
Setelah mendapatkan kabar jika Alice terlihat di sekitaran area Bandara dan sempat bertemu dengan Dimas, lantas membuat Kafin saat itu menatap kosong ke arah dinding bercat putih di ruangannya. Entah apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh Kafin, namun yang jelas kedatangan Alice benar-benar membuat hatinya kembali merasakan sesuatu yang aneh. Kafin sendiri tidak tahu apa yang saat ini tengah ia rasakan, hanya saja yang jelas setelah kepergian Alice saat itu ia benar-benar merasa kehilangan.
Ditatapnya foto Bianca yang saat itu terpajang dengan jelas di meja kerjanya, membuat Kafin lantas langsung menghela napasnya dengan panjang. Sepertinya Kafin sudah benar-benar jatuh cinta dan jatuh ke dalam jerat Alice saat itu, membuatnya tidak lagi memikirkan Bianca. Yang jelas hanya ada nama Alice di pikirannya sejak 6 tahun yang lalu.
Bianca dan juga Alice keduanya benar-benar berbeda ,tidak hanya sifat bahkan sikap mereka memperlakukan Kafin dan kedua anak-anaknya tentu saja berbeda. Keduanya sama-sama memiliki tempat masing-masing di dalam hati Kafin saat itu. Namun yang jelas nama Alice memiliki tempat yang lebih besar saat ini dibanding dengan Bianca di dalam hatinya. Apakah Kafin sudah benar-benar melupakan Bianca? Entahlah Kafin sendiri bahkan tidak terlalu yakin akan hal itu.
Yang jelas Kafin merasa jika selama ini ia tidak bisa jauh dari Alice, Alice benar-benar telah merubah hidupnya walau beberapa bulan ia menjalani kehidupan dengan Alice. Yang ada hanyalah sebuah kepalsuan dan kebohongan semata yang diciptakan olehnya sendiri. Sepertinya Kafin sudah terjerat ke dalam jebakan yang ia buat dengan tangannya sendiri.
"Aku bisa gila jika terus-terusan seperti ini!" pekik Kafin dengan nada yang frustasi sambil mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
Kafin yang tidak bisa hanya diam saja seperti ini setelah mengetahui berita kembalinya Alice, lantas langsung mengambil ponselnya dan mendial nomor Dimas di sana.
"Halo" ucap sebuah suara di seberang sana.
"Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan keberadaan Alice saat ini?" tanya Kafin kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Setelah saya melacak dan melihat pada rekaman kamera pengawas yang ada di Bandara dan juga lalu lintas. Mobil yang membawa nona Alice nampak menuju ke salah satu kediaman keluarga Ashraf yang terletak di perumahan elit dengan block momor 42." ucap Dimas kemudian mulai menjelaskan segalanya.
"Baiklah aku mengerti." ucap Kafin kemudian sebelum pada akhirnya mengakhiri panggilan telpon miliknya barusan.
Setelah panggilannya terputus barusan Kafin nampak terdiam sejenak menatap lurus ke arah depan. Hingga beberapa menit kemudian Kafin nampak bangkit dari kursi kebesarannya dan mulai membawa langkah kakinya pergi meninggalkan ruangannya saat itu.
"Sepertinya aku harus benar-benar memastikannya sendiri." ucap Kafin pada akhirnya membuat keputusan sambil terus membawa langkah kakinya ke luar dari sana.
__ADS_1
**
Sementara itu di kediaman Ashraf, setelah Ashraf menidurkan Caramel di kamarnya dengan hati-hati. Ashraf nampak membawa langkah kakinya keluar dari sana. Hari ini ia ada pertemuan penting dengan klien sekaligus meninjau perusahaan induk yang terletak di Ibukota. Sudah lama sekali ia tidak datang dan berkunjung ke sana, mengingat terakhir kalinya Ashraf berada di sini adalah enam tahun yang lalu.
