Move

Move
Demam?


__ADS_3

Malam harinya


Setelah Kafin menyelesaikan rapat onlinenya dengan salah satu klien di luar negeri, membuat Kafin mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar utama secara perlahan karena takut jika nantinya Kafin akan membangunkan Alice yang kemungkinan sudah tertidur dengan pulasnya di dalam.


Ketika langkah kaki Kafin mulai masuk ke dalam kamar, terlihat Alice sedang tertidur sambil memakai selimut hingga menutupi kepalanya membuat Kafin lantas mengernyit begitu melihat hal tersebut.


"Mengapa cara tidurnya seperti itu? Apakah dia bisa bernapas jika tidur dengan selimut tertutup seperti itu?" ucap Kafin kemudian sambil mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah di mana Alice tengah tertidur saat ini.


Kafin yang melihat hal itu lantas langsung naik ke atas ranjang dan membuka sedikit selimut bagian atas Alice saat itu kemudian bersiap hendak pergi tidur. Hanya saja ketika Kafin akan bersiap merebahkan tubuhnya, sebuah suara yang berasal dari Alice lantas membuat gerakan Kafin lantas terhenti dengan seketika.


"Dingin... Hacih..Hacih..." ucap Alice dengan nada yang tidak jelas, membuat Kafin lantas kembali berbalik badan untuk melihat Alice saat itu.


"Al apa kamu sedang bermimpi? Al..." panggil Kafin sambil menepuk pundak Alice selama beberapa kali.


Alice yang ditepuk pundaknya berapa kali sama sekali tidak merespon, hanya saja sebuah suara bersin_bersin nampak terdengar di kamar itu membuat Kafin langsung mengernyit dengan seketika. Mendengar hal itu Kafin yang mencurigai jika Alice tengah sakit, lantas langsung menempelkan tangannya ke kening Alice berusaha untuk mengetahui suhu badannya. Dan benar saja saat ini Alisa tengah demam membuat Kafin lantas khawatir akan hal tersebut.


"Astaga kamu demam Al..." ucap Kafin sambil mencoba membalikkan tubuh Alice agar tidak dalam posisi yang memunggungi dirinya.


Mengetahui jika Alice sedang demam saat ini, membuat Kafin lantas berusaha hendak bangkit dan mengambil obat yang bisa diminum untuk Alice saat itu. Hanya saja sebuah genggaman tangan yang menghentikan gerakan Kafin lantas, membuat Kafin langsung menoleh ke arah sumbernya.


"Dingin...dingin...dingin..." Rintih Alice berulang kali dengan mata yang tertutup membuat Kafin semakin merasa khawatir karenanya.


"Kamu tenang ya Al... Aku akan pergi sebentar ya mengambilkan beberapa selimut untukmu." ucap Kafin sambil melepas secara perlahan genggaman tangan Alice saat itu dan mulai bergerak pergi dari sana.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Dari arah kamar mandi Kafin nampak membawa baskom menuju ke arah Alice saat itu kemudian meletakkan baskom tepat di atas nakas. Diperasnya handuk kecil yang berada di dalam baskom tersebut dan Kafin letakkan pada kening Alice untuk mulai mengompresnya.


"Dingin... Dingin..." rintih Alice lagi yang lantas membuat Kafin bingung ketika mendengarnya.


Mendengar Alice yang terus mengeluh kedinginan lantas membuat Kafin kemudian kembali bangkit dan menuju ke arah lemari, diambilnya beberapa selimut tebal di sana dan ia langsung gunakan untuk menutupi tubuh Alice agar tidak terasa dingin lagi.


"Bagaimana? Apakah sudah lebih hangat Al?" tanya Kafin kemudian sambil sedikit menekan kompresan di kening Alice saat itu.


Kafin yang mendengar jika Alice masih merasa kedinginan lantas mulai memutar otaknya agar Alice tidak lagi kedinginan.


"Apa aku harus membawanya ke Rumah sakit ya? tapi ini tengah malam, aku yakin hanya akan ada perawat jaga di sana dan Alice pasti akan di tangani keesokan paginya, itu bahkan terlalu lama." ucap Kafin kemudian sambil berkacak pinggang berusaha memikirkan cara yang terbaik.


