
"Bianca!" pekik Alex yang terkejut akan kehadiran seseorang yang sedari tadi ia cari keberadaannya.
Alex benar-benar terkejut di saat ia mendapati jika Bianca atau Alice benar-benar berada di rumah Kafin saat ini. Kedua manik mata Alex dan juga Alice bertemu dalam sepersekian detik, membuat Alice yang mendapati raut wajah terkejut milik Alex tentu saja langsung menatapnya dengan tatapan yang penasaran sekaligus bertanya-tanya.
"Ada apa dengan ekspresi wajahnya itu? Mengapa dia seperti melihat hantu?" ucap Alice dalam hati ketika mendapati tatapan Alex yang begitu aneh saat menatapnya.
Sedangkan Kafin yang saat itu juga mendengar Alex memanggil nama Alice dengan nama Bianca tentu saja langsung terkejut bukan main. Dengan spontan Kafin membawa langkah kakinya menuju ke arah keduanya berusaha untuk mencegah sesuatu yang tidak di inginkan agar tidak terjadi saat ini.
"Kamu.. Bagaimana bisa.." ucap Alex dengan raut wajah yang penasaran namun perkataan Kafin menghentikan ucapannya dengan tiba-tiba.
"Alex bukankah katamu kamu sedang terburu-buru karena ada meeting? Aku akan mengantar mu ke depan.. Ayo..." ucap Kafin sambil menarik Alex agar mulai bergerak.
"Tapi aku.." ucap Alex hendak menolak ajakan Kafin, namun sayangnya tarikan tangan Kafin yang kuat pada akhirnya membuat Alex tidak bisa lagi untuk mengelaknya.
Alice yang semula hendak bertanya tentang sesuatu kepada Kafin, melihat tatapan aneh dari Alex barusan lantas membuyarkan segalanya. Alice benar-benar merasa ada yang aneh dengan Pria yang saat ini tengah di tarik Kafin keluar dari hadapannya. Sebuah nama yang lagi-lagi terdengar begitu seseorang menatap raut wajahnya, membuat Alice kembali penasaran akan teka-teki yang tak kunjung usai menutup matanya.
"Siapa sebenarnya Bianca? Apakah aku mengenalnya?" ucap Alice sambil masih menatap kepergian keduanya yang sudah tidak lagi terlihat pada pandangan Alice saat itu.
***
Sementara itu Kafin yang takut jika sampai segala usahanya selama ini terbongkar lantas terus membawa Alex hingga keluar dari kediamannya. Sedangkan Alex yang merasa ini mulai tidak benar kemudian melepas genggaman tangan Kafin ketika keduanya sudah berada di luar Mansion saat itu.
"Apa yang terjadi sebenarnya Kaf? Mengapa ada Bianca? Bukankah Bianca..." ucap Alex dengan raut wajah yang kebingungan ketika mendapati hal tersebut.
__ADS_1
Kafin yang mendapat pertanyaan tersebut benar-benar bingung harus mengatakan alasan apa kepada Alex agar ia percaya akan semua perkataannya saat ini.
"Kamu benar dia adalah Bianca..." ucap Kafin pada akhirnya mulai membuat sebuah cerita yang mungkin akan disertai sedikit bumbu-bumbu penyedap agar Alex mempercayai perkataannya.
"Bianca? Jangan gila kamu! Aku bahkan ikut mengantarkan kepergiannya, bagaimana bisa kamu mengatakan jika itu adalah Bianca?" ucap Alex yang tidak mengerti akan perkataan dari Kafin barusan.
Kafin yang melihat jika Alex masih tidak bisa percaya nampak menoleh ke arah dalam sebanyak beberapa kali, seakan mencoba untuk memastikan jika Alice tidak mendengar segala pembicaraan keduanya.
"Jenazah itu bukanlah Bianca, satu bulan yang lalu aku menemukan Bianca dalam keadaan hilang ingatan. Dia benar-benar melupakan segalanya termasuk aku dan juga anak-anak, aku membawanya ke dokter dan dia mengatakan jika hal ini terjadi akibat benturan di area kepala yang menyebabkan Bianca hilang ingatan. Jadi aku harap kepadamu untuk tidak mempengaruhi pikirannya saat ini, cobalah untuk bersikap wajar dan jangan mengungkit apapun di depannya." ucap Kafin kemudian mulai menjelaskan segalanya kepada Alex, berharap ia percaya akan penjelasannya barusan.
