
Taksi
Setelah berhasil pergi dari tempat hiburan malam tersebut Alice nampak duduk dengan termenung sambil menatap ke arah luar kaca jendela. Pikiran Alice benar-benar melayang memikirkan segala hal yang baru saja terjadi kepadanya di tempat hiburan malam barusan.
Alice benar-benar memikirkan setiap perkataan yang keluar dari mulut Alex saat itu. Bagaimana bisa Alex mengatakan dengan mudahnya jika ia pernah bercinta dengannya, bukankah itu adalah hal yang konyol?
Alice mendengus dengan kesal ketika kembali mengingat akan hal tersebut, meski Alice tidak mengingatnya dengan jelas tapi ia jelas tahu dan yakin jika Alice tak pernah bermalam dengan Alex sekalipun.
"Dia benar-benar sudah gila seperti, aku saja baru pertama kali bertemu dengannya, bagaimana bisa dia mengatakan hal konyol seperti itu?" ucap Alice dalam hati sambil tersenyum tipis.
Hingga kemudian sebuah perkataan Alex yang menanyakan tentang sebuah disk kepadanya lantas mendadak terlintas di benak Alice sata itu, membuat Alice menjadi bertanya-tanya disk apa sebenarnya yang tengah dibicarakan oleh Alex sedari tadi.
"Disk apa sebenarnya yang ia maksud? Aku bahkan sama sekali tidak mengerti akan arah dari pembicaraan Pria tadi." ucap Alice kemudian sambil bertanya-tanya.
Alice yang penasaran akan perkataan dari Alex lantas mulai mengecek ponsel pemberian Kafin dan mencari tahu apa saja yang di simpan dalam ponsel tersebut. Hanya saja ketika Alice mulai menjelajah ponsel tersebut tidak ada satu pun yang Alice temukan di sana bahkan hanya sekedar foto sekalipun.
"Sepertinya ponsel ini masih baru, tidak akan ada yang aku temukan di sini. Lagi pula apa yang dia cari saja aku juga tidak mengetahuinya sama sekali." ucap Alice kemudian sambil mulai menghela napasnya dengan panjang ketika baru menyadari akan hal tersebut.
***
Kediaman Kafin
Alice yang baru saja datang lantas langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam Mansion milik Kafin dengan perlahan. Sedangkan Altair yang sedari tadi mencari keberadaan Alice, melihat Alice datang tentu saja langsung berlarian mendekat ke arahnya.
"Bunda dari mana?" tanya Altair kemudian yang lantas menghentikan langkah kaki Alice dengan seketika.
__ADS_1
"Em baru saja Bunda keluar ada urusan sebentar, Alta bisa bantu Bunda gak?" ucap Alice kemudian ketika melihat Altair mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana ia berada.
"Katakan Bunda apa yang bisa Alta bantu?" ucap Altair kemudian.
"Bisa kamu beritahu Bunda, apa merk ponsel lama Bunda?" ucap Alice sambil menunjukkan ponselnya yang sekarang.
Altair yang mendapat pertanyaan tersebut lantas terdiam sebentar seakan mencoba untuk berpikir sejenak sambil mengingat-ingat.
"Sepertinya Iphone Bun, apakah ada sesuatu yang salah?" tanya Altair kemudian yang lantas membuat Alice langsung berpikir keras begitu mendengar jawaban tersebut.
"Em bisakah kamu mengatakan lebih spesifik lagi? Misalnya seperti warna, tipe atau bahkan letak ponsel tersebut berada, apakah kamu bisa?" ucap Alice yang lantas membuat Altair mengernyit begitu mendengar perkataan dari Alice barusan.
Altair terdiam sejenak seakan mencoba mengingat-ingat apa yang diminta oleh Alice sebelumnya. Sampai kemudian Altair yang seperti tengah mengingat sesuatu lantas langsung menatap ke arah Alice dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Terima kasih banyak nak..." ucap Alice sambil mengusap rambut Altair secara lembut kemudian berlalu pergi meninggalkan Altair begitu saja, membuat Altair lantas langsung menatap kepergian Alice dengan tatapan yang kebingungan.
"Apa yang terjadi dengan Bunda?" ucap Altair dengan raut wajah yang kebingungan.
***
Ruangan CEO
Setelah menyelesaikan beberapa pertemuan dan kerjaannya yang sudah menumpuk sebelumnya, Kafin yang penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Alice saat ini. Lantas langsung mengecek rekaman kamera pengawas yang ia pasang di rumahnya melalui iPad miliknya, berharap dengan hal itu Kafin bisa melihat wajah Alice barang sebentar saja.
Servis yang dilakukan oleh Alice semalam benar-benar membuat Kafin begitu terngiang-ngiang meski telah melalui beberapa waktu sekalipun. Pikirannya bahkan tak bisa lepas dari bayang-bayang Alice saat itu. Hanya saja ketika Kafin yang tadinya hendak melihat kamera pengawas untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh Alice saat itu, Kafin malah mendapati Alice yang baru saja turun dari taksi dan mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam area Mansion.
__ADS_1
Melihat hal tersebut tentu saja membuat Kafin lantas langsung mengernyit dengan seketika. Entah dari mana Alice pergi, namun yang jelas hal tersebut membuat Kafin begitu penasaran dan juga bertanya-tanya karenanya.
"Dari mana Alice sebenarnya? Mengapa tidak ada yang melaporkannya kepada ku?" ucap Kafin sambil menatap lurus ke arah layar iPad miliknya dengan tatapan yang intens, sambil menerka-nerka kemana perginya Alice baru saja.
***
Area kamar
Setelah Alice mendapatkan clue dari Altair tentang ponsel tersebut, dengan langkah kaki yang bergegas Alice mulai memasuki area kamar utama untuk mencari ponsel tersebut di sana. Ditatapnya area sekitar kamar seakan mencoba menerka dimana kiranya Kafin menyimpan ponsel lamanya saat ini.
"Dimana Kafin menyimpan ponsel itu sebenarnya? Aku harus mengetahui dengan jelas apa isi dari disk tersebut, hingga membuat Alex begitu kelihatan murka kepada ku. Apa aku pernah memergokinya melakukan sesuatu atau semacamnya? Jika memang iya, mengapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali?" ucap Alice sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Alice yang tak ingin hanya diam dan menerka saja lantas mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah nakas dan mulai mencarinya di sekitar sana. Alice membuka satu persatu pintu lemari kecil yang terdapat di sana untuk melihat isi dari almari yang terletak di nakas tersebut.
Alice terus mencari dan terus mencari tanpa henti ponsel tersebut. Alice begitu yakin jika Kafin benar-benar menyimpan ponsel itu di salah satu tempat di area kamar utama.
Alice menghentikan sejenak gerakannya ketika ia tak menemukan apapun di sana kecuali hanya beberapa barang-barang tak penting atau bahkan buku note di dalamnya.
Mendapati hal tersebut membuat Alice mengusap rambutnya dengan kasar ke arah belakang, ditatapnya almari kecil sebelah kiri tempat tidurnya dengan tatapan yang penuh harap. Almari itu adalah satu-satunya tempat yang belum ia geledah sama sekali, membuat Alice langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah almari kecil tersebut untuk mulai melihat isi di dalamnya.
Ketika Alice berusaha membongkar isi dari almari tersebut, manik matanya lantas tertuju pada sebuah ponsel dengan layar ponselnya yang sudah tak berbentuk dan retak parah, membuat seulas senyuman lantas terlihat jelas di wajahnya saat itu.
"Aku menemukannya!"
Bersambung
__ADS_1