
Brak
"Kurang ajar! Apa sebenarnya yang dia inginkan! Apa kerjaannya hanya bisa mengganggu ku saja?" pekik Kafin dengan tiba-tiba sambil menggebrak meja kerjanya saat itu.
Dimas yang tidak menyangka jika Kafin akan melakukan hal tersebut, lantas sedikit tersentak akan suara keras yang timbul dari gebrakan meja yang di lakukan oleh Kafin tersebut. Membuatnya terlihat menatap ke arah Kafin dengan raut wajah yang penasaran sekaligus khawatir, jika sampai kali ini ia membuat sebuah kesalahan fatal, melihat dari bagaimana Kafin bereaksi saat ini.
"A...apakah ada sesuatu Tuan? Mungkinkah saya salah bicara barusan?" ucap Dimas dengan nada yang terdengar ragu-ragu takut jika Kafin akan kembali marah kepadanya.
Mendengar suara Dimas yang seperti agak sumbang, lantas membuyarkan segala pemikiran Kafin saat itu. Helaan napas terdengar jelas berhembus kasar dari mulutnya. Kafin yang sadar jika ia terlalu terbawa suasana barusan, lantas terlihat kembali duduk pada kursi kebesarannya sambil memijit pelipisnya dengan perlahan.
"Aku sedang banyak pikiran belakangan ini, kamu atur saja semuanya dulu. Aku sama sekali tidak berminat untuk membahas masalah pekerjaan saat ini." ucap Kafin masih sambil memijit pelipisnya saat itu dengan perlahan.
"Apakah anda baik-baik saja Tuan? Mau saya panggilkan Dokter?" tanya Dimas kemudian yang terlihat memasang raut wajah yang khawatir saat ini, raut wajah Kafin bahkan terlihat tidak begitu semangat kali ini.
"Tidak perlu kau boleh pergi sekarang, jika bisa kosongkan agenda ku hari ini. Aku sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun." ucap Kafin yang lantas membuat manik mata Dimas membulat dengan seketika.
Ingin rasanya Dimas mengatakan tidak, mengingat begitu padatnya agenda Kafin saat ini. Hanya saja melihat Kafin yang tidak fokus dan juga terlihat begitu lelah, membuat Dimas mau tidak mau harus mengiyakan permintaan Kafin saat ini. Meski mungkin resikonya akan ada banyak klien yang sedikit tidak terima akan perubahan agenda pertemuan mereka dengan tiba-tiba. Namun tentunya sebuah perintah tetaplah perintah, membuat Dimas tidak bisa membantah sama sekali perintah tersebut.
"Baiklah Tuan, kalau begitu saya permisi dulu." ucap Dimas pada akhirnya sebelum kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan ruangan Kafin.
***
Elementary School
Dari arah salah satu ruang kelas, di sana terlihat Belinda tengah melangkahkan kakinya secara perlahan keluar dari kelasnya. Belinda terlihat mendudukkan pantatnya di salah satu bangku taman yang terletak tidak jauh dari kelasnya saat itu.
__ADS_1
Cuaca hari ini terlihat begitu cerah, namun nyatanya tak bisa melukiskan bagaimana suasana hatinya saat ini.
Belinda menyandarkan punggungnya sambil memasang raut wajah yang sendu menatap ke arah langit siang itu, membuat Tia yang tidak sengaja lewat di dekat Belinda lantas langsung mengambil posisi duduk tepat di sebelahnya.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi? Boleh aku bergabung bersama mu?" tanya Tia dengan raut wajah yang penasaran.
Mendengar sebuah suara yang tak asing dengan tiba-tiba barusan, tentu saja langsung membuat Belinda menoleh ke arah sumber suara. Ditatapnya Tia yang saat itu tengah memasang raut wajah yang peduli ke arahnya dengan tatapan yang bingung.
Ini bahkan pertama kalinya Tia begitu peduli kepadanya, biasanya apapun yang terjadi dengannya meskipun Tia melihatnya sekalipun Tia tidak akan pernah ikut campur. Hanya saja entah mengapa hari ini begitu berbeda, Tia yang tidak pernah mengucapkan sepatah kata apapun kepadanya mendadak menyapanya, seakan-akan keduanya saling mengenal antara satu sama lain.
