Move

Move
Sebuah informasi yang belum selesai


__ADS_3

Dapur


Alice yang saat itu telah selesai memasak dengan di bantu Lala dan juga Mila nampak sedikit celingukan ketika tak kunjung mendapati Kafin datang ke area meja makan. Sejak Alice membuka matanya pagi ini, ia bahkan sudah mendapati Kafin tak ada di sampingnya saat itu. Membuat helaan napas lantas terdengar dengan jelas berhembus kasar dari mulut Alice saat itu.


"Apakah Kafin sudah berangkat ke kantor? Aku rasa tidak mungkin kecuali ia ada pertemuan penting mengingat sekarang masih pukul 6 pagi, lalu pergi kemana dia? Mengapa sejak pagi sudah tidak ada di kamar?" ucap Alice dengan raut wajah yang di tekuk kesal.


"Apa ada sesuatu Nyonya? Saya melihat wajah anda hari ini lesu sekali." ucap sebuah suara yang berasal dari Mila dan berhasil membuyarkan lamunan Alice saat itu.


"Ah tidak, oh ya.. Apa kamu melihat Kafin?" ucap Alice kemudian sambil menarik bibirnya agar tersenyum saat itu.


"Tuan sepertinya ada di ruang kerjanya Nyonya, tadi pagi ketika saya bersih-bersih saya melihat lampu ruangannya menyala." ucap Lala yang ikut menanggapi pembicaraan keduanya saat itu.


"Ah seperti itu, kalian berdua lanjutkan menata piringnya aku akan ke sana sebentar." ucap Alice yang lantas di balas keduanya dengan anggukan kepala.


**


Ruangan Kafin


Alice yang tadinya hendak mengetuk pintu ruangan tersebut, melihat pintu ruangan yang terbuka lantas langsung membuat Alice memilih untuk langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut. Dengan langkah kaki yang perlahan Alice mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Kafin berada saat itu.


Ditatapnya Kafin yang saat itu terlihat tengah tertidur dengan pulas. Hanya saja ketika Alice melihat Kafin yang seperti tengah bermimpi buruk dan basah dengan keringat, Alice lantas terkejut dan berusaha untuk membangunkan Kafin saat itu.


"Kaf.. Kafin bangunlah.. Jangan membuat ku takut seperti ini.. Kaf..." panggil Alice beberapa kali sambil menepuk pipi dan juga pundak Kafin seakan berusaha untuk membangunkannya.


Butuh waktu cukup lama bagi Alice untuk membangunkan Kafin, mengingat saat itu Kafin bahkan sempat bergumam dengan nada yang tak jelas ketika Alice masih berusaha untuk membangunkannya.

__ADS_1


"Kaf... Kafin bangun.." ucap Alice sekali lagi.


"Bianca apa yang kamu lakukan?" pekik Kafin dengan nada yang meninggi.


"Aku... Aku hanya mencoba untuk membangunkan mu!" ucap Alice yang terkejut begitu mendapati Kafin membuka matanya dan langsung menatapnya dengan tatapan yang tajam


Plak...


Sebuah tamparan yang keras mendarat tepat di pipi sebelah kanan Alice saat itu, membuat Alice yang tak mengerti apa-apa lantas terkejut akan sesuatu yang ia dapati dengan tiba-tiba.


Keheningan mendadak terjadi di area ruangan kerja Kafin. Disaat Alice yang sedang terkejut akan apa yang baru saja ia terima, lain halnya dengan Kafin yang nampak marah ketika terbangun dan melihat wajah Bianca tepat di hadapannya saat itu. Namun ketika kesadaran Kafin sudah berangsur-angsur pulih sepenuhnya, Kafin benar-benar terkejut ketika menatap ke arah sekitaran dan mendapati jika ia sedang tidak berada di kamar hotel saat ini.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Alice sambil memegangi area pipinya yang terasa kebas akibat tamparan dari Kafin barusan.


