Move

Move
Tolong Ayah Bunda...


__ADS_3

Pagi itu Dimas nampak mengendari mobilnya dengan laju yang kencang. Pernikahan Ashraf dan juga Alice diadakan hari ini dan kesempatan untuknya hanya sampai batas sebelum ikrar janji suci di ucapkan.


Dimas tahu Kafin tidak akan pernah menyerah jika tidak melihat Alice bahagia bersama pilihan hatinya. Namun bagi Dimas yang baik yang dilakukan oleh Kafin maupun Alice semuanya hanya sandiwara semata.


Ckit


Mobil yang dikendarai oleh Dimas sampai tepat di area basement hotel, dimana tempat diadakannya pernikahan antara Ashraf dan juga Alice. Dengan langkah kaki yang bergegas Dimas terlihat turun dari dalam mobilnya menuju ke area ballroom hotel.


Bug bug bug


Suara pukulan beberapa kali terdengar tepat di area bangku penumpang mobil yang dikendarai oleh Dimas, tepat setelah kepergiannya menuju ke area ballroom hotel.


"Dia sudah pergi!" ucap Belinda yang terlihat muncul dari balik kursi bagian belakang saat itu.


"Iya aku tahu, tak perlu memukul ku berulang kali seperti itu!" ucap Altair dengan nada yang terdengar begitu kesal, sambil menyembulkan kepalanya dari tempat persembunyian.


"Maaf Abang Abel hanya terlalu bersemangat." ucap Belinda sambil tersenyum garing.


"Dasar, ayo kita segera bergerak.. Aku yakin paman Dimas pergi menemui Bunda." ucap Altair kemudian yang lantas di balas anggukan kepala oleh Belinda.


Setelah sepakat keduanya kemudian memutuskan untuk keluar dari dalam mobil, beruntung Dimas tidak mengunci mobilnya ketika turun. Entah jadi seperti apa jika sampai Dimas mengunci pintu mobilnya.


Keduanya kemudian terlihat melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke area ballroom hotel. Meski keduanya tidak terlalu yakin akan posisi diadakannya acara pernikahan tersebut, tapi keduanya yakin jika Ballroom hotel adalah tempat yang di pilih Alice dan juga keduanya untuk menikah.

__ADS_1


***


Ruang tunggu pengantin wanita


"Apa yang kamu lakukan di sini?" ucap Alice yang terkejut akan kehadiran Dimas.


Mendengar suara melengking milik Alice lantas membuat Dimas berbalik badan dan menatap ke arah Alice saat itu.


"Maaf jika saya lancang untuk urusan ini, hanya saja saya tidak bisa terus berdiam diri seperti ini. Ini semua salah Nona, apa yang anda dan Tuan lakukan itu salah. Mengapa kalian berdua suka sekali bermain drama saling melepaskan? Tidak bisakah kalian berdua bersama saja?" ucap Dimas mencurahkan segala isi hatinya, yang tentu saja membuat Alice mengernyit begitu mendengar hal tersebut.


"Apa sebenarnya yang ingin kau katakan Dim? Pernikahan ku sudah di depan mata, jangan coba-coba meracuni diriku dengan hal lain yang tidak penting." ucap Alice sambil memunggungi Dimas seakan tidak ingin mendengar apapun perkataan Dimas saat ini.


Mendapati hal tersebut tentu saja sama sekali tak membuat Dimas menyerah. Dengan langkah kaki yang besar Dimas nampak membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Alice berada saat itu.


"Tuan mencintai mu, asal kamu tahu selama bertahun-tahun ini yang ada dipikirannya Tuan hanya dirimu bukan Nyonya besar ataupun perempuan lainnya. Asal kamu tahu.. Butuh waktu bertahun-tahun bagi Tuan untuk bangkit dari rasa keterpurukan dan setelah ia berhasil bangkit dengan tumbuh menjadi Pria batu yang tak berperasaan, anda malah muncul dan menjatuhkan dinding kokoh yang Tuan bangun susah payah hanya dalam sepersekian detik. Tidak bisakah anda sedikit iba kepadanya?" ucap Dimas mencoba untuk membuat keduanya bersama apapun yang terjadi.