Dengan langkah kaki yang perlahan Ashraf nampak membawa langkah kakinya keluar dari kamar Caramel. Sampai kemudian Ashraf terlihat menghentikan langkah kakinya ketika tidak sengaja melihat Alice tengah melamun sambil mengaduk sebuah minuman di cangkir. Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Ashraf langsung mengernyit dengan seketika. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Alice saat ini, yang jelas hal tersebut membuat Ashraf begitu penasaran karenanya.
"Al..." panggil Ashraf sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alice saat itu.
Hanya saja meski Ashraf sudah memanggilnya beberapa kali, Alice sama sekali tidak menjawab panggilannya. Hal tersebut tentu saja membuat Ashraf semakin kebingungan akan sikap Alice saat ini.
"Alice!" ucap Ashraf sekali lagi sambil menepuk pelan pundak Alice saat itu.
Pyar....
"Alice berhenti!" ucap Ashraf ketika melihat Alice hendak bergerak saat ini.
Ashraf yang melihat pecahan gelas berserakan kemana-mana lantas mengarahkan Alice agar melangkahkan kakinya mundur. Kemudian bergerak mengambil sekantung es batu di lemari pendingin.
"Kemarilah..." perintah Ashraf yang menyuruhnya untuk duduk di salah satu kursi meja makan yang berada cukup jauh dari pecahan cangkir tersebut.
"Tapi gelasnya..." ucap Alice sambil menunjuk ke arah lantai.
"Tidak apa, kemarilah!" ucap Ashraf lagi.
__ADS_1
Mendengar perkataan Ashraf barusan, lantas membuat Alice pada akhirnya bergerak secara perlahan ke arah yang ditunjuk oleh Ashraf dan mengambil duduk di sana. Tanpa basa-basi begitu melihat Alice duduk saat itu, Ashraf langsung mengangkat kedua kaki Alice di atas pangkuannya dan mulai meletakkan sekatung es batu tersebut di atasnya.
"Lihatlah kaki mu sampai memerah seperti ini, lagi pula apa yang kamu pikirkan hingga melamun seperti itu ha?" ucap Ashraf sambil fokus ke arah kaki Alice.
Sedangkan Alice yang mendapat pertanyaan tersebut tentu saja tidak bisa menjawabnya. Tidak mungkin Alice akan mengatakan jika ia sedang memikirkan Kafin, Belinda dan juga Altair. Entah apa yang akan terjadi jika Alice benar-benar mengatakan hal tersebut kepada Ashraf saat ini.
"Entahlah, aku sedang memikirkan karir ku yang dulu sebelum semuanya terjadi. Entah mengapa setelah kembali ke sini aku begitu merindukannya." ucap Alice kemudian mulai mencari alasan yang masuk akal. Membuat Ashraf yang mendengar hal tersebut lantas langsung menghela napasnya dengan panjang.
"Sebaiknya kamu cari kesibukan yang lain saja Al, jika kamu kembali berkarier kasihan Caramel tidak bisa mendapat kasih seorang Ibu dengan penuh nantinya." ucap Ashraf sambil masih mengompres kaki Alice saat itu.
"Iya kamu benar, sudahlah biar aku yang melakukannya. Bukankah kamu sudah terlambat saat ini? Pergilah..." ucap Alice kemudian sambil membawa kakinya turun dari pangkuan Ashraf.
Mendengar perkataan Alice barusan lantas membuat Ashraf tersenyum dengan simpul sambil memikirkan sesuatu. Entah apa yang membuatnya begitu menyukai gadis di hadapannya ini, namun yang jelas Ashraf merasa seperti terkena hipnotis ketika menatap semakin dalam pada manik mata milik Alice. Ditatapnya Alice dengan tatapan yang menelisik cukup lama sebelum pada akhirnya, membuat Ashraf mulai terlihat bangkit dari posisinya.
"Boleh ku tanya sesuatu Al?" ucap Ashraf kemudian.
"Apa?" jawab Alice dengan raut wajah yang penasaran
"Sampai kapan aku harus menunggumu membuka pintu hati mu? Bukankah ini adalah saat yang tepat bagi kita?" ucap Ashraf kemudian yang langsung membuat Alice terdiam membeku di tempatnya.
"Aku..."
Bersambung
__ADS_1