocor dan menimbulkan konflik baru, kemudian langsung menggiring semua peserta rapat untuk meninggalkan ruangan tersebut. Yang dimana kini hanya menyisakan Alex dan juga Kafin di sana dengan keheningan yang melanda keduanya saat itu.
Bruk
Suara pintu yang ditutup dengan rapat oleh Dimas dari luar ruangan, membuat situasinya terasa begitu hening dan juga dingin. Kafin benar-benar merutuki segala kebodohannya karena tidak percaya akan perkataan Bianca saat itu. Namun Alex yang menganggap semuanya pantas di dapatkan oleh Kafin, hanya menanggapinya dengan senyuman yang sangat tipis seolah tidak terlalu memikirkan konsekuensinya.
"Aku sungguh tidak ingin bertengkar dengan mu, sebenarnya apa yang membuat mu begitu terobsesi akan segala hal yang menjadi milik ku? Kita bahkan tumbuh besar bersama, apakah hal seperti ini pantas untuk menjadikan permusuhan di antara kita berdua?" ucap Kafin kemudian dengan nada yang terdengar begitu kesal, membuat Alex lantas langsung mendongak dengan seketika begitu mendengar hal tersebut.
"Kau ingin tahu apa alasannya? Karena kau berhak untuk mendapatkan itu semua!" pekik Alex dengan tawa yang mengembang di ruangan tersebut.
__ADS_1
"Apa"
Bersambung