
Disaat Ashraf tengah kebingungan mencari keberadaan Alice saat itu, sebuah notifikasi pesan singkat lantas terdengar dan menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
"Apa-apaan ini!" ucap Ashraf dengan manik mata yang membulat menatap ke arah layar ponsel miliknya.
Sebuah foto Alice yang tengah tertidur di sebuah ranjang ukuran king size terlihat jelas di sana, membuat manik mata Ashraf lantas membulat dengan seketika begitu mendapati hal tersebut.
Ashraf yang mulai berpikiran tidak-tidak lantas langsung mulai mendial nomor asing tersebut.
Deringan demi deringan terus terdengar di seberang sana, membuat hati Ashraf kian gelisah ketika menanti panggilan telpon tersebut tak kunjung di angkat. Sampai kemudian sebuah suara yang seperti tak asing di telinganya kemudian mulai terdengar saat itu.
"Sepertinya pesan singkat ku sudah kau terima rupanya." ucap sebuah suara di seberang sana.
"Ka...fin!" ucap Ashraf dengan nada penuh penekanan.
"Hahaha kau masih ingat dengan ku rupanya, bagaimana pendapat mu? Aku dan Alice baru saja melakukan olahraga bersama, kau bisa lihat sendiri bukan? Bagaimana Alice begitu kelelahan setelahnya?" ucap Kafin dengan tertawa keras, membuat tangan Ashraf mengepal dengan seketika begitu mendengar hal tersebut.
"Kau... Siapa yang menyuruh mu untuk menyentuhnya, hanya aku yang..." ucap Ashraf dengan raut wajah yang memerah namun malah langsung di potong oleh Kafin saat itu.
"Ada apa? Apakah kau sangat marah? Asal kau tahu.. Hal itu juga aku rasakan ketika setiap tanda merah berada di tubuhnya, yang aku lakukan hanyalah menghapus setiap hal yang kau berikan kepadanya! Dia adalah istri ku, aku bahkan tidak pernah menceraikannya sekalipun!" ucap Kafin dengan nada yang datar saat itu.
"Cih suami katamu? Kalian berdua bahkan menikah tanpa persetujuan dari Alice, apa kau pikir itu benar-benar sebuah pernikahan? Jangan bercanda, anak kecil saja tahu akan hal itu!" ucap Ashraf yang seakan ingin sekali tertawa ketika mendengar perkataan Kafin sebelumnya.
"Siapa kau yang berani mengatakan hal itu? Kau pikir kau benar-benar hebat?" ucap Kafin yang terdengar mulai meninggi dan tidak terima akan perkataan Ashraf barusan.
"Aku mengatakan sebuah fakta dan satu hal yang harus aku tekankan kepadamu, aku dan Alice akan menikah. Aku percaya kepadanya, hanya sebuah foto editan seperti itu tentu aku tidak akan mempercayainya dengan mudah. Aku percaya kepada Alice ku, camkan itu baik-baik!" ucap Ashraf sebelum pada akhirnya menutup panggilan telponnya saat itu.
__ADS_1
Tepat setelah panggilan telpon tersebut ditutup, Ashraf yang kesal lantas melempar vas bunga yang berada tidak jauh dari tempatnya berada.
Pyar....
Suara pecahan vas yang berhamburan di area ruangan tersebut, tentu saja langsung membuat keheningan semakin mencekam di area kediamannya. Bohong rasanya jika Ashraf mengatakan ia tidak cemburu dan takut ketika melihat foto Alice tertidur di tempat Kafin. Namun ia tidak boleh gegabah dalam mengambil setiap tindakan.
Ashraf baru saja membuat kesalahan dengan melakukan sesuatu hal yang sama sekali tidak Alice sukai. Jika kali ini ia kembali mengamuk, entah apa yang akan dilakukan oleh Alice kepadanya.
"B3r3ngs3k! Bagaimana bisa c3cunguk sialan itu mendapatkan Alice? Alice hanya milik ku.. Milik ku.. Dan milik ku! Aku bahkan sudah menunggunya selama bertahun-tahun, tidak ada yang bisa merebutnya dari ku!" ucap Ashraf dengan nada penuh penekanan di setiap kata-katanya.
