Move

Move
Mengikhlaskan itu tidaklah buruk


__ADS_3

"Apa nya yang tidak bisa?" ucap sebuah suara yang tentu saja langsung mengejutkan keduanya.


Mendengar sebuah suara tak asing di pendengaran keduanya, membuat Kafin dan juga Alice nampak bangkit dan langsung menatap ke arah sumber suara.


Manik mata Alice nampak membulat ketika ia mengetahui jika pemilik suara tersebut adalah Ashraf.


"Ashraf.. Bagaimana bisa kamu ada di sini?" ucap Alice dengan nada yang tergagap.


"Tentu saja bisa, setidaknya cukup untuk mengetahui isi hatimu yang sebenarnya." ucap Ashraf dengan nada yang terdengar begitu datar.


Tak tak tak


Suara derap langkah kaki milik Ashraf saat itu, benar-benar membuat perasaan Alice menjadi tak karuan. Entah mengapa melihat wajah datar milik Ashraf saat ini, benar-benar membuatnya takut.


Ashraf terlihat menghentikan laangkah kakinya tak jauh dimana Alice dan juga Kafin berada saat itu. Ditatapnya Alice dan juga Kafin secara bergantian kemudian menghela napasnya dengan panjang.


"Apakah kamu tidak akan menjawab pertanyaan ku Al?" ucap Ashraf dengan nada yang terdengar begitu aneh bagi Alice, membuat Alice langsung mengernyit ketika mendapat pertanyaan tersebut barusan.


"Apa.. Maksud dari pertanyaan mu barusan?" ucap Alice yang seakan tidak mengerti arah dari pembicaraan Ashraf saat ini.


Kafin yang seakan tahu situasi yang terjadi saat ini, lantas mulai maju dan mencoba untuk berbicara dengan Ashraf. Hanya saja tangan Ashraf yang berhenti tepat di hadapannya, lantas menghentikan gerakan mulut Kafin yang hendak menjelaskan segalanya saat itu.


"Aku rasa kamu perlu mendengarkan..." ucap Kafin namun langsung terhenti dengan seketika.


"Aku rasa kalian berdua sudah terlalu banyak bicara sedari tadi, jadi kali ini biarkan aku yang berbicara." ucap Ashraf yang lantas membuat mulut keduanya langsung terkunci dengan seketika.


"Aku tidak tahu harus mengatakan apa disaat aku telah melihat segalanya dengan kedua mata ku. Selama ini aku rasa, aku terlalu egois dan menutup segala hal yang berhubungan dengan dunia luar untuk Alice dan juga Caramel. Rasa takut kehilangan yang aku rasakan benar-benar membuat ku gelap mata dan tanpa sadar membatasi gerakan keduanya. Namun satu perkataan yang berasal dari mulut putra putri mu, membuat mata hati ku terbuka secara perlahan-lahan." ucap Ashraf dengan raut wajah yang terlihat begitu sendu.


Mendengar hal tersebut, baik Kafin dan juga Inara hanya bisa menatap bingung ke arah Ashraf ketika mendengar setiap kata-kata aneh keluar dari mulut Pria tersebut.


"Ada apa sebenarnya ini Ash? Jangan melantur dan ayo pergi dari sini, bukankah harusnya kita ada di Ballroom hotel dan melangsungkan pernikahan saat ini?" ucap Alice sambil menarik tangan Ashraf saat itu.


Hanya saja Ashraf yang mendapat pertanyaan tersebut, lantas menghempaskan pegangan tangan Alice saat ini. Membuat Alice menjadi terkejut dengan seketika begitu mendengar hal tersebut.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan?" ucap Alice dengan raut wajah yang bertanya-tanya saat itu.


Mendengar perkataan Alice barusan, membuat Ashraf tersenyum dengan tipis kemudian menarik tangan Alice dan membawanya mendekat ke arah dimana Kafin berada saat itu.


"Aku memang pernah salah, tapi kali ini aku tidak akan salah dalam membuat keputusan. Rasa cinta satu orang nyatanya tidak akan cukup untuk sebuah hubungan. Dalam sebuah hubungan kita butuh timbal balik dan juga rasa suka antara satu sama lainnya. Jangan menjadikan ku orang jahat yang seakan tak perduli dengan pasangannya. Kamu berhak untuk bahagia Al..." ucap Ashraf yang tentu saja membuat Alice terkejut ketika mendengarnya secara langsung dari Ashraf barusan.


"Ashraf" ucap Alice yang seakan terkejut saat itu.


Dipeluknya tubuh Ashraf dengan erat sambil terus mengucapkan kata terima kasih berulang kali. Entah apa yang di katakan oleh Altair dan juga Belinda hingga dapat merubah pendirian Ashraf yang begitu kokoh. Namun terlepas dari itu semua Alice benar-benar sangat bersyukur karenanya.


"Mengikhlaskan itu tidak lah buruk, bukan?" ucap Ashraf dengan nada yang terdengar begitu santai saat itu.


