
"Tatap mataku dan katakan jika kamu tidak mencintai ku! Katakan kepada ku dengan lantang Al! Apakah kamu bisa?" ucap Kafin kemudian yang lantas membuat Alice terkejut dengan seketika.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuat bibir Alice terasa keluh seketika. Manik mata Kafin benar-benar terlihat begitu berharap seakan mengatakan kepadanya agar tidak mengatakan hal sekejam itu. Hanya saja rasa bersalah dan juga hutang budi terhadap Ashraf, benar-benar membuatnya tidak bisa berkutik sama sekali.
Alice menghela napasnya dengan kasar ketika merasakan kebimbangan di dalam dirinya saat itu. Perasaan dan juga otaknya sama sekali tidak selaras saat ini, membuat Alice terdiam seribu bahasa.
Kafin yang mendapati Alice seperti itu lantas tersenyum dengan tipis, perlahan-lahan tangan yang mencengkram dengan erat bahu Alice saat itu terlihat turun dan tidak lagi mencengkram. Lewat sorot mata Alice saat ini Kafin bahkan sudah bisa menebak perasaan Alice kepadanya.
"Jangan katakan apapun karena aku sudah tahu jawabannya, yang perlu kamu katakan sekarang hanyalah iya atau tidak. Al.. Maukah kamu menikah dengan ku? Kita bina Rumah tangga kita kembali sedari awal, jangan pikirkan tentang masa lalu.. Kita bangun semuanya dari awal." ucap Kafin yang semakin membuat Alice terdiam dengan seketika.
Melihat raut wajah Kafin yang begitu serius membuat Alice mundur secara perlahan.
"Bukankah sudah ku katakan jika aku akan menikah bersama dengan Ashraf. Aku sungguh minta maaf karena mengatakan hal ini kepadamu, tapi sayangnya aku tidak bisa membatalkan pernikahan itu." ucap Alice dengan nada yang terdengar sendu, membuat manik mata Kafin lantas membulat dengan seketika.
"Apa yang membuat mu tidak bisa melakukannya Al? Jika kamu tidak bisa mengatakannya, biar aku yang mengatakannya kepada Pria itu, lagi pula kamu juga berhak untuk bahagia. Jika keputusan mu menikah dengan Ashraf tidak membuat mu bahagia, sampai kapan pun aku tidak akan menyetujuinya." ucap Kafin seakan berusaha untuk meyakinkan Alice bahwa semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Kamu tidak tahu apapun Kaf, aku melakukan ini untuk membalas setiap perbuatan baik yang di lakukan Ashraf kepadaku. Ashraf membantu ku bangkit ketika dunia ku hancur karena mu, Ashraf yang selalu ada untuk ku. Dan sekarang jika aku menikahinya bukankah hal itu, bukanlah sebuah kesalahan?" ucap Alice dengan nada yang mulai meninggi.
"Memang tidak salah Al, tapi kebohongan mu yang memberikan dia sebuah kesempatan membuat ku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku benar-benar tidak bermaksud menghancurkan dunia mu, tapi keadaan membawa ku melakukan segala hal yang kamu anggap sebagai kesalahan yang besar. Aku tidak sengaja melakukan hal itu Al, sungguh jika harus memilih aku tidak pernah melakukannya saat itu." ucap Kafin lagi mencoba untuk menjelaskan segalanya.
"Berhenti mengatakan masa lalu Kaf karena nyatanya apa yang terjadi bukanlah sebuah hal baik. Aku membenci mu karena telah menipu ku, tapi jauh di lubuk hati ku, aku telah memaafkan mu. Karena nyatanya aku menikmati peranku sebagai seorang istri dan juga Ibu dari anak-anak, apakah kamu puas? Hanya saja... Cobalah untuk mengerti diriku Kaf! Semuanya telah selesai. Aku dan kamu telah benar-benar selesai!" ucap Alice dengan nada penuh penekanan.
"Kamu yang harusnya mengerti di sini Al, pahami kata hati mu. Apa kau tahu? Manik mata itu sama sekali tidak bisa berbohong, aku jelas tahu isi hati mu sekarang. Tapi pemikiran mu tentang balas budi yang begitu besar mendorong mu untuk mengubur segalanya. Apa yang coba kau lakukan sekarang? Tidakkah kau ingin membahagiakan dirimu sendiri? Percuma kamu membuat Ashraf bahagia jika dirimu sendiri tidaklah bahagia, apakah kamu sebodoh itu?" ucap Kafin yang sama sekali tidak mengerti akan jalan pikiran Alice saat ini.
Entah bodoh atau apa namun sikap Alice yang seperti ini sama sekali tidak bisa membuat Kafin tenang.
Melihat kepergian Alice dari hadapannya, lantas membuat Kafin memejamkan kelopak matanya dengan sejenak. Ditatapnya punggung Alice yang kian menjauh saat itu, sampai kemudian sebuah suara yang serak berasal dari Kafin lantas menghentikan langkah kaki Alice dengan seketika.
"Aku tidak tahu apakah ini saat yang tepat untuk mengatakannya, namun aku rasa aku tetap harus mengatakannya kepadamu. Maaf Al.. Putri mu menghilang, aku sudah mencoba mencarinya ke setiap sudut ruangan namun..." ucap Kafin hendak memberikan penjelasan saat itu, hanya saja sebuah suara yang berasal dari Alice lantas membuat Kafin mengernyit dengan seketika.
"Aku sudah tahu, urusan Caramel biar aku yang menyelesaikannya. Aku permisi..." ucap Alice kemudian sambil kembali melangkah kakinya keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
"Arggg sial!" pekik Kafin sambil mengacak-acak rambutnya dengan kasar ketika mendapati jawaban Alice seperti itu.
**
Area depan rumah Kafin
Dengan langkah yang besar Alice meninggalkan Rumah itu. Dihentikannya langkah kakinya sejenak kemudian menoleh ke arah belakang. Manik mata Alice terlihat jelas sedang berkaca-kaca saat ini, sebuah harapan yang mungkin tidak akan pernah ia dapatkan kembali. Alice berdiri di antara pilihan yang begitu sulit, akan masa depan atau masa lalu yang begitu membelenggu dirinya.
Digigitnya bibir bagian bawahnya dengan kuat, perasaan ini lagi dan lagi kembali menggerogotinya. Setelah bertahun-tahun ia berusaha untuk melawannya. Pada akhirnya hari ini runtuh juga, ingin rasanya Alice berlari dan mengatakan jika ia juga ingin memulai kehidupan yang lebih baik lagi bersama dengan Kafin. Namun raut wajah sendu Ashraf benar-benar telah menghantui pikirannya saat ini, membuat Alice harus membuang pikiran tersebut jauh-jauh dari kepalanya saat ini.
"Aku... Tak perduli apakah aku bahagia atau tidak, nyatanya kebahagiaan tidak selalu berada di pihak ku. Entah itu dahulu, sekarang atau bahkan di masa depan nantinya." ucap Alice dengan raut wajah yang sendu, sebelum pada akhirnya melangkahkan kakinya begitu saja meninggalkan kediaman Kafin.
Disaat Alice tengah melangkahkan kakinya dengan tatapan mata yang kosong, dari arah yang berlawanan sebuah mobil nampak berhenti di tepi jalan ketika mendapati Alice tengah berjalan sambil sesekali melirik ke arah kediaman Kafi saat itu.
"Mengapa dia ada di sini? Apakah Alice dan juga Kafin kembali bersama? Bagaimana bisa? Tidak akan ku biarkan!"
__ADS_1
Bersambung