Move

Move
Apa yang kamu lakukan?


__ADS_3

"Bagaimana anak ini bisa menyadari segalanya?" ucap Kafin yang seakan tak percaya jika Altair menyadari segalanya.


Altair yang melihat Kafin hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaannya, lantas menatap ke arah Kafin dengan tatapan yang menelisik.


"Ayah..." panggil Altair yang melihat Kafin hanya diam sambil terbengong menatap lurus ke arah depan.


"Em iya, maaf Ayah sedikit tidak fokus tadi..." ucap Kafin kemudian sambil mengusap rambut Altair dengan perlahan.


"Kamu tak perlu khawatir, Bunda hanya sedang tidak enak badan saja.. Soal Ayah yang memanggilnya Alice itu hanya sebuah nama panggilan khusus dari Ayah saja. Kamu tahu sendiri bukan jika Bunda sedang tidak sehat setelah kecelakaan waktu itu?" ucap Kafin berusaha untuk menjelaskan segalanya kepada Altair, berharap anak kecil ini mengerti dan tidak lagi bertanya.


"Benarkah Yah?" tanya Altair sekali lagi seakan tidak terlalu mempercayai perkataan Kafin, membuat Kafin yang mendengar pertanyaan tersebut lantas langsung mengangguk dengan pelan sambil tersenyum.


Melihat jawaban dari Ayahnya barusan membuat Altair langsung terdiam seketika. Ada sebuah perasaan yang masih mengganjal dalam dirinya. Entah mengapa penjelasan Ayahnya barusan sama sekali tidak membuat seorang Altair puas ketika mendengarnya.


"Apakah yang Ayah katakan sebuah kebenarannya? Mengapa aku sama sekali tidak bisa merasakannya?" ucap Altair dalam hati.


Disaat Altair ingin kembali membuka pertanyaan, sebuah suara yang berasal dari Belinda lantas langsung membuyarkan segalanya.


"Abang ayo kita pergi sekarang, Abel udah telat nih..." ucap Belinda sambil menarik tangan Altair begitu saja.


"Tapi Bel tunggu sebentar.. Abang..." ucap Altair hendak menolak namun tidak bisa.


"Ayah kita berdua pergi dulu, dadah Ayah... Muah..." ucap Belinda sambil menarik tangan Altair secara paksa agar segera mengikuti langkah kakinya.


Mendapat tarikan tersebut tentu saja membuat Altair mau tidak mau mulai mengikuti langkah kaki Belinda saat ini dan meninggalkan Kafin seorang diri di sana. Ditatapnya punggung keduanya yang terlihat mulai meninggalkan area mansion dengan tatapan yang intens.

__ADS_1


"Semoga saja Altair percaya akan perkataan ku dan tidak membahas hal ini bersama dengan Alice atau semuanya akan benar-benar kacau." ucap Kafin pada diri sendiri sambil mulai membawa langkah kakinya pergi kembali menuju ke lantai atas dan bersiap pergi ke kantor.


***


Kamar utama


Alice yang baru saja selesai mandi lantas mulai melangkahkan kakinya keluar dari area kamar mandi hanya dengan mengenakan jubah mandi saja. Sampai kemudian ketika Alice melihat pintu kamar utama yang tiba-tiba terbuka tentu saja langsung membuat Alice terkejut dengan seketika, begitu pula Kafin yang memang baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.


"Kamu benar-benar mengejutkan ku!" pekik Alice ketika melihat Kafin yang tiba-tiba saja masuk.


Sedangkan Kafin yang mendengar perkataan dari Alice barusan, lantas langsung terdiam dengan seketika. Melihat Alice saat ini mengingatkannya akan kenyataan bahwa ia telah merenggut sesuatu yang berharga dalam diri Alice. Yang tentu saja membuat Kafin menyesal sekaligus bersyukur ketika mengetahui akan hal tersebut.


Setidaknya melalui hal itu Kafin mengetahui jika ia adalah orang pertama yang berhasil memasuki gawang milik Alice dan Kafin akan pastikan jika ia jugalah yang akan menjadi orang paling terakhir yang memilikinya.


