Move

Move
Bukan dunia sinetron


__ADS_3

Kediaman Kafin


Pagi itu setelah melihat Altair dan juga Belinda berangkat ke sekolah, terlihat Alice mulai membersihkan beberapa makanan yang ada di meja makan dibantu dengan Mila dan juga Lala di sana.


Di saat ia tengah sibuk bersama dengan kedua art-nya sebuah deringan yang berasal dari telepon duduk di area ruang tamu, lantas langsung mengejutkan Alice di sana.


"Kalian lanjutkan pekerjaannya aku akan mengangkat telepon tersebut." ucap Alice yang di balas anggukan kepala oleh keduanya kemudian berlalu pergi dari sana menuju ke area ruang tamu.


.


.


.


"Halo.." ucap Alice kemudian setelah mengangkat panggilan telpon tersebut.


"Apakah ini benar dengan kediaman bapak Kafin?" tanya sebuah suara di seberang sana.


"Iya benar, saya berbicara dengan siapa ya?" tanya Alice kemudian dengan raut wajah yang bingung.


"Kami dari Mentari school 04 ingin menyampaikan jika Belinda pagi ini terlibat perkelahian dengan teman sekelasnya, jika anda berkenan dimohon untuk datang ke sekolah saat ini juga." ucap sebuah suara di seberang sana.


"Bagaimana bisa? Baiklah saya akan langsung berangkat ke sana sebentar lagi." ucap Alice kemudian sebelum pada akhirnya menutup sambungan telponnya.


Setelah sambungan telpon terputus Alice kemudian langsung melangkahkan kakinya bergegas menuju ke lantai atas untuk mengambil tas selempangnya. Sampai kemudian ia yang baru teringat akan Kafin lantas berbalik arah menuju ke area meja makan dimana ia meninggalkan ponselnya di sana.


Sambil mengambil ponselnya yang terletak di atas meja makan, Alice kembali melangkahkan kakinya naik ke atas sambil mendial nomor Kafin di ponselnya.


"Halo.." ucap sebuah suara di seberang sana.


"Oh hai Kaf, ada masalah dengan Belinda di sekolah aku akan pergi ke sana sekarang juga." ucap Alice dengan nada yang terburu-buru, membuat Kafin yang mendengar hal tersebut tentu saja langsung mengernyit dengan seketika.


"Apa yang terjadi?" tanya Kafin kemudian.

__ADS_1


"Aku tidak tahu detailnya seperti apa tapi yang aku dengar dari gurunya Belinda terlibat pertengkaran dengan teman sekelasnya." ucap Alice mencoba untuk menjelaskan setahunya.


"Baiklah aku akan menyusul ke sana sebentar lagi, ingat satu hal Al jangan bawa mobil sendiri! Minta antar pak Arman untuk ke sekolah, apa kamu mengerti?" ucap Kafin mulai mewanti-wanti.


"Aku mengerti tak perlu khawatir, aku akan menunggu mu di sekolah tapi jika kamu sibuk kamu tak perlu datang ke sana." ucap Alice lagi.


"Jangan khawatir lagi pula aku pemiliknya, apa masalah mereka jika aku tak hadir? Hati-hati di jalan, minta pak Arman agar mengemudikan mobilnya secara perlahan." ucap Kafin lagi mengingatkan Alice.


"Baiklah.. Baiklah.. Aku tutup dulu telponnya." ucap Alice kemudian sebelum pada akhirnya mengakhiri panggilan telponnya.


Setelah menyelesaikan panggilan telponnya Alice kemudian mulai melangkahkan kakinya dengan bergegas menuruni satu persatu anak tangga.


***


Mentari school 04


Mobil yang di kendarai oleh Arman terlihat parkir di area halaman sekolah tersebut. Dengan langkah kaki yang bergegas Alice mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah ruang guru untuk melihat keadaan Belinda saat ini.


Tok tok tok


Alice mengetuk beberapa kali pintu ruang guru sampai ketika ia mendengar kata yang mempersilahkannya untuk masuk, membuat Alice mulai membawa langkah kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Bunda...." pekik Belinda ketika melihat kedatangan Alice di ruangan tersebut.