"Cih kita bahkan tidak sedekat itu, hingga membuat ku harus menjawab pertanyaan mu barusan" ucap Belinda dengan nada yang datar sambil membuang mukanya saat itu.
"Jika saja kemarin aku tidak mendengar hal yang membuat ku penasaran aku tidak akan sudi untuk menyapanya!" ucap Tia sambil memutar bola matanya dengan jengah.
**
Tia yang malam itu terbangun karena rasa haus yang memenuhi kerongkongannya, lantas mulai membawa langkah kakinya menuruni anak tangga hendak menuju ke arah dapur dan mengisi botol minumnya.
Secercah cahaya yang berasal dari ruangan kerja Alex saat itu, lantas menghentikan langkah kaki Tia yang begitu penasaran akan apa yang sedang di lakukan Alex tengah malam begini.
"Apa Papa sedang lembur?" ucap Tia pada diri sendiri sambil membawa langkah kakinya menuju ke arah ruangan kerja Alex saat itu.
Srak....
"Sialan, apa kamu tidak bisa menemukan jawaban apapun akan pertanyaan ku yang begitu mudah? Bukankah aku meminta mu untuk mencari tahu hubungan Alice dan juga Kafin saat ini? Ini bahkan perihal mudah! Mengapa kau lambat sekali?" pekik Alex yang terlihat sambil melempar beberapa berkas begitu saja.
__ADS_1
Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Tia terdiam membatu di tempatnya, ia bahkan tidak berani melangkah lebih jauh lagi saat ini. Sepertinya suasana hati Alex benar-benar sedang tidak kondusif saat ini.
"Bukankah Kafin adalah Ayah Altair dan juga Belinda? Lalu siapa Alice? Apa yang membuat Papa begitu marah akan keduanya?" ucap Tia dalam hati sambil menerka-nerka segalanya.
Flashback off
**
"Jangan terlalu sewot begitu, bukankah aku bertanya secara baik-baik kepadamu?" ucap Tia masih di batas sabarnya menghadapi kata-kata ketus yang keluar dari mulut Belinda saat itu.
Sedangkan Belinda yang mendengar perkataan dari Tia barusan hanya memutar bola matanya dengan jengah. Belinda bangkit dari tempat duduknya ketika merasa tidak ada lagi yang harus ia bicarakan dengan Tia saat ini. Namun Tia yang mendapati hal tersebut, nyatanya langsung berusaha untuk mencegah kepergian Belinda. Membuat Belinda mulai risih akan tingkah Tia yang terkesan begitu tiba-tiba.
"Apa sebenarnya yang kamu inginkan? Aku sedang tidak ingin bermain dengan mu." ucap Belinda yang mulai terlihat risih.
Tia nampak tersenyum ketika mendapat pertanyaan tersebut dan perlahan-lahan mulai melepas pegangan tangannya saat itu juga.
"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu, tapi janji kamu akan menjawabnya dengan jujur." ucap Tia dengan raut wajah yang serius, membuat Belinda lantas mengernyit ketika mendengarnya langsung dari mulut Tia saat ini.
"Iya, katakan saja dengan cepat! Aku masih ada urusan lain saat ini." ucap Belinda kemudian.
Mendengar jawaban tersebut lantas membuat Tia tersenyum dengan simpul. Sambil mulai melangkahkan kakinya sedikit lebih dekat lagi kepada Belinda, Tia terlihat mulai membisikkan sesuatu di telinganya saat itu.
"Bisakah kamu memberi tahu ku siapa Alice sebenarnya?" ucap Tia dengan nada yang terdengar begitu polosnya, namun berhasil membuat Belinda terkejut bukan main ketika mendengar hal tersebut.
"Apa katamu?" pekik Belinda yang tentu saja mengejutkan Tia yang berada tepat di sebelahnya.
__ADS_1
Bersambung