"Al aku tadi... Ap..a sakit? Aku benar-benar minta maaf.." ucap Kafin sambil berusaha untuk melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alice berada saat ini.


"Sarapannya sudah siap, kamu mandilah dulu dan segera ke meja makan, jangan sampai anak-anak menunggu terlalu lama." ucap Alice sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Kafin dengan segudang penyesalannya.


"Tapi Al.. Alice..." panggil Kafin namun terhenti ketika ia melihat kedatangan Dimas yang tanpa sengaja berpapasan dengan Alice yang baru saja keluar dari area ruang kerjanya.


Dimas yang mendengar teriakan dari Kafin serta raut wajah Kafin yang aneh, lantas sedikit tersentak sambil menatap bingung ke arah Kafin saat itu.


"Apakah ada sesuatu Tuan?" tanya Dimas sambil terus membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Kafin berada saat ini.


Mendengar hal tersebut Kafin lantas menarik napasnya dalam-dalam kemudian memijit pelipisnya yang terasa berdenyut secara perlahan. Sepertinya karena perasaan amarah tanpa sadar Kafin menampar Alice begitu saja karena mengira jika ia adalah Bianca.

__ADS_1


"Apa kamu sudah temukan sesuatu?" tanya Kafin kemudian sambil mulai melangkahkan kakinya dan mengambil duduk di sofa.


"Ada beberapa hal yang harus anda ketahui Tuan, tapi saya harap anda jangan terlalu terkejut." ucap Dimas kemudian yang lantas membuat Kafin langsung mengernyit dengan seketika.


"Apa maksud perkataan mu sebenarnya?" ucap Kafin dengan raut wajah yang penasaran.


"Sesuai dengan permintaan anda saya menyelidiki setiap hal yang terjadi sebelum kecelakaan yang terjadi kepada anda dan juga Nyonya satu tahun yang lalu. Saya menemukan jika Nyonya dan juga Alex sempat berhubungan intens selang beberapa hari sebelum terjadinya kecelakaan tersebut. Tidak hanya itu, saya juga menemukan informasi jika keduanya pernah bertemu di salah satu hotel yang terletak di Ibukota tepat dua hari sebelum terjadinya kecelakaan yang merenggut nyawa Nyonya Bianca saat itu." ucap Dimas dengan nada yang terdengar begitu ragu.


Mendengar hal tersebut lantas membuat Kafin mengepalkan tangannya penuh dengan amarah. Kafin yang sudah begitu kesal lantas langsung bangkit dan berlalu pergi dari sana tanpa menunggu terlebih dahulu penjelasan dari Dimas yang belum selesai.


Dimas yang melihat kepergian Kafin tentu saja berusaha untuk menghentikannya saat itu, namun sayangnya Kafin yang terlalu marah lantas sama sekali tak ingin mendengar perkataan dari Dimas dan langsung berlalu pergi begitu saja.


"Arg sial! Aku bahkan belum menyelesaikan laporan ku sepenuhnya, bagaimana bisa Tuan berlalu pergi begitu saja?" ucap Dimas dengan raut wajah yang kesal sambil mulai mengambil langkah kaki yang besar menyusul kepergian Kafin dari ruang kerjanya.


***


Ruangan rapat tepatnya di SJ Company


Pagi itu Alex dan beberapa jajaran penting perusahaan tengah sibuk membahas beberapa hal penting menyangkut profit dan juga harga jual saham yang mulai meroket naik ke atas. Berkat bantuan suntikan dana dari Kafin, perusahaan yang semula hendak bangkrut kini perlahan-lahan mulai kembali ke jalurnya.


"Aku rasa untuk meningkatkan produktifitas perusahaan ini kita membutuhkan beberapa inovasi baru yang mungkin..." ucap Alex namun terhenti ketika sebuah suara yang keras terdengar menggema yang berasal dari pintu ruang rapat yang di buka dengan kasar saat itu.


Brak....


"Dasar kau baj**gan!" pekik Kafin sambil terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alex berada saat ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2