"Maaf" ucap Kafin dengan tiba-tiba yang tentu saja langsung membuat Alice mengernyit begitu mendengar permintaan maaf dari Kafin saat ini.


Kafin benar-benar tidak sadar jika mengatakan permintaan maaf dengan tiba-tiba kepada Alice, membuat Kafin nampak kelabakan ketika mendapati pertanyaan dari Alice barusan tentang permintaan maaf darinya.


"Maaf untuk.... Karena semalam aku telah bermain kasar.. Padahal seharusnya aku memperlakukan mu dengan begitu lembut, bukankah begitu?" ucap Kafin mulai mencari alasan yang masuk akal untuk pertanyaan dari Alice barusan.


"Akhh ku kira sesuatu yang lain... Boleh ku tanya sesuatu kepadamu?" ucap Alice kemudian dengan nada yang terdengar ragu-ragu.


"Tentu saja, katakan Al ada apa?" ucap Kafin kemudian.


"Siapa sebenarnya Bianca?" tanya Alice dengan tiba-tiba yang lantas membuat Kafin terkejut begitu mendengar hal tersebut.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan tersebut ekspresi raut wajah Kafin langsung berubah dengan seketika. Sambil menarik napasnya dalam-dalam berusaha untuk menenangkan dirinya, Kafin mulai mengambil langkah kaki mendekat ke arah dimana Alice berada saat ini dan mengusap dengan lembut area pundak Alice saat itu.


"Bianca adalah nama kecil mu dulu, aku tahu agak sedikit aneh karena Bianca dan Alice sangatlah jauh. Tapi yang jelas entah itu Bianca ataupun Alice keduanya adalah satu yaitu kamu." ucap Kafin kemudian yang lantas membuat Alice langsung terdiam dengan seketika.


"Benarkah yang dikatakan olehnya? Mengapa aku malah merasakan sesuatu yang lain?" ucap Alice dalam hati begitu mendengar penjelasan dari Kafin barusan.


"Tak perlu terlalu di pikirkan, aku pergi mandi dulu dan bersiap ke kantor." ucap Kafin sambil mengecup singkat kening Alice sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana, menyisakan tatapan yang tidak percaya kepada Alice saat itu.


"Entah mana yang benar, antara perkataan Kafin atau perasaan yang bergejolak di dalam hati ku." ucap Alice pada diri sendiri sambil menatap kepergian Kafin yang terlihat memasuki area kamar mandi.


***


Salah satu tempat hiburan malam di Ibukota


Setelah memastikan Kafin berangkat ke kantor sebelumnya, Alice saat ini terlihat turun dari sebuah taksi dan mulai membawa langkah kakinya masuk lebih dekat lagi ke Bar tersebut.


Sambil menarik napasnya dalam-dalam Alice mulai mengambil langkah kaki perlahan memasuki area tempat hiburan malam tersebut.


Suasana bagian dalam tempat hiburan malam tersebut terlihat sangatlah ramai walau saat ini masih pagi hari sekalipun. Namun nyatanya hal itu sama sekali tak membuat tempat ini sepi dari seorang pelanggan.


Alice mulai mengedarkan pandangannya sekilas ke arah sekitaran sambil berusaha untuk mengingat-ingat apa yang sedang terjadi kepadanya di mulai dari tempat ini. Pandangan mata Alice kemudian terhenti pada kursi yang tak asing di ingatannya saat itu. Sambil mulai mengambil langkah kaki yang perlahan Alice mulai mengambil duduk di tempat tersebut dan mengusapnya secara perlahan.


"Aku mengingat hal ini, hanya saja apa yang terjadi setelahnya? Mengapa aku sama sekali tidak bisa mengingat segala hal yang terjadi selanjutnya kepadaku?" ucap Alice kemudian pada diri sendiri sambil mulai menundukkan kepalanya seakan mencoba untuk mengingat-ingat apa yang sedang terjadi kepadanya.


Disaat Alice tengah mencoba memikirkan satu persatu apa yang terjadi dengannya, sebuah suara yang agak asing mulai terdengar menggema di telinganya berbarengan dengan suara musik yang terdengar begitu keras di telinga.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan di sini?"


Bersambung


__ADS_2