Move

Move
Bagaimana bisa?


__ADS_3

30 menit sebelum kehilangan Caramel


Alice terlihat melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju ke arah gedung utama untuk menebus resep milik Caramel. Dengan langkah kaki yang perlahan Alice mulai membawa langkah kakinya melintasi lorong Rumah sakit saat itu. Hanya saja belum jauh langkah kakinya melangkah saat itu, sebuah tarikan tangan yang berasal dari salah satu ruangan saat itu lantas membuatnya terhuyung dan masuk ke dalam ruangan tersebut.


Alice yang mencoba untuk menstabilkan dirinya saat itu, lantas di kejutkan dengan seseorang yang tak asing di ingatannya tengah berdiri tepat di hadapannya saat itu.


"Apa yang kau lakukan ha?" ucap Alice dengan nada yang terdengar ketus saat itu.


"Ada sesuatu yang harus kita bicarakan sebelumnya, aku tidak mau jika kesalahpahaman ini terus berlarut-larut Al..." ucap sebuah suara yang berasal dari Kafin saat itu.


Alice yang mendengar perkataan Kafin barusan lantas terlihat membuang mukanya saat itu. Sedangkan Kafin yang melihat reaksi Alice saat ini, hanya bisa menghela napasnya dengan panjang.


"Aku tidak ada waktu untuk meladeni pembahasan ini, aku harap kamu bisa mengerti. Anak ku tengah menunggu ku di luar dia sedang tidak enak badan." ucap Alice mencoba untuk membuat Kafin mengerti.


"Aku hanya butuh waktu mu sebentar Al.." ucap Kafin dengan raut wajah yang penuh harap.


"Aku benar-benar tidak ada waktu, lagi pula apa yang jamu lakukan di sini? Apa kamu mengikuti ku?" ucap Alice dengan raut wajah yang curiga menatap lurus ke arah Kafin.


"Aku sedang ada agenda kunjungan ke Rumah sakit ini, sudahlah lagi pula itu tidak terlalu penting saat ini. Berikan aku waktu untuk..." ucap Kafin namun terhenti seketika di saat ia tak sengaja melihat syal yang di kenakan oleh Alice tersingkap sedikit naik ke atas.


Pandangan mata Kafin terhenti tepat di area leher Alice yang sedikit terlihat walau terbalut oleh syal saat ini. Kafin bukanlah Pria bodoh yang tidak mengerti akan arti dari tanda merah di leher seorang wanita.

__ADS_1


Sampai kemudian sebuah rasa penasaran mendorongnya untuk membuka syal tersebut begitu saja tanpa ijin dari Alice saat itu.


"Apa-apaan ini!" pekik Kafin dengan tatapan yang melotot tajam.


"Yang harusnya mengatakan itu adalah aku Kaf, apa yang kamu lakukan sebenarnya?" ucap Alice sambil berusaha menutupi area lehernya saat itu.


Namun sayangnya Kafin yang menyadari akan apa yang sedang terjadi saat ini, lantas terlihat berusaha menarik syal Alice dari lehernya saat itu. Tarik menarik antara Alice dan juga Kafin sama sekali tidak bisa di hindarkan, sampai kemudian Alice yang kalah tenaga dari Kafin harus menerima kekalahan telak.


Srek...


Baju bagian depan Alice robek dan membuat dua buah kancing bagian atasnya berhamburan entah kemana. Hening sesaat tepat ketika bajunya sobek begitu saja akibat ulah dari Kafin yang terkesan kasar dan aneh itu.


Plak...


"Kau benar-benar keterlaluan!" ucap Alice dengan tatapan menghunus tajam saat itu.


"Kau yang keterlaluan, bagaimana bisa kau keluar dengan penampilan yang seperti ini? Apakah di rumah mu sama sekali tidak ada cermin? Apa jangan-jangan kau memang ingin menunjukkan tanda cinta ini kepada dunia bukan? Awalnya ku kira kau itu seorang wanita yang terhormat, namun ternyata kau sama saja dengan wanita-wanita penghibur di luaran sana." ucap Kafin dengan manik mata yang menghunus tajam.


