
"Mama tidak ada!" pekik Caramel dengan tatapan yang panik.
"Apa?" ucap Ashraf dengan raut wajah yang terkejut.
Ashraf yang seakan tidak percaya jika Alice tidak ada di kamar mandi, lantas langsung memutuskan untuk masuk sendiri ke dalam dan memastikan bahwa Alice benar-benar tidak ada di sana.
Beberapa perempuan yang kebetulan tengah berada di kamar mandi tentu saja langsung terkejut, begitu mendapati jika Ashraf menerobos masuk begitu saja.
"Apa yang kau lakukan? Dasar mesum.." teriak salah satu wanita di sana.
"Aku minta maaf, aku hanya sedang mencari istri ku... Aku janji tidak akan mengganggu kalian." ucap Ashraf sambil bergerak begitu saja menyusuri area kamar mandi tanpa menghiraukan yang lainnya.
"Sial! Masalah Rumah tangga, benar-benar menyebalkan." ucap wanita yang lainnya sambil mulai berhamburan keluar dari kamar mandi karena kesal akan sikap Ashraf barusan.
Ashraf yang benar-benar tidak menemukan keberadaan Alice di manapun saat itu, lantas mulai kebingungan. Ditatapnya area sekitar dan benar-benar nampak kosong di sana, tidak ada seorang pun kecuali dirinya. Membuat Ashraf lantas berdecak dengan kesal karenanya, ia tadi bahkan jelas-jelas melihat jika Alice masuk ke dalam kamar mandi. Bagaimana bisa tiba-tiba Alice menghilang begitu saja tanpa jejak dan tanpa sepengetahuan darinya?
Caramel yang seakan tahu jika saat ini suasana tengah tidak baik-baik saja, lantas perlahan-lahan mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Ashraf berada saat itu. Caramel nampak menarik kemeja Ashraf dengan perlahan, membuat Ashraf langsung menatap ke arah sumber tarikan dengan seketika.
"Apa Mama sudah pulang lebih dahulu Pa?" ucap Caramel dengan nada yang polos.
Mendengar hal tersebut membuat Ashraf lantas mengusap lembut rambut Caramel, kemudian menggendong tubuh Caramel saat itu.
"Sepertinya Mama ada keperluan mendesak dan tak enak jika mengganggu Cara bermain tadi, jadi Mama memutuskan untuk pulang terlebih dahulu." ucap Ashraf mencoba untuk mencari alasan saat itu.
"Apa Cara membuat Mama kecewa?" ucap Caramel dengan nada yang terdengar merasa bersalah saat itu.
__ADS_1
"Tidak sayang, jangan seperti itu. Bagaimana jika kita pulang dan memberikan Mama kejutan?" ucap Ashraf dengan nada yang terdengar membujuk Caramel.
"Baiklah" ucap Caramel kemudian.
Pada akhirnya Ashraf yang tidak ingin jika Caramel merasa bersalah akan kejadian ini, memutuskan untuk membawa Caramel pulang sambil mencari keberadaan Alice di sekitaran area Mall.
"Setidaknya aku tidak boleh gegabah untuk saat ini, Caramel tidak boleh tahu jika Alice menghilang." ucap Ashraf dalam hati sambil membawa langkah kakinya berlalu pergi dari sana.
***
Ruangan CEO
Brak
Sebuah suara yang berasal dari area luar, lantas mengejutkan Kafin yang tengah fokus memeriksa beberapa dokumen tentang kerja sama perusahaan.
"Apa yang membuat mu datang kemari Tuan Ashraf Mathew?" ucap Kafin dengan nada yang menyindir seakan tengah mengejek Ashraf saat ini.
Mendengar perkataan dari Kafin barusan, lantas membuat Ashraf langsung naik pitam. Ditariknya kerah baju Kafin dengan kuat saat itu, namun sayangnya sama sekali tak membuat Kafin kesakitan. Kafin malah nampak terlihat tersenyum karena tarikan dari Asraf saat ini.