Disaat perasaan bingung dan juga khawatir menyerang dirinya sebuah ide mendadak terlintas di benaknya saat itu, membuat Kafin berpikir jika tidak ada salahnya untuk mencoba.


"Aku rasa hal itu bukanlah ide buruk, lagi pula menyelamatkan seseorang yang mengalami hipotermia bisa dengan cara itu, bukan? Meski kondisi Alice berbeda namun aku rasa cara itu bisa di gunakan kepadanya." ucap Kafin kemudian pada diri sendiri.


Kafin yang yakin jika cara ini mungkin akan efektif dalam menurunkan demam Alice dan mengurangi rasa dinginnya, lantas mulai perlahan-lahan membuka baju bagian atasnya dan melemparnya begitu saja ke lantai menyisakan hanya celana panjangnya saja yang tetap terpasang di sana.

__ADS_1


Kafin mulai naik ke atas ranjang kemudian membuka sedikit selimut yang menutupi Alice saat itu. Kafin menarik napasnya dalam-dalam dan bersiap untuk membuka kancing baju milik Alice.


"Maafkan aku Al... Tapi aku rasa aku harus melakukan hal ini demi kebaikan mu." ucap Kafin dengan nada yang mulai terdengar canggung.


Setelah mengatakan hal tersebut sambil memalingkan matanya ke arah lain, Kafin mulai membuka kancing baju tidur Alice satu persatu hingga bagian paling bawah. Kemudian mengarahkan baju Alice secara perlahan agar bagian depan lebih terbuka lagi hingga memperlihatkan dua gunung kembar Alice, yang tentu saja membuat Kafin terkejut ketika mendapati hal tersebut.


"Oh sial! Mengapa dia tidak mengenakan bra ketika tidur! Apa dia sedang ingin menggoda ku?" ucap hati kecil Kafin ketika tanpa sengaja melihat ke arah depan setelah berhasil melepas kancing baju Alice secara keseluruhannya.


Kafin menarik napasnya dalam-dalam mencoba untuk menetralkan dirinya. Sampai kemudian Kafin yang mendapati hal tersebut pada akhirnya memutuskan untuk tidak melepaskan baju tidur Alice melainkan hanya membuka bagian depannya saja, sebisa mungkin Kafin melakukan hal itu tanpa melihat ke arah Alice. Meski sedikit sulit karena sempat tergiur akan pemandangan di hadapannya, namun nyatanya Kafin berhasil melakukan hal tersebut.


Kafin yang tidak ingin berada dalam pikiran yang kotor secara terus menerus, lantas mulai memposisikan tubuhnya miring sambil membawa tubuh Alice ke dalam pelukannya kemudian menarik selimut agar menutupi tubuh mereka saat itu. Sepertinya Kafin saat ini tengah menggunakan metode skin to skin untuk meredakan demam dan juga kedinginan yang sedang dialami oleh Alice saat itu.


Kafin tampak memeluk tubuh Alice dengan erat sambil sekali mengusap punggung wanita itu secara perlahan, seakan mencoba untuk membawa hawa panas yang dimiliki tubuhnya agar berpindah kepada Alice dan menetralkan suhu tubuh milik Alice saat itu.


"Dingin-dingin..." rintih Alice lagi yang lantas membuat Kafin semakin mempererat pelukannya.


"Ya aku tahu itu, tidurlah Al tidurlah.. Aku akan selalu ada di sini bersama mu." ucap Kafin dengan nada yang begitu lembut sambil terus mengusap punggung Alice secara perlahan.


***


Keesokan paginya


Sinar mentari yang begitu terik melalui celah-celah ventilasi kamar utama, lantas membuat Alice mulai mengerjapkan kelopak matanya dengan perlahan. Sebuah benda besar nampak memeluknya dengan erat saat itu, membuat Alice lantas tersadar dari tidurnya dengan seketika.


"Apa yang terjadi?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2