Move

Move
Dimana Cicil?


__ADS_3

Pagi itu di salah satu Cafe tepatnya yang terletak di Ibukota, terlihat Cicil tengah melangkahkan kakinya secara perlahan masuk ke dalam area Cafe. Hari ini adalah agenda arisan sesama sosialita dan juga beberapa orang lainnya untuk sekedar berkumpul dan membahas masalah tidak penting Ibu-ibu.


Cicil yang sudah melihat beberapa teman-teman sosialitanya sudah berkumpul di salah satu meja di area Cafe tersebut, lantas langsung mempercepat langkah kakinya kemudian mengambil duduk dan bergabung bersama dengan mereka.


Ketika sampai di sana, suasana sudah riuh gemuruh dengan obrolan dan juga ocehan dari beberapa teman-temannya. Mendapati hal tersebut membuat Cicil yang baru saja datang, lantas terlihat mencoba untuk berbaur dan mencerna beberapa perkataan dari mereka semua.


"Kalian tahu berita akhir-akhir ini? Hari ini adalah tepat satu tahun terjadinya kecelakaan di daerah tol yang menelan satu korban jiwa itu. Aku dengar-dengar sih pengemudinya dinyatakan hilang dan tidak di temukan hingga saat ini." ucap salah satu teman arisannya.


Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Cicil langsung mengernyit dengan seketika. Ia bahkan tidak pernah mendengar berita di sebut di up, namun saat ini grup arisannya malah membahas hal ini.


"Ya aku juga pernah dengar soal itu, ada yang aneh dari kasusnya. Mobil yang ia tumpangi di temukan terbakar dan habis, tapi di dalamnya sama sekali tidak ada pengemudinya. Bukankah itu aneh? Jika memang si pengemudi ikut terbakar di dalamnya, harusnya ada bekas tulang ataupun jasad yang telah hancur, bukan? Tapi ini... Benar-benar menghilang begitu saja." ucap yang lainnya lagi, membuat Cicil kembali terdiam masih mencoba untuk mencari tahu topik pembicaraan mereka semua.


"Ada lagi satu hal yang menarik, kecelakaan itu sangatlah besar dan sempat viral di media sosial. Harusnya jika kasus sebesar itu pasti akan naik cukup lama di pemberitaan atau media sosial, mengingat jika si pengemudi belum ketemu saat itu. Tapi kalian tahu? Berita ini bahkan tidak sampai satu hari sudah menghilang dari permukaan. Bukankah hal itu sangat aneh?" ucap yang lainnya lagi, membuat Cicil kian tidak mengerti saat ini.


"Tunggu sebentar, sedari tadi kalian membahas berita.. Berita apa memangnya?" ucap Cicil yang tidak mengerti akan pembahasan dari yang lainnya saat ini.


Mendengar pertanyaan dari Cicil barusan, tentu saja lantas membuat yang lainnya menatap ke arah Cicil. Entah mengapa Cicil selalu saja ketinggalan berita, padahal berita ini sempat heboh beberapa bulan yang lalu.


Vina yang saat itu juga mendengar pertanyaan dari Cicil barusan tentu saja langsung menghela napasnya dengan panjang. Vina kemudian memberikan ponsel miliknya yang kebetulan saat itu menyimpan satu berita yang memuat tentang kecelakaan tersebut, meskipun saat ini pemberitaan tersebut sudah menghilang dari peredaran media sosial.

__ADS_1


"Lihatlah ini, kau selalu saja ketinggalan berita." ucap Vina sambil menunjukkan ponsel tersebut kepada Cicil.


Cicil yang mendapati hal tersebut lantas langsung menatap ke arah layar ponsel dengan tatapan yang serius. Hingga kemudian ketika foto si pengemudi mobil di perlihatkan, betapa terkejutnya Cicil ketika ia mendapati jika wanita yang di foto tersebut berwajah mirip dengan seseorang yang tak asing di ingatannya.


"Bianca!" ucap Cicil tanpa sengaja yang langsung membuat Vina mengernyit begitu mendengar perkataannya barusan.