Perkataan Kafin yang secara spontan akibat rasa merah meluap dalam dirinya, lantas menancap begitu saja di hati Alice saat itu. Alice bahkan tidak menyangka jika Kafin akan menyamakannya dengan para gadis penghibur malam. Bukankah hal itu sungguh sangat keterlaluan?


Ditatapnya manik mata Kafin yang saat ini tersimpan begitu banyak amarah yang menggebu-gebu. Tatapan kekecewaan terlihat jelas dalam manik mata Alice saat itu, membuat Kafin yang melihatnya dengan jelas melalui sorot mata Alice lantas langsung terdiam dengan seketika.

__ADS_1


"Apa hak mu menyamakan aku dengan mereka? Kau sama sekali tidak tahu apapun soal tanda merah ini! Apa yang kau lihat nyatanya belum tentu sebuah kebenarannya, jadi jaga mulut mu itu! Kau sama sekali tidak berhak menilai seseorang serendah itu!" ucap Alice dengan nada yang begitu kesal sambil mendorong area dada Kafin cukup keras saat itu.


Setelah puas mengatakan hal tersebut Alice lantas berlarian begitu saja tepat setelah sorot mata tajam penuh kekecewaan mengarah jelas ke arah Kafin saat itu.


Melihat Alice yang pergi begitu saja saat itu lantas membuat Kafin terdiam seketika di tempatnya. Tatapan penuh rasa kecewa dari manik mata Alice benar-benar membuat Kafin tertegun dengan seketika. Karena emosi melihat begitu banyak tanda cinta di area leher Alice, lantas membuat Kafin melupakan tujuan utama sebenarnya dirinya menarik Alice datang ke tempat ini.


Diusapnya raut wajah Kafin dengan kasar kemudian berdecak kesal, lagi dan lagi penyesalan kembali memenuhi hatinya saat itu. Membuat Kafin lantas menendang rak yang berada tidak jauh dari tempatnya berada saat itu.


"B3r3ngs3k! Bagaimana bisa aku melupakan tujuan utama ku? Apa yang sudah kau lakukan Kafin? Dasar bodoh!" ucap Kafin menggerutu kesal merutuki kebodohannya sendiri saat ini.


Disaat Kafin tengah tenggelam dalam jurang penyesalan saat ini, sebuah deringan ponsel miliknya lantas terdengar menggema saat itu. Membuat Kafin lantas terlihat mulai merogoh saku celananya saat itu. Sambil membuang napasnya dengan kasar, kafin mulai menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponselnya saat itu.


"Ada apa?" tanya Kafin dengan raut wajah yang kesal karena panggilan telpon dari Dimas lantas membuyarkan segala lamunan dan kegelisahannya saat itu.


"Saya sudah melihat target dan saat ini menunggu perintah dari anda untuk mulai bergerak, apa yang anda inginkan Tuan?" ucap Dimas di seberang sana yan lantas membuat Kafin langsung terdiam dengan seketika.


Mendengar perkataan dari Dimas barusan lantas membuat Kafin langsung terpejam seketika. Entah apa yang tengah Kafin pikirkan saat ini, namun yang jelas sesuatu tengah memenuhi kepalanya saat ini. Sebuah rasa yang tidak pernah Kafin rasakan, perlahan-lahan mulai membawa dirinya ke arah ambang keegoisan.


Kafin yang seakan berusaha untuk mencari jawaban dari pertanyaan Dimas barusan, lantas menarik napasnya dalam-dalam saat itu kemudian kembali membuka kelopak matanya dengan tatapan yang yakin saat itu.


"Lakukan sesuai dengan rencana semula, pastikan jika semua halnya berjalan dengan baik tanpa kesalahan!" ucap Kafin pada akhirnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2