Move

Move
Menggali informasi


__ADS_3

Alice yang saat itu baru saja selesai menidurkan Caramel, lantas terlihat melangkahkan kakinya dari pintu kamarnya dan bergerak menuju ke arah sofa ruang tengah.


Alice nampak mengambil duduk di sana dan mulai berselancar pada layar ponsel miliknya. Berita yang ia lihat tentang Alex di televisi tadi benar-benar membuatnya begitu penasaran, sehingga membuat Alice mulai mencari tahu apa saja yang terjadi selama ia berada di luar negeri.


Beberapa menit berselancar pada ponselnya, Alice menemukan sebuah fakta jika sejak lima tahun yang lalu Perusahaan SJ Company telah beralih fungsi menjadi pusat pelayanan masyarakat dan juga galeri seni. Hal ini di tujukan sebagai fasilitas atas terpilihnya Alex sebagai walikota beberapa tahun yang lalu. Dan tahun ini Alex maju sebagai calon pemimpin untuk periode lima tahun ke depan.


"Aku yakin pasti ada sesuatu dengan Perusahaannya, tidak mungkin jika ia mengalih fungsikan Perusahaannya begitu saja tanpa maksud tertentu. Lalu bagaimana dengan keadaan anak-anak ya? Ah aku bahkan benar-benar merindukan mereka." ucap Alice pada diri sendiri sambil menghela napasnya dengan panjang.


Disaat Alice tengah memikirkan segala hal yang terjadi beberapa tahun lalu, sebuah tangan mendadak menyentuh pundaknya saat itu yang tentu saja langsung membuat Alice terkejut dengan seketika.


"Ah kamu mengejutkan ku saja!" pekik Alice sambil bangkit dari tempat duduknya dan berbalik badan.


Ashraf yang berniat hendak menyapa Alice saat itu, melihat raut wajah terkejut Alice tentu saja langsung mengernyit dengan seketika.


"Apa kamu tengah melamun Al? Aku bahkan sempat memanggil mu beberapa kali, namun kamu sama sekali tidak menjawabnya. Apa yang kamu lihat?" ucap Ashraf kemudian dengan raut wajah yang kebingungan.


"Benarkah kamu sudah sedari tadi memanggilku? Sepertinya aku benar-benar terlalu fokus tadi sampai tidak menyadari akan kehadiranmu." ucap Alice sambil kembali mendudukkan pantatnya pada sofa ruangan tersebut.


Mendengar jawaban dari Alice barusan, lantas membuat Ashraf langsung ikut mendudukkan pantatnya di sana. Ashraf terlihat menarik dasinya ke arah kanan dan juga kiri, seakan berusaha untuk sedikit melonggarkan dasi miliknya. Ditatapnya Alice saat itu dengan tatapan yang intens seakan menunggu jawaban dari pertanyaannya tadi.

__ADS_1


"Apakah kamu tahu Alex Sanjaya? Atau mungkin pernah mendengar namanya?" ucap Alice kemudian bertanya sambil menatap ke arah Ashraf dengan raut wajah yang penasaran.


Ashraf yang mendengar pertanyaan dari Alice barusan, tentu saja langsung terdiam sejenak. Ashraf berusaha untuk mengingat siapa Alex Sanjaya, sampai kemudian ketika ia baru saja mengingatnya Ashraf lantas menatap ke arah Alice dengan tatapan yang datar.


"Iya aku mengetahuinya, bukankah tahun ini dia akan maju ke dalam pemilu untuk periode lima tahun ke depan?" ucap Ashraf kemudian yang lantas membuat Alice menghela napasnya dengan panjang.


Entah mengapa ketika mendengar jawaban dari Ashraf barusan, membuat Alice langsung merubah raut wajahnya. Alice bahkan langsung terpikirkan dengan Kafin, permasalahannya dengan Alex tentu saja tidak akan berakhir dengan begitu mudah. Alice yakin ada sesuatu yang terjadi kepada mereka tepat ketika kepergiannya saat itu.