"Dia bukan Bianca melainkan Alice, bukankah caption nya sudah sangat jelas? Bagaimana bisa kamu mengganti-ganti namanya seenak jidat mu?" ucap Vina sambil mengernyit dengan tatapan yang bingung akan panggilan nama yang di sematkan oleh Cicil untuk korban tersebut.


"Apa katamu?" ucap Cicil yang seakan terkejut dengan perkataan dari Vina barusan.


***


Alex yang mendengar perkataan dari Cicil tentang Bianca, lantas langsung meluncur ke kediamannya setelah menyelesaikan beberapa pekerjaannya terlebih dahulu. Apa yang dikatakan oleh Bianca sebelumnya benar-benar membuat rasa penasaran dalam diri Alex memuncak dengan seketika.


Beberapa pikiran aneh bahkan mulai terasa memenuhi hatinya saat ini, dimana ia baru menyadari tingkah Kafin yang begitu aneh saat itu. Hingga Bianca yang terlihat kebingungan ketika bertemu dengannya di tempat hiburan malam, membuat daftar panjang kecurigaan Alex selama ini tentang Bianca.


Dengan langkah kaki yang bergegas, Alex terlihat memasuki kediamannya sambil menatap ke arah sekitaran mencoba untuk mencari keberadaan Cicil di Rumah saat itu.


"Cicil dimana kau!" pekik Alex sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekitaran.

__ADS_1


Di saat Alex tengah mencari keberadaan Cicil di sekitaran area Rumah, sebuah suara lantas terdengar di telinganya saat itu membuat Alex langsung menoleh dengan seketika ke arah sumber suara.


"Mama belum pulang Pa..." ucap Tia yang terlihat berjalan menuruni satu persatu anak tangga menuju ke arah dimana Alex berada saat ini.


"Berhenti memanggil ku Papa! Sudah ku bilang berulang kali untuk memanggil ku Om, apakah kamu tidak mendengarkan perintah ku?" ucap Alex kemudian dengan nada yang tidak suka ketika mendengar Tia kembali memanggilnya dengan sebutan Papa.


Tia yang mendengar perkataan dari Alex barusan tentu saja terkejut dan langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika. Tia nampak menatap ke arah Alex dengan manik mata yang berkaca-kaca, membuat Alex yang mengetahui hal tersebut tentu saja langsung membuang mukanya. Alex benar-benar enggan menatap atau bahkan bercengkrama dengan anak ini.


Bagi Alex, Tia hanyalah sebuah aib yang harus ia tutupi hanya karena orang tua Cicil yang mempunyai pengaruh. Alex bahkan merasa menyesal karena harus menikahi Cicil saat itu, jika ia tidak mengingat reputasi mendiang Ayahnya. Alex mungkin sudah bercerai cukup lama dengan Cicil jauh sebelum Tia dilahirkan.


"Papa apa sebenarnya salah Tia... Mengapa Papa begitu membenci Tia... Papa..." ucap Tia dengan nada yang memelas sambil menggenggam erat tangan milik Alex saat itu.


Alex yang mendapati hal tersebut lantas terlihat menatap ke arah bawah dengan tatapan yang tajam. Jika Tia bertanya tentang salah, tentu saja ia sama sekali tidak bersalah. Namun sayangnya meski Tia sama sekali tidak bersalah akan hal ini, entah mengapa Alex tetap merasa tidak suka akan segala hal apapun tentang Tia, walau Tia melakukan hal baik sekalipun untuknya.


Alex yang tidak ingin berdebat ataupun memperpanjang urusan bersama dengan Tia, lantas terlihat menghempaskan tangan Tia dengan kasar ke udara dan mendorongnya. Hingga Tia mundur beberapa langkah dari posisinya karena dorongan tersebut.


"Apa yang kamu lakukan kepada Tia ha? Apakah kamu ingin membunuhnya?" pekik sebuah suara dari arah pintu masuk, yang lantas membuat Alex dan juga Tia langsung menatap ke arah sumber suara dengan seketika.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2