
"Istri kau bilang?" ucap Ashraf yang terkejut akan perkataan dari Kafin barusan.
Ashraf yang mengira perkataan dari Kafin barusan benar-benar di luar jangkauannya, lantas langsung bangkit dari posisinya mendekat ke arah di mana Kafin berada. Di cengkeramnya kerah baju Kafin dengan erat sambil menatapnya tajam lurus ke arah manik mata Kafin saat itu.
"Kau jangan bercanda dia adalah kekasih ku? Apa kau telah memanfaatkannya selama dia menghilang beberapa bulan ini?" pekik Ashraf yang lantas membuat Kafin dan juga semua orang terkejut ketika mendengarnya.
Kafin yang mendengar dengan jelas kata-kata tersebut keluar dari mulut Ashraf saat itu, lantas cukup terkejut. Ia bahkan selama ini telah menyembunyikan Alice bersama dengannya, bagaimana bisa ia melewatkan tentang Ashraf? Kafin benar-benar lupa jika Ashraf adalah kekasih kekasih Alice sebelumnya.
"Sial! Mengapa dia harus muncul sekarang?" ucap Kafin dalam hati ketika mendapati masa lalu Alice muncul secara tiba-tiba.
Di saat keduanya tengah sibuk bertengkar dan memperdebatkan sesuatu hal tentang Alice saat itu. Lain halnya dengan Alice yang saat ini benar-benar merasakan sakit yang teramat di kepalanya. Ingatan tentang Ashraf benar-benar terus berputar di kepalanya dan menghantam kepalanya seakan sebuah pukulan yang berat. Napasnya mulai terasa terengah-engah membuat pandangannya sedikit mengabur karenanya.
"Kaf.. To...tolong..." ucap Alice dengan nada yang lirih sambil memegang kepalanya yang terasa begitu berdenyut saat itu.
Ditatapnya Kafin dengan pandangan yang buram seakan mencoba untuk menggapai sosok Pria tersebut. Sampai pada akhirnya Alice yang tidak bisa menahan segalanya terhuyung dan jatuh pingsan di sana.
Suara riuh gemuruh tamu undangan di sana, terdengar begitu jelas memenuhi keheningan yang terjadi diantara Kafin dan juga Ashraf. Keduanya sepertinya tidak terlalu sadar akan Alice yang saat ini tengah kesakitan. Sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari salah satu tamu undangan, membuat Ashraf dan juga Kafin langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.
"Dia pingsan!" pekik salah satu tamu undangan.
Mendengar hal tersebut tentu saja langsung membuat Kafin menghempaskan tangan Ashraf dari kerah bajunya dan berlarian menuju ke arah dimana Alice berada. Tidak hanya Kafin bahkan Ashraf pun melakukan hal yang sama dan langsung datang menghampiri tubuh Alice yang pingsan.
"Al apa yang terjadi? Alice..." ucap Kafin sambil mencoba untuk menepuk perlahan pipi Alice berusaha untuk menyadarkannya.
"Bangun Al... Alice.." ucap Ashraf sambil menggoyangkan bahu Alice saat itu.
__ADS_1
Mendapati Ashraf yang menyentuh tubuh Alice, lantas membuatnya langsung menepis tangan Ashraf dengan kasar.
"Jangan sentuh Alice!" ucap Kafin dengan tatapan yang tajam.
Setelah mengatakan hal tersebut Kafin langsung menggendong tubuh Alice ala bridal style. Ditatapnya manik mata Ashraf dengan tatapan yang tajam, membuat Ashraf ikut membalas tatapan Kafin dengan tajam pula.
"Jauhi Alice! Atau aku yang akan memberikan peringatan langsung untuk mu!" ucap Kafin dengan nada yang mengancam sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
Ashraf yang mendengar ancaman dari Kafin tentu saja langsung mengepalkan tangannya dengan erat. Selama berbulan-bulan Ashraf mencari keberadaan Alice setelah kecelakaan itu terjadi. Ashraf yakin jika ia belum melihat sendiri mayat Alice, itu artinya Alice masih hidup dan berada di suatu tempat.
