
"Apa yang membuat begitu marah? Aku yakin dia juga tidak sengaja lari ke tengah jalan tadi, jangan memarahinya seperti itu. Lihatlah dia sampai ketakutan seperti itu, ada apa sebenarnya dengan mu?" ucap sebuah suara yang langsung membuat Pria itu terdiam dengan seketika.
Mendengar sebuah suara yang tidak asing di pendengarannya saat itu, lantas langsung membuat Belinda bangkit dari posisinya dengan seketika. Belinda jelas yakin jika pemilik suara tersebut adalah seseorang yang ia kenali dan telah merubah dunianya beberapa tahun yang lalu.
Tepat ketika ia melihat seorang sosok wanita yang begitu melekat di ingatannya saat itu, tentu saja langsung membuat Belinda mendadak membeku di tempatnya saat itu juga. Entah ini jawaban dari rasa putus asanya atau memang Tuhan sedang baik kepadanya, hingga mengirimkan apa yang benar-benar ia butuhkan saat ini dan untuk kedepannya.
"Bunda!" ucap Belinda tanpa sadar sambil mulai mengambil langkah kaki secara perlahan menuju ke arah sosok wanita itu.
Wanita tersebut yang ternyata adalah Alice begitu mendengar satu panggilan yang selalu tersemat di ingatannya, lantas membuat Alice langsung menoleh dengan seketika ke arah sumber suara. Tatapan mata Alice terhenti pada sosok seorang gadis remaja, yang melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alice berada dan masih mengenakan seragam sekolahnya saat itu.
"Belinda? Apakah itu kamu?" ucap Alice yang terlihat mengingat-ingat sosok remaja yang saat ini tengah berada di hadapannya.
Belinda yang seakan tahu jika Alice pasti mengenali dirinya, lantas berlarian ke arah Alice dan langsung memeluk tubuh Alice sambil menangis dengan tersebut. Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Alice terpaku di tempatnya saat itu. Sedangkan Ashraf hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam ketika menyadari jika yang berada di hadapannya saat ini adalah putri Kafin, Belinda.
.
.
.
.
Alice yang baru saja keluar dari area supermarket terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Belinda berada saat ini. Alice yang melihat Belinda tengah duduk termenung di bangku taman saat itu, lantas menghela napasnya dengan panjang. Dengan langkah kaki yang perlahan Alice mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Belinda berada dan mengambil duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Terima kasih" ucap Belinda ketika menerima sebotol minuman dingin dafi Alice barusan.
Mendengar perkataan Belinda barusan lantas membuat Alice tersenyum dengan lembut. Entah apa yang akan ia katakan setelah sekian lama tidak pernah bertemu dengan Belinda. Namun ia masih benar-benar bersyukur karena Belinda bisa tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik seperti saat ini.
"Bagaimana kabar mu dan juga Alta? Apa kalian baik-baik saja?" ucap Alice kemudian mulai membuka topik pembicaraan, setelah keheningan melanda keduanya.
"Buruk.. Sangat-sangat buruk, kehidupan kami tidak berjalan dengan baik dan aku benci akan hal itu." ucap Belinda sambil menghembuskan napasnya dengan kasar.
Alice yang mendengar ucapan dari Belinda barusan tentu saja langsung mengernyit dengan seketika. Entah apa yang sedang di maksud oleh Belinda saat ini, namun yang jelas sebuah rasa penasaran kini mulai timbul di hatinya saat itu tepat setelah mendengar perkataan dari Belinda barusan.
"Sebenarnya aku ingin bertanya maksud dari ucapan mu barusan, namun sepertinya aku tidak berhak ikut campur dalam masalah kalian." ucap Alice dengan nada yang terdengar sendu sambil menatap lurus ke arah depan.
Mendengar hal tersebut tentu saja langsung membuat Belinda kecewa. Belinda membenci kata-kata yang keluar dari mulut Alice saat ini. Namun ia tidak bisa menyalahkannya karena nyatanya Kafin juga melakukan hal yang sama. Jadi bukankah keduanya impas?
"Tidak bisakah Bunda untuk kembali? Kehidupan kami benar-benar hancur setelah kepergian Bunda. Tidak bisakah Bunda..." ucap Belinda namun tercekat.
Belinda benar-benar tidak bisa meneruskan ucapannya, bagi Belinda tentu saja hal ini akan menjadi tidak adil untuk Alice jika dirinya saat ini meminta Alice untuk kembali. Padahal jelas-jelas Alice pergi atas keinginannya sendiri, tanpa paksaan ataupun semacamnya.
Alice yang melihat manik mata Belinda berkaca-kaca lantas langsung memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Alice yakin ada sesuatu yang telah terjadi kepada Belinda, namun Alice tidak berani bertanya akan hal tersebut.
Diusapnya punggung Belinda dengan lembut saat itu, seakan berusaha untuk menenangkan Belinda saat ini.
"Menangislah Bel, Bunda akan berada di sini untuk mu..." ucap Alice sambil mengusap punggung Belinda saat itu secara berulang kali.
__ADS_1
***
Sementara itu di kediaman Kafin, Altair yang tidak bisa menghubungi Belinda sedari tadi lantas mulai terlihat cemas. Entah kemana perginya Belinda hingga saat ini belum kembali ke Rumah.
Altair yang cemas akan keadaan Belinda kemudian terlihat melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan hendak mencari keberadaan Belinda. Mungkin bisa di mulai dari beberapa Rumah teman-teman Belinda, atau bahkan sahabatnya mungkin? Yang jelas saat ini Belinda harus di temukan.
"Dimana kamu Bel? Mengapa kamu tidak mengangkat panggilan telpon ku? Angkat Bel!" ucap Altair dengan nada yang terdengar begitu khawatir.
Sambil terus melangkahkan kakinya hendak keluar dan mencari keberadaan Belinda. Disaat langkah kakinya sampai di area meja makan, langkah kakinya lantas terhenti dengan seketika begitu ia melihat Kafin tengah duduk termenung di sana sambil menghisap puntung rokok di tangannya.
Manik mata Altair membulat dengan seketika, disaat ia begitu khawatir karena Belinda fak kunjung pulang ke Rumah hingga saat ini. Kafin malah dengan santainya duduk termenung di meja makan. Bukankah hal ini benar-benar menyebalkan?
Altair yang kesal akan sikap Kafin yang seperti acuh dan tidak menghiraukan sekelilingnya, kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Kafin berada saat itu. Membuat Kafin yang mendapati hal tersebut, lantas terlihat langsung menoleh ke arah Altair sekilas kemudian kembali menyesap rokoknya dengan santai.
"Apa Ayah benar-benar sesantai itu? Hingga anak gadis Ayah hilang saja, Ayah bahkan tidak menyadarinya! Bukankah Ayah keterlaluan?" ucap Altair dengan nada yang begitu kesal sambil menatap tajam ke arah Kafin saat itu.
"Mengapa kamu begitu heboh? Bukankah ini tidak hanya sekali kembaran mu pulang larut? Lalu apa bedanya dengan malam ini?" ucap Kafin dengan nada yang begitu santainya.
"Ayah..." ucap Altair kemudian namun langsung terhenti dengan seketika disaat suara deringan ponsel terdengar menggema di sana.
Sambil menarik napasnya dalam-dalam, Altair yang begitu marah akan segala halnya saat ini lantas mulai menggeser icon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Apa? Bagaimana mungkin?"
__ADS_1
Bersambung