
Kediaman Kafin
Kafin yang jelas tahu jika hari ini adalah hari pernikahan antara Ashraf dan juga Alice di langsungkan, membuat raut wajahnya terlihat begitu suram sedari tadi.
Kafin yang berniat menenangkan pikirannya sejenak dengan bersantai di taman samping, lantas harus menarik napasnya dalam-dalam ketika mendapati pot bunga gantung yang harusnya berada di atas, malah jatuh dan pecah membentur tanah karena tali pengaitnya yang putus saat itu.
"Oh ayolah kenapa harus sekarang?" ucap Kafin sambil mengusap raut wajahnya dengan kasar.
Kafin kemudian nampak menatap ke arah sekitar, seakan mencari keberadaan seseorang yang mungkin bisa membereskan kekacauan ini. Hanya sayangnya ia tak menjumpai siapapun di sana, membuat Kafin lantas menghela napasnya dengan kasar.
"Sial!" gerutunya dengan nada yang kesal.
Dengan langkah kaki yang malas pada akhirnya, membuat Kafin mau tidak mau membereskan kekacauan yang ada di hadapannya. Kafin membawa beberapa tali dan tentunya tangga untuk menjangkau area atas dan mengaitkan tali tersebut.
Hanya saja entah dari mana, di saat Kafin tengah sibuk mengaitkan tali ke atas. Sebuah suara tak asing di telinganya lantas membuat Kafin terkejut bukan main.
"Apa yang kamu lakukan Kaf?" pekik Alice yang mengira jika Kafin akan mengakhiri hidupnya.
Mendengar suara tersebut tentu saja membuat Kafin terkejut dan langsung oleng. Hingga pada akhirnya membuat Kafin terjatuh dari tangga yang ia naiki saat itu.
Brak...
Alice berlari menghampiri Kafin yang terlihat sedang meringis kesakitan dengan raut wajah yang khawatir.
"Apa kau itu sudah gila? Bunuh diri bukanlah solusi dari sebuah masalah! Untung aku datang dan memergoki mu, jika tidak entah apa yang akan..." ucap Alice merepet kesal.
Namun ocehan Alice langsung terhenti dengan seketika, disaat Kafin menarik tengkuknya dengan tiba-tiba dan langsung m3lum4t bibir Alice begitu saja.
Mendapati tingkah Kafin yang begitu agresif saat itu, tentu saja membuat manik mata Alice membulat dengan seketika. Alice yang tak ingin ini terus berlanjut, lantas sedikit mendorong tubuh Kafin agar menjauh darinya. Namun tangan Kafin yang saat itu mengunci tengkuknya, pada akhirnya membuat Alice tidak bisa berkutik.
Alice menutup matanya sejenak membayangkan raut wajah kecewa Ashraf saat ini, dimana ia yang tidak akan menemukan Alice di manapun tepat di hari spesial bagi keduanya. Seberkas rasa bersalah mendadak berkumpul dan menggerogoti hatinya. Namun nyatanya membuat Alice semakin ingin bisa bebas dan juga lepas dari rasa tanggung jawab yang begitu besar terhadap Ashraf sejak lama.
"Maafkan aku Ashraf..." ucap Alice pada akhirnya sambil mengalunkan tangannya ke leher Kafin saat itu dan hanyut ke dalam permainan Pria itu.
__ADS_1
***
Lorong hotel
Ashraf yang jelas bisa menebak siapa yang membawa Alice saat ini, lantas mulai membawa langkah kaki yang lebar keluar dari hotel tersebut dan menuju ke suatu tempat.
"Aku tidak akan membiarkan kamu merebut Alice dari ku Kaf..." ucap Ashraf pada diri sendiri sambil terus membawa langkah kakinya beranjak pergi dari sana.
Disaat langkah kaki Ashraf terus terlihat semakin menjauh, langkah kaki Pria itu langsung terhenti dengan seketika disaat ia melihat Belinda dan juga Altair berhenti tepat dihadapannya.
"Minggir kalian, aku ada hal yang lebih penting dari pada harus mengurusi kalian berdua." ucap Ashraf dengan nada penuh penekanan.
