
Setelah kejadian Altair yang mendadak meminta untuk berhenti tanpa alasan yang jelas. Saat ini mobil yang di kendarai oleh Arman nampak terlihat berhenti di area parkiran Cafe Bintang, membuat seulas senyum terlihat dengan jelas di wajah Altair saat itu.
"Apa anda yakin Den jika miss Siska mengatakan untuk datang ke Cafe ini? Jika sampai tidak, maka Bapak akan di marahi oleh Tuan dan Nyonya nanti." ucap Arman dengan nada yang terdengar ragu menatap melalui kaca spion.
"Apa yang sebenarnya Abang rencanakan? Jika sampai Ayah tahu dia pasti akan marah besar." ucap Belinda dengan nada yang berbisik kepada Altair saat itu.
"Tenanglah Bel..." ucap Altair mencoba untuk meyakinkan Belinda jika semua akan baik-baik saja saat ini.
"Iya Pak, Pak Arman tunggu di sini.. Biar saya masuk ke dalam dan menemui miss Siska." ucap Altair kemudian sambil mulai membuka pintu mobil dan bersiap turun dari sana.
Belinda yang sama sekali tidak mengetahui rencana Altair saat itu, hanya bisa mengikuti langkah kaki Altair pergi sambil terus bertanya-tanya apa yang sebenarnya hendak di lakukan oleh Altair saat ini.
Disaat Belinda dan juga Altair terlihat turun dari dalam mobil, lain halnya dengan Arman yang terlihat khawatir dengan hal ini. Arman jelas tahu jika hal ini adalah salah namun entah mengapa ia malah terjebak dan mengikuti kemauan dua anak kecil tersebut.
"Jika sampai ini semua hanya tipu muslihat mereka berdua mati aku. Apa yang akan dilakukan Tuan kepadaku jika sampai mengetahui hal ini?" ucap Arman sambil menatap kepergian keduanya yang terlihat semakin masuk ke dalam Cafe.
***
Area dalam Cafe
Dengan perlahan keduanya mulai mengambil langkah kaki masuk ke dalam Cafe tersebut dan mengambil duduk di area tempat paling strategis di sana. Seorang pelayan Cafe nampak mulai mendekat ke arah keduanya ketika melihat kedatangan Altair dan juga Belinda barusan.
"Maaf ya adik-adik tidak boleh main di sini, kecuali ketika kalian datang bersama orang tua kalian. Lagi pula apa kalian tidak pergi ke Sekolah?" ucap pelayan tersebut dengan nada yang lembut kepada keduanya.
"Kami berdua di suruh orang tua kami menunggu di sini, jika kamu tidak percaya kamu bisa mengawasi kami di sini." ucap Altair dengan nada yang santai.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut pelayan itu nampak terdiam seakan berusaha untuk menimbang keputusan apa yang akan ia ambil saat ini. Sampai kemudian pelayan itu nampak menghela napasnya dengan panjang dan kembali menatap ke arah keduanya lekat-lekat.
"Jika melihat dari pakaian mereka berdua, aku yakin mereka berdua adalah anak orang kaya. Apa yang harus aku lakukan? Jika aku mengusir mereka berdua pasti nanti aku akan mendapat masalah, namun jika membiarkan mereka berdua di sini di saat jam sekolah, aku pasti akan kena marah Bos..." ucap pelayan tersebut dalam hati dengan raut wajah yang kebingungan.
Altair yang seakan tahu jika akan sangat sulit berada di sini mengingat saat ini adalah jam sekolah, lantas membuat Altair merogoh saku celananya dan mengeluarkan uang pecahan dua lembar seratus ribuan dan langsung ia berikan kepada pelayan tersebut.
"Ini untuk mu..." ucap Altair sambil memberikan uang tersebut ke dalam genggaman tangan pelayan tersebut.
"Baiklah tapi janji jangan nakal karena jika kalian ketahuan bolos sekolah hari ini dan menipu Kakak, maka Kakak akan langsung di marahi oleh bos Kakak." ucap pelayan tersebut memperingati.