Pada akhirnya hari ini semua firasat Ashraf terbukti benar adanya. Alice memang hidup di suatu tempat tapi bukan menjadi dirinya sendiri namun dimanfaatkan oleh seseorang. Hal ini tentu saja membuat Ashraf menjadi marah dan juga tidak terima akan segala hal yang dilakukan Kafin kepada Alice.
"Siapa sebenarnya dia? Hingga berani-beraninya memanipulasi kehidupan orang lain sesuka hatinya. Apakah dia itu Tuhan? Cih hanya makhluk kecil di bumi saja dia sok berlagak!" ucap Ashraf pada diri sendiri sambil menatap kepergian Kafin dan juga Alice yang tidak lagi terlihat di matanya saat ini.
**
Kafin yang mendapati Alice pingsan tentu saja panik sekaligus khawatir. Sambil meletakkan tubuh Alice dengan perlahan pada kursi penumpang, Kafin terlihat mulai melangkahkan kakinya memutar dan masuk ke dalam kursi pengemudi.
Sebelum melajukan mobilnya Kafin nampak mulai mendial nomor Dimas pada ponsel miliknya, kemudian meletakkan ponselnya tepat di atas dashboard.
"Halo Tuan.." ucap sebuah suara di seberang sana.
"Cari tahu Pria dengan setelah jas berwarna nude yang tengah bertengkar dengan ku hari ini. Kalau perlu retas rekaman kamera pengawas Ballroom hotel untuk mengetahui siapa Pria itu." ucap Kafin secara langsung tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Apa ada masalah dengan hal itu Tuan?" ucap Dimas kemudian yang tidak mengerti akan perintah dari Kafin yang tiba-tiba.
__ADS_1
"Selidiki saja dia maka kau akan tahu apa yang terjadi." ucap Kafin dengan nada yang datar sambil mulai melajukan mobilnya meninggalkan area Basement hotel tersebut.
"Baik Tuan..." jawab Dimas kemudian sebelum pada akhirnya sambungan telpon keduanya terputus begitu saja.
***
Di sebuah tempat yang Alice sendiri tidak tahu dimana ia berada. Alice nampak mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam tempat tersebut. Sebuah penglihatan yang entah itu mimpi atau hanya halusinasi Alice semata. Membawanya seperti tertarik dalam bayangan masa lalu, yang Alice sendiri tidak yakin pernah mengalaminya.
Alice yang penasaran lantas mulai memasuki area tempat tersebut, yang kebetulan saat itu ia melihat dirinya tengah melangkahkan kakinya masuk ke dalam dengan raut wajah yang ceria. Alice yang melihat dirinya yang lain nampak mulai berjalan masuk ke ruangan itu, tentu saja terkejut bukan main.
Ditatapnya area sekitar yang nampak penuh dengan orang. Hanya saja yang membuat Alice begitu aneh, entah mengapa hanya ada satu wajah yang bisa ia lihat di sana saat ini sedangkan yang lainnya nampak buram dan tak terlihat sama sekali. Alice yang penasaran akan pemilik dari wajah tersebut, lantas semakin membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Pria itu berada.
"Sayang... Aku benar-benar merindukan mu..." ucap Alice sambil menciumi pipi seorang Pria yang memeluknya dengan hangat saat itu.
Alice memundurkan perlahan gerakannya ketika ia melihat dengan jelas wajah dibalik Pria tersebut. Berbagai pertanyaan bahkan langsung memenuhi isi kepalanya saat ini, ketika mendapati dirinya begitu dekat dengan sosok Pria tersebut.
"Ashraf? Ba...bagaimana bisa?" ucap Alice dengan raut wajah yang terkejut.
Namun tepat ketika Alice mengatakan hal tersebut, Ashraf yang seakan mendengar perkataannya terlihat menatap lurus ke arahnya namun sambil memeluk dengan erat dirinya yang lain di sana.
"Tentu saja bisa karena aku adalah kekasih mu!" ucap Ashraf dengan senyuman yang tipis menatap tajam ke arah Alice saat ini.
**
"Ashraf.... Hhhhhh...." pekik Alice dengan tiba-tiba yang seperti langsung di lempar dari ketinggian.
__ADS_1
"Alice ada apa?" tanya Kafin yang terkejut begitu mendengar teriakan Alice barusan.
Bersambung