
Di dalam mobil yang dikendarai oleh Kafin saat itu, keheningan nampak terjadi di sana. Entah apa yang tengah ketiganya pikirkan saat ini, namun yang jelas mereka semua sedang menyelami pikiran mereka masing-masing.
Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus kasar dari mulut Altair saat itu. Perkataan Kafin sebelumnya benar-benar membuat pikiran Altair bercabang saat ini. Perkataan Kafin yang terdengar begitu ambigu membuat berbagai asumsi terus berputar di kepala Pria remaja tersebut saat ini.
"Apa yang sebenarnya sedang Ayah katakan? Mengapa aku merasa ada sesuatu yang terjadi, meski Ayah diam tapi aku yakin jika sesuatu telah terjadi saat ini." ucap Altair dalam hati sambil terus menatap ke arah luar kaca jendela saat itu.
Altair yang tidak kunjung menemukan jawaban apapun di dalam kepalanya saat ini, lantas mulai menatap ke arah kursi pengemudi saat itu.
"Apa yang Ayah sembunyikan sebenarnya?" ucap Altair pada akhirnya yang lantas membuat Kafin menoleh sekilas ke arah kaca spion saat ini.
"Tidak usah terlalu dipikirkan karena hal ini juga belum pasti, Ayah sedang mencari tahu segalanya. Setelah semuanya jelas Ayah pasti akan memberitahu kalian semua." ucap Kafin dengan nada yang datar sambil menatap lurus ke arah jalanan saat itu.
"Bukankah sekarang dan juga nanti sama saja? Apa yang membedakannya? Apa Ayah kira kami berdua masih anak-anak sama seperti 7 tahun yang lalu?" ucap Belinda menimpali perkataan keduanya.
Ckit...
Suara decitan rem yang diinjak secara mendadak saat itu yang lantas langsung menghentikan laju mobil yang dikendarai oleh Kafin. Belinda dan juga Altair yang tak mengira jika Kafin akan menginjak remnya dengan tiba-tiba, lantas terkejut dan hampir tersungkur karena tidak memakai sabuk pengaman saat itu. Membuat keduanya lantas menatap dengan tatapan yang kesal ke arah Kafin karena menghentikan laju mobilnya dengan tiba-tiba.
__ADS_1
"Bisakah kalian untuk tidak berisik? Kepala Ayah sudah benar-benar pusing dan kalian malah menambah beban pikiran Ayah menjadi semakin rumit. Sebaiknya kalian diam dan jangan melakukan sesuatu hal yang membuat Ayah semakin kesulitan karena tindakan kalian berdua. Apakah kalian tidak bisa menjadi anak-anak yang manis seperti dulu?" ucap Kafin dengan raut wajah yang kesal sambil menatap ke arah Belinda dan juga Altair secara bergantian.
Sedangkan keduanya yang mendengar perkataan dari Kafin barusan, tentu saja hanya bisa melotot dengan tatapan yang tidak mengerti akan perkataan dari Kafin barusan. Bagaimana bisa Kafin malah membahas antara dulu dan juga sekarang? Bukankah semua ini terjadi karena tindakan Kafin yang menyia-nyiakan mereka? Lalu jika sudah begini siapa sebenarnya yang salah?
"Anak yang manis? Bukankah seharusnya Ayah dulu yang harusnya berubah seperti dahulu? Jika Ayah ingin kami seperti yang dulu, sebaiknya Ayah bercermin dan lihatlah dengan seksama siapa yang sebenarnya berubah di sini, kita atau Ayah?" ucap Altair dengan nada yang kesal.
Setelah mengatakan hal tersebut Altair nampak keluar dari dalam mobil diikuti oleh Belinda. Hanya saja tepat ketika pintu mobil di bagian Belinda terbuka, Belinda nampak menghentikan gerakannya saat itu.
