
"Mama!" pekik Caramel dengan tiba-tiba yang lantas mengejutkan Belinda saat itu.
Mendengar satu panggilan yang berasal dari Caramel saat itu, tentu saja langsung membuat Belinda menoleh ke arah sumber suara dengan seketika. Sebuah perasaan terkejut mendadak singgah dalam hatinya ketika melihat Alice tengah terbaring di tempat tidur dengan selang infus yang menancap di tangannya.
"Bunda... Apa yang terjadi?" pekik Belinda dengan raut wajah yang khawatir namun sayangnya sama sekali tidak bisa terdengar oleh Alice yang masih pingsan saat ini.
Belinda yang khawatir akan keadaan Alice lantas semakin bingung harus berbuat apa saat ini. Sampai kemudian satu nama yang mungkin bisa membantunya, membuat Belinda mulai mendial nomor seseorang di kontaknya saat itu.
"Halo Abang bis..." ucap Belinda namun terputus akan perkataan Altair di seberang sana.
"Jangan sekarang Bel, Abang sedang ada latihan sepak bola." ucap Altair yang lantas membuat Belinda berdecak dengan kesal karenanya.
"Lupakan tentang bola, ini bahkan lebih penting dari pada hanya sekedar sepak bola." ucap Belinda dengan penuh semangat membuat Altair kebingungan akan maksud dari perkataan Belinda barusan.
"Apa maksud perkataan mu sebenarnya?" ucap Altair kemudian yang mulai tampak penasaran akan berita yang di sampaikan oleh Belinda saat ini.
"Bunda sedang sakit dan saat ini ada di rumah, tidak hanya itu bahkan anak kecil yang bersama dengan Bunda waktu itu juga ada di sini. Bisakah kamu membantu ku untuk mengeluarkan anak itu dari sini? Aku takut Papa akan menemukannya." ucap Belinda pada akhirnya.
"Apa? Bagaimana bisa? Kamu bertahan sebentar lagi bersama dengannya, aku akan segera pulang sebentar lagi. Tunggu aku..." ucap Altair kemudian.
"Tentu" ucap Belinda kemudian memutus sambungan telponnya begitu saja.
"Mama.. Mama bangun.. Ayo kita pulang ke lumah...*" ucap Caramel sambil menggoyang-goyang tubuh Alice saat itu.
Mendengar perkataan Caramel barusan lantas membuat hati Belinda mendadak langsung tak enak. Kehadiran Alice dan juga Caramel yang tiba-tiba ada di rumahnya tentu lah sangat membahagiakan. Hanya saja melihat Caramel yang seakan tak nyaman dengan suasana rumahnya, membuat hatinya sedikit kecewa karena hal tersebut.
__ADS_1
"Bisakah aku meminta mereka untuk tidak pergi dari sini? Apa aku boleh melakukannya?" ucap Belinda dalam hati sambil menatap ke arah Caramel dengan tatapan yang sendu saat itu.
Disaat Belinda tengah sibuk mengamati Caramel, jari tangan Alice nampak bergerak saat itu disusul dengan kelopak matanya yang mulai terbuka secara perlahan.
Alice yang mendengar suara rengekan Caramel di sebelahnya, lantas mulai mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya. Di sentuhnya puncak kepala Caramel yang tengah bersandar di ranjang sebelahnya saat itu.
"Jangan khawatir kita akan pulang sebentar lagi..." ucap Alice sambil mulai bangkit dari posisinya secara perlahan.
Mendapati Alice yang sudah bangun dari pingsannya, lantas membuat Belinda langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alice berada saat itu.
"Apakah Bunda baik-baik saja?" ucap Belinda dengan raut wajah yang khawatir.
"Tak perlu cemas Bunda baik-baik saja, bagaimana kamu bisa menemukan Caramel?" ucap Alice dengan raut wajah yang penasaran.
"Ceritanya panjang Bunda, sebaiknya Bunda dan juga Caramel segera pergi dari sini karena Ayah tampaknya sedang mencari keberadaan Caramel saat ini." ucap Belinda yang lantas di balas anggukan kepala oleh Caramel saat itu.