"Tentu saja Kak, tak perlu khawatir..." ucap Altair kemudian, sedangkan Belinda yang tidak tahu apa-apa hanya mengikuti Altair saja sedari tadi.
Setelah mengatakan hal tersebut pelayan itu nampak mulai melangkahkan kakinya menjauh dari Altair dan juga Belinda, sedangkan Altair dan juga Belinda yang melihat kepergian dari pelayan tersebut lantas mengacuhkannya begitu saja.
"Diam lah aku sedang menantikan kedatangan Bunda di sini!" ucap Altair sambil fokus menatap ke area sekitaran dengan tatapan yang intens.
"Apa kedatangan Bunda? Jangan bilang... Yang kamu katakan tadi pagi adalah Bunda?" ucap Belinda dengan raut wajah yang terkejut ketika mengetahui hal tersebut.
"Iya benar, makanya kamu jangan berisik. Diam dan fokuslah menatap ke arah sekitar, cari tahu apakah Bunda sudah datang atau belum." ucap Altair kemudian sambil fokus menatap ke arah sekeliling.
.
.
.
__ADS_1
.
Hampir satu jaman menunggu di area Cafe tersebut, pada akhirnya penantian panjang Altair dan juga Belinda tidak terbuang dengan sia-sia. Dari arah pintu utama terlihat Alice mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam area Cafe, tanpa menyadari jika tak jauh dari tempatnya berada Altair dan juga Belinda tengah mengintainya.
"Bunda datang!" ucap Altair kemudian yang langsung membuat Belinda menoleh ke arah tunjuk Altair saat itu.
***
Alice yang sama sekali tidak menyadari akan kehadiran Belinda maupun juga Altair di area Cafe tersebut, lantas terus melangkahkan kakinya menyusuri setiap meja yang berada di area Cafe tersebut. Hingga kemudian langkah kakinya berhenti tepat di area sudut Cafe itu, di mana ia melihat Ashraf tengah menunggunya di salah satu meja yang terletak di sudut Cafe.
"Aku minta maaf karena datang secara terlambat, apa kamu sudah menunggu cukup lama? Aku masih harus menunggu Kafin berangkat bekerja dan juga anak-anak ke Sekolah." ucap Alice kemudian yang lantas membuat Ashraf mendongak menatap ke arah sumber suara.
Mendengar Alice yang membicarakan tentang keluarganya, entah mengapa membuat rasa sakit hati sedikit terasa di area hatinya saat itu. Ashraf seakan tidak suka jika Alice membicarakan Kafin ataupun kedua bocah kembar tersebut. Baginya segala hal yang di bicarakan oleh Alice barusan hanya terasa seperti sebuah ilusi yang di paksakan agar terlihat senyata mungkin.
"Tidak perlu merasa bersalah, aku bahkan belum menunggu terlalu lama di sini...." ucap Ashraf mencoba untuk tersenyum walau nyatanya terasa begitu sulit baginya.
"Baiklah jika begitu, mari kita bicara secara langsung saja. Apa yang membuat mu begitu yakin jika semua hal yang terjadi di sekeliling ku adalah sebuah kepalsuan." ucap Alice kemudian menatap ke arah Ashraf dengan raut wajah yang penasaran.
Sedangkan Ashraf yang mendengar perkataan dari Alice barusan, lantas tersenyum dengan tipis. Ashraf terlihat menautkan kedua tangannya di atas meja kemudian dan menatap ke arah Alice dengan tatapan yang Intens, membuat Alice lantas mengernyit dengan tatapan yang bingung ketika mendapati tingkah Asraf saat ini.
"Apapun yang ingin kau tanyakan aku akan memberikan segala jawabannya kepadamu. Bukankah terlalu banyak pertanyaan yang berputar dan memenuhi kepala mu selama ini?" ucap Ashraf kemudian.
"Aku...." ucap Alice dengan raut wajah yang bingung.
Bersambung
__ADS_1