Mendengar teriakan yang berasal dari Belinda lantas membuat Tia langsung menatap ke arah sumber suara. Tia benar-benar baru pertama kalinya melihat Alice ke sekolah. Selama ini baik Ayah dan Bunda nya Belinda juga Altair tidak pernah datang ke sekolah, membuat semua teman-temannya lantas merasa jika keduanya tidak mempunyai orang tua atau bahkan menjadi anak yang tak di inginkan oleh orang tuanya.


Alice yang baru saja masuk dan melihat ke arah Belinda, lantas mengernyit ketika mendapati penampilan Belinda yang acak-acakan seperti itu begitu pula seorang siswi di sebelahnya. Diusapnya dengan lembut puncak kepala Belinda yang lantas membuat Tia semakin merasa bersalah ketika melihat interaksi keduanya itu.


"Apa yang terjadi dengan Abel? Apa Abel berbuat nakal?" ucap Alice kemudian dengan nada yang lembut membuat Belinda langsung menggeleng dengan perlahan.


"Permisi Bu... karena kalian sudah berkumpul di sini, sepertinya telah terjadi miskomunikasi di antara keduanya. Saya telah melihat rekaman kamera pengawas yang ada di lorong tersebut dan terlihat jika Tia tanpa sengaja menabrak Belinda sehingga terjadi kesalahpahaman terhadap keduanya. Saya rasa ini bisa di akhiri dengan permintaan maaf dari Tia terlebih dahulu kemudian di susul Belinda." ucap salah seorang guru di sana, membuat Alice dan juga Cicil Mamanya Tia hanya bisa mengangguk ketika mendengar penjelasan tersebut.


"Tidak Mis, Belinda mendorong pundak ku terlebih dahulu tadi... Aku tidak mau minta maaf terlebih dahulu." ucap Tia dengan nada yang meninggi.

__ADS_1


"Aku tidak bersalah, dia mengatakan hal buruk tentang...." ucap Belinda hendak menjelaskan namun terpotong dengan perkataan Cicil yang sudah mulai paham akan situasinya.


"Tia ayo minta maaf sekarang!" ucap Cicil kemudian dengan nada yang tegas membuat Cicil yang mendapati hal tersebut tentu saja terkejut karenanya.


Tia mendongak menatap ke arah Cicil yang saat ini tengah menatap tajam ke arahnya, membuat Tia mau tidak mau pada akhirnya harus minta maaf juga atau Cicil akan marah kepadanya.


"Maafkan aku..." ucap Tia kemudian dengan manik mata yang ketakutan.


"Aku juga.." ucap Belinda pada akhirnya setelah melihat Alice mulai mengangguk seakan menyuruh Belinda untuk mengiyakan permintaan maaf Tia kepadanya.


.


.


.


.


Area lorong sekolah


"Saya benar-benar minta maaf atas masalah ini namanya anak kecil sering terjadi kesalahpahaman. Sepertinya Tia terlalu sering menonton televisi sehingga membuat perilakunya begitu buruk serta kurang bersosialisasi." ucap Cicil sambil mulai melangkahkan kakinya beriringan dengan Alice saat itu.


"Tidak apa, lagi pula Belinda telah memaafkannya, jadi mari kita lupakan kejadian ini." ucap Alice sambil mengusap puncak kepala Belinda dengan lembut.


"Syukurlah kalau memang seperti itu, saya takut jika hal ini dapat merusak hubungan kerja sama suami kita. Oh ya saya benar-benar penasaran mengapa anda tidak tampak selama satu tahun belakangan ini? Bukankah biasanya anda selalu aktif di acara arisan dan juga event perusahaan?" ucap Cicil kemudian yang lantas membuat Alice langsung mengernyit dengan seketika begitu mendengar hal tersebut.


"Satu tahun? Sepertinya ada kesalahan disini, aku..." ucap Alice hendak menjelaskan namun, Belinda malah menarik tangannya untuk segera berlalu pergi dari sana seakan tahu akan situasi yang sedang terjadi saat ini.


"Ayo Bun..." ajak Belinda


"Aku rasa kecurigaan Alex ada benarnya juga, lagi pula tidak mungkin jika tiba-tiba seseorang yang meninggal bangkit kembali dari kuburnya. Ini bahkan bukan dunia sinetron!" ucap Cicil setelah kepergian Alice dan juga Belinda dari hadapannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2