Dimas terkejut ketika mendapati jawaban dari Alice barusan, Dimas bahkan sudah mengatakan segala hal yang mungkin akan membuat hati Alice luluh. Hanya saja nyatanya itu sama sekali tidak berhasil dan menggerakkan hati Alice sedikitpun.


"Cobalah untuk memikirkannya sekali lagi, apa anda kira polisi akan datang begitu saja tanpa ada yang menyuruhnya? Apa anda pikir Ashraf dibalik semua ini? Tentu saja tidak! Tuan bahkan rela menyerahkan proyek penting sebagai imbalan untuk informasi keberadaan anda, tapi anda.. Jangankan berterima kasih bertanya saja tidak." ucap Dimas yang tidak tahu lagi harus mengatakan apa kepada Alice saat ini.


Alice terdiam ditempatnya perkataan Dimas benar-benar merasuk di dalam hatinya saat itu. Sepertinya ia terlalu tertutup dengan rasa balas budi yang menghantui dirinya. Hingga Alice menutup mata dan tidak melihat setiap hal yang dilakukan oleh Kafin untuknya.


"Katakan kepadaku jika itu tidaklah be...nar..." ucap Alice namun terhenti ketika ia mendengar sesuatu.

__ADS_1


Bruk..


Sebuah suara benda jatuh cukup keras lantas mengejutkan Alice dan juga Dimas saat itu, membuat keduanya langsung terlihat menatap ke arah sumber suara dengan seketika.


"Altair? Apa yang kamu lakukan?" ucap Alice yang seakan terkejut ketika mendapati Altair terjatuh dari lubang ventilasi saat itu.


Altair yang mendengar suara Alice saat itu lantas tersenyum dengan simpul, kemudian menatap ke arah Alice yang saat ini tengah berlarian sambil mencincing gaun pengantinnya menuju ke arah Altair.


"Apa aku datang di saat yang tidak tepat?" ucap Altair sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Apakah kamu baik-baik saja? Bagaimana dengan kaki mu?"ucap Alice yang tidak habis pikir akan tingkah Altair yang memilih masuk lewat jalur ventilasi.


"Sepertinya sedikit terkilir, namun aku baik-baik saja Bun. Ada yang lebih penting daripada kaki ku, Bunda harus pergi dan menghentikan Ayah sekarang juga." ucap Altair dengan nada yang terdengar gelisah saat itu.


"Memangnya apa yang akan dilakukan Ayah mu? Bukankah dia sudah besar? Sebaiknya Bunda panggilkan Dokter untuk mengobati kaki mu ya?" ucap Alice sambil menatap ke arah kaki Altair saat itu.


"Tidak perlu Bun... Sebaiknya Bunda tolong Ayah saja. Ayah.. Ayah... Hendak melakukan bunuh diri, aku tidak bisa menghentikan hal itu jadi aku berlarian ke tempat ini berharap Bunda mau menolong Ayah." ucap Altair kemudian mulai memutar otaknya berharap Alice akan mempercayainya, setidaknya membuat waktu untuk menunda pernikahan.


"Jangan bercanda, hal seperti ini bukanlah lelucon Alta." ucap Alice yang tidak langsung percaya begitu saja, masalahnya Kafin bukanlah sosok yang gampang menyerah dan melakukan hal gila seperti itu.


"Jika Bunda tidak percaya sebaiknya Bunda cek saja sekarang, jika sampai Bunda telat datang dan menolong Ayah aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya." ucap Altair sambil memasang raut wajah yang sendu.


Melihat hal tersebut Alice nampak terdiam seketika, antara percaya dan tidak percaya. Namun Alice tentu tidak mau kehilangan Kafin begitu saja, membuat Alice pada akhirnya melepas kedua hells yang ia kenakan kemudian mulai mencincing gaun miliknya.

__ADS_1


"Sial!"


Bersambung


__ADS_2