Move

Move
Apa yang terjadi sebenarnya?


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan sebenarnya ha? Apakah kau tengah menguji ku saat ini?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Kafin mengernyit dengan seketika.


Melihat Cicil datang ke kediamannya dengan raut wajah yang menahan amarah, lantas membuat Kafin tersenyum karenanya. Kafin bahkan sudah menduga jika Cicil akan datang dan melabraknya perihal Alex. Hanya saja ia sama sekali tidak menduga jika akan secepat ini.


"Ada apa dengan mu? Apakah kau datang ke tempat yang salah?" ucap Kafin dengan nada mengejek.


Manik mata Cicil terlihat menajam begtu mendengar suara dari Kafin barusan, yang seakan-akan tengah mengejeknya saat ini.


"Jangan berpura-pura polos Kaf, aku tahu kamu yang menyuruh polisi itu agar menyergap Alex, bukan?" ucap Cicil dengan nada yang meninggi.


"Jika ia, lalu kenapa?" ucap Kafin dengan santainya seakan sama sekali tidak merasa bersalah.


"Kau bilang kenapa? Apa kau sudah gila? Alex ada pemilihan tahun ini dan kau malah tanya kenapa? Apa kau sudah tidak waras?" pekik Cicil dengan nada yang terdengar begitu kesal.


"Setiap permintaan akan ada harga untuk menebusnya, bukankah kau menginginkan proyek itu? Maka inilah harga yang aku minta, bukankah dengan begini baru adil?" ucap Kafin dengan nada yang terdengar santai, namun berhasil membuat manik mata Cicil membulat dengan seketika.


"Kau..."


Tangan Cicil yang semula hendak memukul Kafin saat itu, terlihat terhenti di awang-awang. Tatapan tajam saling terlempar antara Kafin dan juga Cicil saat itu, membuat suasana kian memanas di sana.


"Ingat satu hal Cil, aku bukan lagi Kafin yang mudah untuk kalian tipu. Kau menyentuh ku sekali maka aku akan membalas mu berulang kali dari apa yang kau lakukan kepada ku. Jangan pikir aku tidak bisa menghancurkan keluarga mu itu, jika aku mau dalam semalam semuanya akan hancur!" ucap Kafin sambil menghempaskan begitu saja tangan Cicil saat itu.


Setelah mengatakan hal tersebut, Kafin lantas membawa langkah kakinya masuk begitu saja meninggalkan Cicil seorang diri di sana.


Bruk..


Cicil hanya bisa menatap ke arah pintu kediaman Kafin yang di tutup dengan cukup keras saat itu. Ia benar-benar tidak menyangka jika Kafin akan melakukan hal ini kepadanya dan juga Alex


"Sialan kau Kaf! Awas saja.. Aku pastikan kau akan menyesal." ucap Cicil sebelum akhirnya berbalik badan dan berlalu pergi dari kediaman Kafin saat itu.

__ADS_1


***


Sementara itu di kantor polisi


Terlihat Alice tengah menatap kosong ke arah Ashraf yang saat ini sedang sibuk berbicara bersama dengan petugas polisi.


Helaan napas kasar terdengar jelas berhembus kasar dari mulutnya saat itu. Pikiran Alice melayang membayangkan segala hal yang baru saja terjadi kepadanya.


"Apa sebenarnya maksud perkataan Alex? Mengapa seakan-akan ia begitu menanti kedatangan Kafin ke sana? Apakah sesuatu sudah terjadi diantara keduanya?" ucap Alice pada diri sendiri sambil menatap kosong ke arah depan saat itu.


Disaat Alice tengah sibuk melamunkan setiap halnya, sebuah tepukan tangan yang berasal dari Ashraf saat itu lantas membuyarkan segala lamunannya saat itu.


"Apakah ada sesuatu Al?" ucap Ashraf yang menatap ke arah Alice dengan raut wajah yang khawatir.