***
Sementara itu di ruangannya, Kafin yang baru saja menyelesaikan panggilan telponnya lantas berdecak dengan kesal begitu mendengar perkataan Ashraf sebelumnya. Dipijatnya pelipisnya secara perlahan sambil memejamkan kelopak matanya sebentar. Sampai kemudian sebuah ketukan pintu yang berasal dari luar ruangannya, lantas membuyarkan segala pemikirannya saat itu.
"Maaf Tuan, saya hanya ingin menyampaikan jika Nona kecil sudah bangun." ucap Lala kemudian dengan nada yang sedikit ragu karena takut mengganggu Kafin saat itu.
Setelah kepergian Lala dari sana Kafin lantas mengambil napasnya panjang sambil mulai bangkit dari tempat duduknya saat itu.
"Baiklah Kafin, dari pada harus memikirkan yang tidak-tidak ada hal lebih penting yang harus kamu lakukan sekarang! Lagi pula jika memang dia putri ku, aku rasa tingkah lakunya tidak akan jauh berbeda dari Belinda kecil dulu." ucap Kafin sambil mulai membawa langkah kakinya berlalu pergi dari ruangannya saat itu.
***
Di sebuah kamar dimana Caramel berada saat ini, terlihat gadis kecil itu tengah kebingungan mengamati area sekelilingnya. Tempat ini adalah tempat yang asing untuknya dan tentu saja membuatnya merasa tidak nyaman berada di sini.
Tak tak tak
__ADS_1
Suara derap langkah kaki seseorang lantas membuyarkan segala pemikiran Caramel saat itu. Mendapati hal tersebut tentu saja langsung membuat Caramel bersiap dan bangkit dari posisinya kemudian bersembunyi di kolong tempat tidur saat itu.
"Kemana anak kecil itu? Aku yakin dia masih ada di sini." ucap Lala sambil mengernyit ketika mendapati kamar tersebut sudah kosong saat ini.
Caramel menutup mulutnya dengan rapat sambil memperhatikan gerakan kaki seseorang di luaran sana. Sebelum ia tahu bagaimana kondisinya di luar Caramel memutuskan untuk tidak keluar dari tempat persembunyiannya saat ini.
"Aku ada di mana? Bukankah tadi aku ada di Lumah sakit? Mama... Mama di mana?" ucapnya dalam hati dengan harap-harap cemas.
Sementara itu Lala yang tidak mendapati keberadaan Caramel di sana, lantas terlihat meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas kemudian mulai mencari keberadaan Caramel di sekitaran sana.
"Nona kecil kamu dimana? Keluar yuk kita main sama-sama Bibi tidak jahat kok... Nona kecil sudah yuk petak umpetnya!" ucap Lala sambil mulai memutari area kamar tersebut karena berpikir jika Caramel bersembunyi di suatu tempat di ruangan tersebut.
Disaat Lala tengah kebingungan mencari keberadaan Caramel, sebuah suara yang asing bagi Caramel lantas mulai terdengar mendekat saat itu.
"Ada apa? Kemana dia?" tanya sebuah suara yang berasal dari Kafin.
"Mmm anu maaf Tuan, ketika saya datang Nona kecil sudah tidak ada di kamarnya. Saya..." ucap Lala dengan raut wajah yang ketakutan membuat Kafin yang mendengar hal tersebut lantas melotot dengan tajam.
"Jika sudah tahu begitu, mengapa kamu masih diam di dini? Cepat cari!" pekik Kafin dengan nada yang meninggi membuat Lala dan juga Caramel yang tengah bersembunyi saat itu ikut terkejut karenanya.
"Ba...baik Tuan..." ucap Lala sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana untuk mencari keberadaan Caramel di sekitar area mansion.
Melihat kepergian Lala dengan langkah kaki yang terburu-buru Kafin lantas berdecak dengan kesal. Baru beberapa detik ia tenang, namun sepersekian detik berikutnya buyar karena Caramel yang tiba-tiba menghilang.
"Dimana anak itu sebenarnya?" ucap Kafin dengan nada yang kesal sebelum pada akhirnya ikut berlalu pergi meninggalkan kamar tersebut.
__ADS_1
Bersambung