"Mengapa aku tidak terlalu yakin ketika mendengar semua penjelasan dari Kafin barusan. Ada sesuatu yang berbeda dari Bianca, rasanya aku seperti melihat ada kesamaan namun pada orang yang berbeda. Aku bahkan saat itu jelas-jelas datang dan melihat langsung prosesi penguburannya, bagaimana bisa tiba-tiba Bianca muncul dan bangkit lagi dari kuburnya? Jangan bilang dia hanya berpura-pura hilang ingatan untuk membongkar segalanya? Sial!" ucap Alex dalam hati sambil menatap lurus ke arah Kafin.
Sedangkan Kafin yang melihat Alex hanya terdiam tanpa menanggapi perkataannya lantas menggoyangkan bahunya pelan, yang tentu saja langsung membuyarkan segala lamunan Alex dengan seketika begitu mendapati hal tersebut.
"Tentu Bro, tidak perlu mengkhawatirkan yang tidak penting. Aku yakin tidak akan terjadi apa-apa kepada Bianca, kamu tenang lah saja." ucap Alex sambil menepuk pundak Kafin saat itu.
"Terima kasih banyak." ucap Kafin kemudian yang di balas senyuman oleh Alex.
"Baiklah mari kita lihat apakah dia benar-benar hilang ingatan atau hanya pura-pura semata." ucap Alex dalam hati sambil menatap lurus ke arah depan.
**
Malam harinya
__ADS_1
Alice yang saat itu tidak bisa tidur, lantas terlihat melirik sekilas ke arah Kafin dimana saat itu ia terlihat sudah memejamkan kelopak matanya dengan sempurna. Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus dari mulut Alice saat itu. Bayangan satu persatu kejanggalan terus berputar di kepalanya saat ini, membuat Alice sama sekali tidak bisa tenang ketika memikirkan segala hal yang mungkin saja terjadi kepada dirinya.
Alice bangkit dari tidurnya dengan perlahan, sepertinya rasa penasarannya yang begitu besar membuatnya sulit sekali untuk mengacuhkannya begitu saja.
"Tidak ada salahnya jika mencari tahu hal tersebut, bukan? Lagi pula aku tidak akan bisa tidur jika belum meluruskan segalanya." ucap Alice dalam hati sambil menatap ke arah Kafin yang saat ini tengah tertidur dengan pulas.
Dengan gerakan yang perlahan Alice mulai bangkit dari tempat tidurnya dan bergerak keluar dari kamar utama. Entah ini sebuah firasat atau hanya tebakan semata, namun Alice yakin jika ia datang ke ruang kerja Kafin ia pasti akan menemukan sesuatu di sana.
**
Ruang kerja Kafin
Setelah berhasil masuk ke dalam ruang kerja Kafin, Alice terlihat mulai bergerak menyusuri area ruang kerja tersebut. Alice melangkahkan kakinya bergegas menuju ke arah beberapa tumpukan buku dan mencari sesuatu di sana namun setelah hampir melihat secara keseluruhan, Alice sama sekali tak menemukan apapun di sana selain hanya beberapa jurnal dan juga buku panduan.
"Kemana sebenarnya Kafin menyimpan sebuah berkas penting atau semacamnya?" ucap Alice pada diri sendiri sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar.
Sampai kemudian pandangannya lantas terhenti pada area kursi kebesaran milik Kafin. Melihat hal tersebut dengan langkah yang bergegas Alice langsung mengambil langkah kaki yang bergegas menuju ke area sana untuk mencari sesuatu.
Dibukanya beberapa laci bagian bawah meja tersebut dan mencari tahu apakah ada sesuatu yang bisa membantunya meluruskan semua teka-teki ini atau tidak.
"Apa yang sedang kamu lakukan Al?" tanya sebuah suara yang lantas langsung menghentikan gerakan tangan Alice dengan seketika.
Bersambung
__ADS_1