"Tutup mulut mu itu, katakan sekarang.. Dimana kau membawa Alice pergi? Aku benar-benar tidak punya banyak waktu untuk meladeni permainan gila mu ini!" pekik Ashraf dengan manik mata yang tajam, sambil masih menarik kerah baju Kafin saat itu.
Mendengar perkataan dari Ashraf barusan, Kafin yang semula begitu senang mengejek Ashraf saat itu. Lantas perlahan-lahan raut wajahnya mulai berubah dengan seketika, perkataan Ashraf yang mengatakan jika Alice tengah hilang saat ini benar-benar membuatnya terkejut bukan main.
Kafin yang mulai merubah raut wajahnya menjadi serius saat itu, lantas langsung menepis tangan Ashraf saat ini yang tengah mencengkram kerah baju Kafin dengan sangat erat.
__ADS_1
"Apa maksud perkataan mu barusan? Bukankah Alice berada di Rumah mu? Jangan bercanda kau!" ucap Kafin sambil bangkit dari tempat duduknya saat itu.
Ashraf yang mendengar hal tersebut tentu saja ikut terkejut karenanya, ketika mendengar perkataan Kafin yang malah balik bertanya dengannya. Ashraf bahkan tidak mengerti, mengapa Kafin malah menanyakan hal tersebut kepadanya, padahal jelas-jelas sebelumnya Ashraf lah yang bertanya lebih dulu tentang keberadaan Alice kepada Kafin.
"Bukan kau yang melakukannya? Lalu siapa?" ucap Ashraf dengan raut wajah yang bingung sekaligus bertanya-tanya.
"Tentu saja bukan! Jika memang itu aku, tidak hanya Alice yang akan aku ambil tapi juga Caramel!" pekik Kafin yang tidak terima akan tuduhan Ashraf saat ini.
Mendengar hal tersebut lantas membuat Ashraf kembali terdiam dengan seketika, ia mencoba untuk menarik kembali segala hal yang terjadi kepadanya sedari tadi ia berangkat bersama Alice dan juga Caramel ke arena bermain. Sampai kemudian ia teringat akan Cicil yang sempat ia temui di sana, membuat ashraf lantas berdecak dengan kesal ketika mendengarnya.
"Sialan! Jangan bilang wanita itu..." ucap Ashraf yang seakan baru menyadari akan hal tersebut.
Ashraf yang baru teringat akan Cicil, lantas kemudian memutuskan untuk melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana. Tanpa menunggu jawaban ataupun perkataan Kafin selanjutnya, Ashraf berlalu pergi begitu saja. Membuat Kafin yang mendapati kepergian Asraf, tentu saja langsung bingung sekaligus penasaran akan apa yang tengah terjadi saat itu sebenarnya.
"Mau kemana kau? Katakan ada apa sebenarnya?" pekik Kafin sambil menarik pundak Ashraf, yang tentu saja langsung membuat langkah kaki Ashraf terhenti dengan seketika.
"Kau tidak perlu tahu apapun karena aku tidak memerlukan bantuan mu." ucap Ashraf sambil menghempaskan tangan Kafin begitu saja.
"Apa maksud mu?" ucap Kafin yang terlihat mengepalkan tangannya saat itu, seakan berusaha untuk menahan emosinya.
"Aku sama sekali tidak ada urusan dengan mu, jadi aku tidak akan memberi tahu mu kali ini. Anggap saja ini sebagai balasan dari ku, jadi jangan ikut campur Tuan Kafin Aksan Devendra." ucap Ashraf sambil menepuk pundak Kafin beberapa kali, sebelum pada akhirnya benar-benar berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan langkah kaki yang besar.
Mendengar ejekan tersebut membuat manik mata
Kafin menajam dengan seketika. Kafin benar-benar kesal ketika mendapati balasan perkataan dari Ashraf barusan.
__ADS_1
"B3d3b4h sialan kau!" pekik Kafin sambil menendang pintu ruangannya saat itu.
Bersambung