"Harusnya sebelum Ayah mengatakan hal tersebut, Ayah berkaca lah terlebih dahulu. Aku dan juga Abang tidak pernah berubah, kenyataannya selama ini Ayah lah yang telah menelantarkan kita. Jika Ayah tidak pernah merasakan hal tersebut, cobalah Ayah ingat kapan terakhir kali kita bersenda gurau dan berbagi cerita seperti dulu? Cih jangankan bercerita... Datang ke Sekolah untuk rapat wali murid saja Ayah selalu menyuruh Dimas untuk mewakili Ayah!" ucap Belinda dengan panjang.
Baru setelah mengatakan hal tersebut, Belinda terlihat menutup pintu mobilnya dengan keras dan menyusul langkah kaki Altair yang terlihat tengah menyetop taksi saat ini untuk pulang.
Kafin yang menemukan seorang pengganti Bianca dalam hidupnya, mendadak harus jatuh ke lubang terdalam ketika mendapati jika semua hal yang terjadi diantara ia dan juga Alice hanyalah sebuah ilusi semata. Dalam otaknya saat itu hingga kini, ia hanya bisa melampiaskan segalanya melalui pekerjaan. Hingga tanpa sadar ia melupakan jika Kafin masih punya tanggung jawab besar dalam mendidik Belinda dan juga Altair.
Sekarang ketika Altair dan juga Belinda tumbuh menjadi seorang pembangkang. Pantaskah ia menuntut keduanya untuk kembali menjadi anak yang manis seperti dahulu?
"Apa yang telah ku lakukan selama ini? Bagaimana mungkin aku bisa melupakan tanggung jawab ku selama bertahun-tahun lamanya." ucap Kafin dengan raut wajah yang sendu sambil menatap ke arah kepergian taksi yang membawa Altair dan juga Belinda saat itu.
__ADS_1
"Kau benar-benar bodoh Kaf.. Pantas saja Alice mencampakkan mu!" ucap Kafin kemudian dengan tatapan yang tajam menatap lurus ke arah depan.
***
Sementara itu di plataran kediaman Ashraf, terlihat Alice turun sambil menggandeng tangan Caramel dengan langkah kaki yang bergegas. Kali ini Ashraf benar-benar sudah keterlaluan, ia bahkan tidak mengatakan apapun atau bahkan berdekatan dengan Kafin. Tapi Ashraf malah melakukan hal-hal yang membuatnya begitu kesal.
Ashraf yang melihat Alice melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang bergegas, lantas langsung turun dari dalam mobil dan menyusul langkah kaki Alice saat itu. Ditariknya tangan Alice hingga membuat langkah kakinya terhenti dengan seketika.
"Ada apa sebenarnya dengan mu Al? Mengapa kamu mendiamkan ku selama perjalanan pulang?" ucap Ashraf dengan raut wajah yang penasaran akan sikap Alice saat ini.
Mendapat pertanyaan tersebut lantas langsung membuat Alice menghela napasnya dengan panjang, di liriknya Caramel yang saat itu tengah menatap keduanya dengan tatapan polos bercampur kebingungan. Namun detik berikutnya Alice mencoba untuk mensejajarkan tubuhnya tepat di depan Caramel saat itu.
"Cara masuk ke kamar dulu ya? Ada yang mau Mama bicarakan berdua sama Papa beruang." ucap Alice dengan nada yang begitu lembut.
Caramel yang mendengar perkataan Alice barusan, hanya bisa mengangguk secara perlahan. Dengan langkah kaki yang kecil, Caramel kemudian mulai membawa langkah kakinya meninggalkan keduanya dan memberikan ruang untuk Alice dan juga Ashraf berbicara. Sedangkan Alice yang mendapati hal tersebut hanya bisa menarik napasnya dengan panjang. Entah mengapa melihat kepergian Caramel saat ini menuju kamarnya membuat Alice lantas teringat kepada Belinda dan juga Altair
"Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa kamu hanya diam? Jawab aku Al!" pekik Ashraf yang lantas membuyarkan lamunan Alice dengan seketika.
__ADS_1
Bersambung