Alice meringis ketika ia berhasil mencabut jarum tersebut secara paksa, membuat Belinda lantas tidak tega ketika melihat Alice seperti menahan sakit saat itu.
"Apa Bunda baik-baik saja?" ucap Belinda kemudian bertanya yang lantas di balas Alice dengan anggukan kepala.
Alice nampak bangkit dari ranjang tersebut dan bersiap hendak kabur melalui jendela kamar. Hanya saja gerakan ketiganya lantas terhenti ketika mereka bertiga mendengar sebuah suara dari area pintu kamar.
**
Cklek....
__ADS_1
"Alice! Apa yang kamu lakukan?" pekik sebuah suara ketika mendapati Alice sudah berdiri dan melepas infus di tangannya.
Mendengar suara menukik tajam tentu saja membuat Alice langsung terkejut dengan seketika. Beruntung sebelum Kafin membuka pintu, Caramel dan juga Belinda berhasil bersembunyi di sana, sehingga tepat ketika pintu itu terbuka Kafin tidak melihat kehadiran keduanya di sana.
"Jangan mendekat atau aku akan berteriak!" ucap Alice kemudian sambil mengambil langkah kaki mundur.
Alice jelas tahu jika saat ini Caramel dan juga Belinda sedang bersembunyi di sebelah Almari dekat pintu masuk. Membuat Alice harus berusaha memancing Kafin mendekat agar keduanya bisa kabur dari area kamar ini.
"Untuk apa kamu berteriak aku bahkan tidak akan menyakiti mu, kondisi mu sedang tidak baik-baik saja. Apa begini caramu memperlakukan orang yang sudah menolong mu?" ucap Kafin sambil mulai mengambil langkah kaki besar menuju ke arah Alice.
"Jangan bermain kata-kata Kaf, aku hanya ingin mengakhiri semua ini. Mari.. Mari kita hidup dengan damai dalam jalan kehidupan masing-masing, aku sudah bahagia bersama dengan Putri ku." ucap Alice sambil menatap lurus ke arah Belinda yang sedang menggendong Caramel saat itu, Alice yang melihat ada celah terus berusaha memancing Kafin dan mengisyaratkan kepada keduanya agar mulai bergerak.
"Masalahnya di sini aku sama sekali tidak bahagia, apa semua hal yang aku lakukan kepada mu tidak ada artinya?" ucap Kafin kemudian yang nampak terdengar frustasi saat itu.
Kafin bahkan tidak tahu lagi harus menjelaskannya seperti apa kepada Alice agar ia mengerti tentang keluh kesahnya. Kafin mengusap raut wajahnya dengan kasar kemudian hendak berbalik badan saat itu. Mendapati hal tersebut Alice yang tahu jika Kafin akan berbalik, lantas langsung berlarian ke arah Kafin dan memutar tubuh Pria itu dengan cepat sambil mengibaskan tangannya agar Belinda dan juga Caramel segera bergerak dan pergi.
"Tatap mata ku Kaf, apa menurut mu mata ini adalah seseorang yang kau cari selama ini?" ucap Alice sambil menggenggam kuat pundak Kafin saat itu berharap ia tidak akan menoleh ke arah belakang lagi.
Mendengar hal tersebut tentu saja langsung membuat Kafin terdiam dengan seketika. Ditatapnya manik mata Alice dalam-dalam saat itu, masih terlihat dengan jelas bagaimana senyum merekah milik Bianca di sana. Namun satu-satunya hal yang berbeda dari keduanya adalah manik mata berwarna coklat terang yang hanya di miliki oleh Alice. Keteduhan manik mata itu sama sekali tidak bisa tergantikan oleh siapapun termasuk mendiang istrinya.
"Cih aku bahkan sudah menduganya, mulai saat ini sebaiknya kita jalani kehidupan kita masing-masing. Berhenti mengganggu ku dan juga Caramel." ucap Alice kemudian sambil mulai beranjak pergi ketika ia melihat Belinda dan juga Caramel berhasil keluar dari sana.
Namun sayangnya Alice yang semula hendak berlalu pergi, lantas terlihat menghentikan langkah kakinya dengan seketika begitu sebuah tarikan tangan dari Kafin membuatnya terhuyung ke arahnya.
Cup
__ADS_1
Bersambung