Namun Altair dan juga Belinda yang mendengar perkataan Ashraf barusan, bukannya pergi malah mendekat ke arah Ashraf dan langsung menggenggam kedua kaki Ashraf dengan erat.
"Saya mohon kepada Om untuk melepaskan Bunda, Bunda dan Ayah saling mencintai. Jika Om tetap memaksakan kehendak Bunda tidak akan bahagia Om." ucap Belinda dengan nada yang mengiba.
"Lepaskan kaki ku, aku tahu Kafin yang licik itu pasti sudah menyuruh kalian untuk memperlancar rencananya bukan?" ucap Ashraf dengan nada yang terdengar begitu kesal.
"Tenangkan pikiran terlebih dahulu Om, aku yakin Om juga menyadarinya bukan? Sikap Bunda, perilaku Bunda dan juga segalanya, aku yakin Om pasti menyadari sesuatu." ucap Altair yang lantas menghentikan gerakan Ashraf detik itu juga.
"Aku minta maaf, aku belum siap untuk membina rumah tangga bersama dengan mu."
.
.
"Aku belum siap Ashraf.. Aku minta maaf..."
.
.
"Jangan sekarang, Caramel masih kecil tunggu sampai dia dewasa ya..."
__ADS_1
.
.
"Aku minta maaf, aku tidak bisa melakukannya."
Satu persatu kata penolakan berputar jelas dan memenuhi kepalanya saat itu, membuat Ashraf semakin merasa terhempas dari seluruh imajinasi di kepalanya saat itu.
"Apakah Alice sungguh tidak bahagia bersama dengan ku?" ucap Ashraf dengan nada yang terdengar begitu lirih.
Mendengar perkataan Ashraf barusan, lantas membuat Altair dan juga Belinda dengan spontan melepas pegangan tangannya saat itu. Keduanya nampak bangkit secara perlahan dan menatap ke arah Ashraf dengan manik mata yang berkaca-kaca.
"Pikirkanlah secara baik-baik Om, aku yakin Om akan menemukan jawabannya." ucap Altair seakan meyakinkan kegelisahan Ashraf saat itu.
Ditatapnya manik mata Altair dan juga Belinda saat itu dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Sampai kemudian helaan napas terdengar berhembus kasar dari mulutnya saat itu.
"Aku sudah memutuskannya!" ucap Ashraf yang tentu saja langsung membuat Altair dan juga Belinda menatap ke arah Ashraf dengan raut wajah yang penasaran.
***
Kediaman Kafin
Setelah melakukan permainan yang cukup lama hingga membuat keduanya terhanyut ke dalam permainannya masing-masing. Baik Kafin maupun Alice nampak melepas tautan keduanya dengan perlahan.
Manik mata Alice dan juga Kafin nampak terpejam beberapa waktu. Hingga kemudian Kafin terlihat mulai membawa Alice agar menatap ke arahnya lebih dalam lagi.
"Aku mohon untuk yang terakhir kalinya Al, kembalilah kepadaku... Aku tidak akan meminta lagi, jadi ku mohon pikirkanlah baik-baik sebelum menjawab segala sesuatunya. Aku tidak bisa hidup tanpa mu, namun jika kamu memilih hidup bersama dengan orang lain, aku bisa apa?" ucap Kafin dengan nada yang terdengar begitu sendu saat itu.
Mendengar hal tersebut Alice nampak terdiam sejenak, digigitnya bibir bagian bawahnya tanpa sadar. Pertanyaan tersebut benar-benar terasa begitu sulit untuk Alice, hingga membuatnya begitu bimbang dalam memberikan sebuah jawaban akan pertanyaan demi pertanyaan yang keluar dari mulut Alice saat itu.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepadamu, namun aku merasa segalanya telah percuma Kaf, kita berdua tidak akan pernah bisa kembali bersama. Tidakkah kau bisa memahami hal itu?" ucap Alice dengan nada yang terdengar begitu sendu, sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari arah belakang lantas menghentikan pembicaraan keduanya.
"Apa nya yang tidak bisa?"
__ADS_1
Bersambung