"Apakah Kafin melakukan sesuatu kepada Alex yang lantas membuat Perusahaan SJ Company beralih fungsi? Aku yakin ada sesuatu yang terjadi, argh sudahlah... Mengapa malah aku yang jadi memikirkan hal ini, lagi pula ini urusannya dengan Alex, bukan? Aku tidak seharusnya memikirkan hal ini..." ucap Alice dalam hati sambil menatap lurus ke arah depan.


Ashraf yang melihat perubahan ekspresi raut wajah Alice yang sangat terlihat jelas, lantas mengernyit dengan tatapan yang bingung.


"Apa ada sesuatu Al? Tumben kamu menanyakan masalah politik, apa kamu tertarik terjun ke dalamnya?" ucap Ashraf kemudian yang lantas membuyarkan semua lamunan Alice saat itu juga.


"Maka dari itu menikahlah dengan ku, bukankah dengan begitu kamu akan menikmati segala hal yang aku punya?" ucap Ashraf kemudian kembali memancing Alice, yang tentu saja membuat Alice kembali terjebak dalam pertanyaan sulit yang diberikan oleh Ashraf saat ini.


"Mengapa aku harus mengatakan hal tersebut sih? Jika sudah begini, apa yang harus aku katakan kepada Ashraf?" ucap Alice dalam hati ketika menyadari jika ia sudah salah bicara sebelumnya.


Alice yang tahu jika ia tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan dari Ashraf barusan, lantas langsung bangkit dari tempat duduknya sambil menatap aneh ke arah Ashraf. Membuat Ashraf yang mendapati hal tersebut mengernyit dengan tatapan yang bingung.

__ADS_1


"Aku akan ke kamar Caramel dan pergi tidur, ini sudah malam. Jangan lupa mandi air hangat dan bersihkan dirimu.." ucap Alice kemudian sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Ashraf seorang diri dengan raut wajah yang kecewa.


Ditatapnya langkah kaki Alice yang saat ini terlihat tengah melangkahkan kakinya semakin jauh ke menuju ke arah kamar Caramel saat itu. Sambil mulai membawa dirinya bangkit dari tempat duduk, Ashraf nampak menarik napasnya dalam-dalam.


"Sampai kapan aku harus menunggu mu Al? Ini bahkan sudah enam tahun lamanya, namun kamu masih senantiasa menolak ku dengan berbagai alasan." ucap Ashraf dengan raut wajah yang kecewa sambil terus menatap kepergian Alice, yang saat ini sudah tidak lagi terlihat pada pandangannya.


***


Tengah malam


Setelah mendial nomor Dimas di ponsel miliknya sebelumnya, Kafin sama sekali tidak bisa bernapas dengan lega. Setiap detik, setiap menit bahkan setiap jam Kafin selalu saja menatap ke arah layar ponsel miliknya. Berharap Dimas bisa dengan secepatnya menghubunginya dan memberitahukan segala hal yang ingin ia ketahui. Namun nyatanya hingga saat ini Dimas tak kunjung menelponnya juga.


Mendapati hal tersebut tentu saja membuat helaan napas kasar, lantas terdengar berhembus dari mulut Kafin saat itu. Kafin bahkan berdecak dengan kesal ketika tidak kunjung mendapati telepon dari Dimas, padahal sedari tadi ia benar-benar menantikannya.


"Sebenarnya kemana Dimas? Mengapa ia sama sekali tidak menelpon ku juga? Apakah ia belum bisa menemukan informasi perihal Ashraf dan juga Alice? Aku rasa hal tersebut tidak akan terlalu sulit bagi Dimas, mengingat yang ia gali informasinya kali ini hanyalah seorang Ashraf!" Kafin kemudian dengan nada yang kesal karena tidak kunjung mendapati panggilan telpon dari Dimas hingga saat ini.


Beberapa menit menunggu sebuah deringan ponsel miliknya, lantas langsung membuatnya bergegas menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya begitu mendapati nama Dimas tertulis dnegan jelas di sana.


"Halo" ucap Kafin dengan tidak sabaran.

__ADS_1


"Aku sudah mendapatkannya Tuan!"


Bersambung


__ADS_2