"Terima kasih banyak..." ucap Alice dengan raut wajah yang bahagia hingga tanpa sadar malah menangis saat itu.


"Mengapa kamu menangis? Ayolah Al.. Bukankah harusnya aku yang menangis saat ini?" ucap Ashraf dengan nada yang menggoda.


Mendengar perkataan tersebut gelak tawa lantas terdengar memenuhi area itu. Kafin sendiri bahkan tidak menyangka jika Ashraf akan memilih untuk melepaskan Alice kepadanya begitu saja. Padahal sebelumnya justru Kafin lah yang hendak menyerah demi kebahagiaan keduanya.


****


Keadaan keluarga tersebut benar-benar telah kacau tepat setelah Alex dipenjara. Semua partai yang semula mendukung Alex memilih untuk mundur dan menggantinya dengan calon yang baru.


Tidak hanya itu karir Darmawangsa sebagai pejabat juga harus berakhir dan lengser, ketika beberapa kasus gelapnya mulai terungkap ke permukaan seiring dengan kasus Alex yang sempat melejit saat itu.


Cicil tidak tahu lagi harus bagaimana ketika masalah kian datang bertubi-tubi padanya, membuatnya semakin merasa stres dengan keadaan keluarganya saat ini.


"Sial! Bagaimana bisa semua jadi seperti ini? Ini semua gara-gara Kafin dan perempuan sialan itu!" pekik Cicil dengan nada yang meninggi sambil mengacak-acak rambutnya dengan kuat.


Disaat Cicil tengah sibuk meratapi nasibnya, beberapa suara ribut-ribut di luar mulai terdengar dan membuat Cicil penasaran.


"Tunggu sebentar Tuan.. Anda tidak bisa memaksa masuk seperti ini. Tuan tunggu..." ucap seseorang saat itu.


"Ada apa ini Bi?" tanya Cicil dengan raut wajah yang penasaran.

__ADS_1


"Dengan Ibu Cicil Darmawangsa? Kami dari petugas KPK ingin menyampaikan informasi jika Rumah ini beserta isinya tengah dalam proses pemeriksaan. Diharapkan kepada keluarga bapak Darmawangsa untuk meninggalkan kediamannya tanpa membawa satu pun barang yang termasuk dalam Rumah ini." ucap seorang Pria dengan pakaian setelan jas hitam.


"Apa? Tidak bisa semudah itu dong! Enak aja..." ucap Cicil dengan nada yang tak enak di dengan saat itu.


Hanya saja sayangnya Pria tersebut sam sekali tak mendengarkan perkataan Cicil dan langsung mengkode beberapa anak buahnya agar mulai bergerak saat itu.


"Berhenti! Jangan sentuh apapun.. Ku bilang berhenti!" pekik Cicil dengan nada yang kesal.


***


Satu bulan kemudian


Di sebuah pantai yang terletak di Bali terlihat Alice, Kafin, Altair, Belinda dan juga Caramel nampak sibuk menggelar tikar di tepi pantai. Raut wajah bahagia terlihat jelas di wajah mereka saat itu, membuat suasananya kian terasa begitu hangat.


Altair nampak menggendong Caramel sambil membawanya menuju ke arah bibir pantai, membuat Belinda yang mendapati tingkah Altair saat itu lantas terlihat mengejar langkah kakinya.


"Berhenti Abang, kalian mau pergi kemana?" ucap Belinda dengan nada yang meninggi.


"Pelan-pelan nanti kalian bisa jatuh..." teriak Alice ketika mendapati ketiga anak-anaknya bercanda sambil berlarian ke sana ke mari.


"Tenang saja Bun, tidak perlu khawatir.. Nikmati saja waktu kalian berdua saat ini..." teriak Altair yang lantas membuat manik mata Alice membulat dengan seketika.


Mendengar perkataan Altair yang begitu absurd saat itu, membuat Alice langsung menelan salivanya dengan kasar. Perasaan tidak enak bahkan sudah mulai menerpa dirinya saat itu.


Gelayar aneh terasa perlahan-lahan semakin naik dari area punggungnya, membuat Alice langsung memutar bola matanya dengan jengah ketika menyadari ulah siapa barusan.


"Hentikan Kaf.. Apa kamu tidak malu? Ini bahkan tempat umum." ucap Alice dengan nada yang terdengar datar.


Namun bukan Kafin namanya yang akan mendengarkan perkataan Alice begitu saja. Dengan tawa yang terdengar menggema di sana, Kafin terlihat menarik tubuh Alice ke dalam pelukannya sambil menggelitiki area perut Alice saat itu. Membuat gelak tawa karena kegelian terdengar jelas di area sana.


"Tidak akan ku biarkan kamu lolos begitu saja!" ucap Kafin dengan nada yang berbisik lirih di telinga Alice saat itu.


"Hentikan Kaf.. Hentikan... Hahahaha"

__ADS_1


...The end...


__ADS_2