
Kafin yang mengetahui jika Alice mengunci pintu kamar dari dalam, lantas terlihat berdecak dengan kesal. Diketuknya pintu kamar utama berulang kali seakan mencoba untuk memanggil Alice agar membukakan pintu kamar utama untuknya.
"Al buka pintunya sebentar.. Kita bicarakan ini baik-baik.. Al aku tahu aku salah, aku minta maaf ya..." ucap Kafin sambil terus mengetuk pintu kamar tersebut berulang kali.
Hanya saja entah mengapa, meski telah di ketuk berulang kali namun Alice tak kunjung menjawab panggilannya. Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Kafin menjadi begitu khawatir karena tidak mendengar suara apapun di dalam kamar.
Kafin yang takut terjadi sesuatu di dalam, lantas mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah almari yang berada tidak jauh dari kamar utama. Dengan gerakan yang cepat Kafin mulai membuka laci kecil di almari dan mengambil kunci cadangan di sana.
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Kafin kemudian mulai mengambil langkah kaki yang bergegas menuju kembali ke kamar utama. Di bukanya pintu kamar tersebut menggunakan kunci cadangan yang baru saja ia ambil.
Ketika pintu berhasil di buka oleh Kafin, terlihat Kafin mulai mengambil langkah kaki besar masuk ke dalam kamar.
"Alice!" pekik Kafin begitu ia masuk ke dalam kamarnya.
Kafin benar-benar terkejut ketika ia masuk dan mendapati Alice sudah tergeletak di lantai, dengan berbagai kertas dan juga foto yang berserakan di lantai kamarnya. Melihat hal tersebut lantas membuat Kafin berlarian menuju ke arah dimana Alice berada dan langsung mengangkat kepala Alice dengan perlahan.
"Al bangun... Alice... Apa yang terjadi sebenarnya?" ucap Alice sambil menepuk pipi Alice mencoba untuk menyadarkan Alice dari pingsannya.
Disaat kepanikan melanda dirinya saat itu, Pandangan mata Kafin terhenti pada berkas data diri Alice yang tergeletak tepat di dekat dirinya. Terlihat jelas beberapa foto keluarga dan juga Alice selama masa hidupnya, membuat manik mata Kafin langsung membulat seketika di sertai dengan kilatan amarah yang terlihat jelas di sana.
"Sialan!" pekik Kafin dengan nada yang kesal.
__ADS_1
Kafin yang seakan tahu apa yang terjadi saat ini, lantas langsung mengangkat tubuh Alice ala bridal style dan membaringkannya ke ranjang kamarnya dengan hati-hati.
Dirogohnya ponsel miliknya yang terletak di saku celananya kemudian mulai mendial nomor Dimas di sana.
"Halo Tuan..." ucap sebuah suara di seberang sana.
"Panggil Dr. Rehan sekarang juga! Aku harap dalam waktu lima menit dia harus sudah sampai di tempat ku." ucap Kafin memberikan perintah kepada Dimas.
"Tentu Tuan..." jawab Dimas sebelum pada akhirnya panggilan telpon tersebut di putus oleh Kafin setelah mendengar jawaban dari Dimas barusan.
Disaat Kafin tengah kebingungan dan juga akan kondisi Alice saat ini, tanpa Kafin sadari kelopak mata Alice mulai terbuka secara perlahan begitu mendengar suara ribut-ribut yang berasal dari Kafin.
Ditatapnya atap kamarnya dengan tatapan yang intens, pandangan matanya saat ini bahkan terasa begitu kabur disertai dengan sakit kepala yang masih melanda kepalanya.
"Kaf...." panggil Alice dengan nada yang terdengar begitu lirih.
Kafin yang mendengar sebuah suara tidak asing di pendengarannya saat itu, tentu saja langsung terkejut sekaligus berbalik badan menatap ke arah sumber suara. Ketika dirinya berbalik badan saat itu Alice sudah terduduk sambil menatap ke arahnya dengan tatapan yang aneh, membuat Kafin lantas langsung mempercepat langkah kakinya dan mendekat ke arah di mana Alice berada saat ini.
"Al apa kamu baik-baik saja? Bagian mana yang sakit? katakan kepadaku... Jangan membuatku khawatir seperti ini, apa yang sebenarnya terjadi kepadamu? Jika memang ini semua karena diriku, aku benar-benar minta maaf... Aku... Aku benar-benar mengaku salah, jangan membuat ku khawatir seperti ini Al." ucap Kafin dengan nada yang penuh ke khawatiran.
Mendengat hal tersebut Alice lantas terdiam dengan seketika. Ditatapnya manik mata khawatir milik Kafin saat itu kemudian menghela napasnya dengan panjang. Seulas senyum terlihat terbit di wajahnya saat itu, membuat Kafin yang melihat senyuman tersebut lantas langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung.
__ADS_1
"Kepala ku hanya pusing sedikit, mengapa kamu panik sekali?" ucap Alice dengan nada yang begitu lembut, membuat Kafin semakin kebingungan ketika mendapati perkataan dari Alice barusan.
Kafin yang tadinya mengira jika Alice akan mengingat sesuatu setelah melihat beberapa kehidupan di masa lalunya. Namun setelah mendengar perkataan Alice barusan, membuat Kafin langsung kebingungan akan perkataan aneh yang keluar dari mulut Alice barusan. Seakan-akan seperti tidak ada yang terjadi sama sekali kepadanya.
"Benarkah? Apakah kamu tidak mengingat sesuatu?" ucap Kafin dengan raut wajah yang penasaran.
"Maksudnya? Apakah terjadi sesuatu ketika aku pingsan tadi?" ucap Alice sambil menatap dengan tatapan yang menelisik ke arah Kafin saat ini.
"Tidak, bukan itu maksud ku... Tapi ya sudahlah, aku bersyukur jika kamu baik-baik saja sekarang. Aku akan turun kamu istirahatlah, sebentar lagi akan ada Dokter yang datang dan memeriksa keadaan mu." ucap Kafin kemudian sambil mengusap lembut pipi Alice dengan perlahan.
"Baiklah tidak perlu khawatirkan aku..." ucap Alice kemudian dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Kafin.
Setelah mengatakan hal tersebut, Kafin lantas terlihat bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi dari sana meninggalkan Alice seorang diri di kamarnya.
Melihat kepergian Kafin barusan lantas membuat Alice bangkit dari tempat tidurnya, kemudian mengambil ponsel miliknya yang terletak di atas nakas. Ditatapnya layar ponsel miliknya selama beberapa menit, seakan mencoba untuk memilah keputusan apa yang akan ia ambil saat ini.
Alice terdiam menatap ke arah layar ponselnya kemudian menghela napasnya dengan panjang. Setelah mengambil keputusan cukup lama, Alice terlihat mendial nomor Ashraf pada layar ponsel miliknya.
"Halo..." ucap sebuah suara dari seberang sana begitu sambungan telponnya terhubung.
Alice yang mendengar sebuah suara berasal dari Ashraf nampak terdiam sejenak. Alice benar-benar ragu untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan saat ini. Sampai kemudian Alice terlihat menarik napasnya dalam-dalam dan mulai membuat sebuah keputusan.
__ADS_1
"Aku sudah mengingat semuanya!" ucap Alice kemudian yang lantas membuat Ashraf terkejut begitu mendengar perkataan dari Alice yang tiba-tiba barusan.
Bersambung