"Tidak ada, bagaimana perkembangannya? Apakah semua berjalan dengan baik?" ucap Alice kemudian yang lantas membuat Ashraf menghela napasnya dengan panjang.


"Kau benar-benar membuat ku takut Al, sebaiknya kita pulang saja terlebih dahulu aku akan menjelaskannya nanti. Aku tahu kamu pasti lelah bukan?" ucap Ashraf sambil mengusap lembut rambut Alice saat itu.


***


Area dalam mobil


Sepanjang perjalanan pulang Alice nampak terdiam menatap ke arah luar kaca jendela. Pikirannya saat ini benar-benar melayang memikirkan segala hal yang terus terjadi kepada dirinya.


Bayangan Dimas yang tak sengaja bertemu dengannya di kantor polisi juga tak luput dari pikirannya. Entah apa yang di lakukan oleh asisten Kafin saat itu, namun yang jelas hal tersebut benar-benar membuat Alice risau karenanya.


"Apa yang sebenarnya di lakukan oleh Dimas di sana? Apa Kafin mengetahui segalanya yang terjadi kepada ku?" ucap Alice dalam hati.


Ashraf yang mengerti jika Alice tengah tidak baik-baik saja, lantas berinisiatif menyalakan radio untuk mengusir keheningan yang terjadi diantara keduanya.

__ADS_1


Penangkapan seorang calon presiden dengan inisial AS dilakukan sore tadi di sebuah Villa yang berada di puncak. Laporan dilakukan oleh seorang pengusaha dengan inisial K**AD atas tuduhan penculikan...


Clap


Begitu mendengar berita tersebut lantas membuat Ashraf mematikan saluran radio begitu saja. Mendapati hal tersebut membuat Alice mengernyit dengan raut wajah yang bingung. Alice cukup terkejut akan berita tersebut, pemikirannya diperkuat dengan tanpa sengaja ia bertemu dengan Dimas di Kantor polisi tadi.


"KAD itu Kafin Aksan Devendra? Tapi bagaimana bisa? Tidak mungkin bukan?" ucap Alice dalam hati sambil terdiam menatap kembali ke arah luar kaca jendela.


"Apakah kamu baik-baik saja Al?" tanya Ashraf kemudian yang lantas membuat Alice langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.


"Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, aku baik-baik saja." ucap Alice mencoba untuk tersenyum sebisa mungkin meski di benaknya terus saja bertanya-tanya.


Ashraf yang tahu jika Alice tengah berbohong lantas menggenggam tangan Alice dengan erat, sambil sesekali mengusap punggung tangan wanita itu.


"Jika kamu butuh teman cerita aku siap mendengarkan Al, kali ini aku tidak akan memaksa mu untuk menceritakan segalanya.. Aku akan menunggu mu hingga siap." ucap Ashraf dengan nada yanga terdengar begitu lembut.


"Terima kasih banyak... Lagi-lagi aku berhutang budi kepadamu." ucap Alice sambil tersenyum simpul yang di balas Ashraf dengan senyuman pula.


***


Seminggu kemudian


Di sebuah area ballroom di hotel ternama yang masih terletak di ibukota, terlihat beberapa pernak-pernik serta hiasan khas pernikahan berjajar dengan sangat rapi dan juga cantik di sana. Satu persatu tamu undangan mulai datang dan memenuhi area tempat diadakannya acara pernikahan tersebut. Di depan pintu masuk tertulis nama Asraf dan juga Alice di sana, membuat beberapa tamu undangan semakin mempercepat langkah kakinya dan masuk ke area dalam.


Dari arah tengah Dimas nampak melangkahkan kakinya dengan bergegas dan masuk ke area tunggu pengantin wanita saat itu.


Bruk


Dimas menutup pintu dan menguncinya dengan rapat ketika mengetahui hanya ada Alice seorang di ruangan tersebut.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan di sini?" ucap Alice yang terkejut akan kehadiran Dimas.


Bersambung


__ADS_2