
"Mengapa kamu diam? Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan selama ini?" ucap Dimas kemudian menatap ke arah Alice dengan raut wajah yang penasaran.
"Stttt kenapa mulut mu berisik sekali sih? Tidak ada yang ku sembunyikan aku hanya tidak ingin terjadi peperangan antara Ashraf dan juga Kafin, jadi usahakan mulut mu itu untuk diam. Aku dan Ashraf tidak akan lama di negara ini, jadi selama aku belum pergi dari sini aku berharap kamu menutup mulut mu dengan rapat!" ucap Alice mencoba untuk memberi penjelasan kepada Dimas agar tidak memperumit keadaan.
"Justru sebelum kamu pergi akan aku pastikan Tuan menemukan mu! Kamu bahkan tidak tahu seberapa sulitnya keadaan Tuan dan juga anak-anak setelah kepergian mu." ucap Dimas dengan nada yang terdengar kekeh.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Alice mulai gelisah, jika sampai Ashraf tahu sudah pasti akan terjadi masalah nantinya.
"Sial! Enggak dari dulu sampai sekarang tingkah laku Dimas bahkan tidak pernah berubah!" ucap Alice dalam hati mencoba untuk memutar otaknya.
Disaat Alice tengah kebingungan mencari cara agar bisa terhindar dari Dimas saat ini. Sebuah suara mendadak terdengar di telinganya saat itu, yang lantas memberikan sebuah ide baru di kepalanya.
"AK Company? Dengan pak Dimas bukan?" ucap sebuah suara yang terlihat mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah keduanya.
Mendengar suara tersebut tentu saja langsung mengalihkan fokus Dimas saat itu. Tujuan Dimas yang sedari awal memang untuk menjemput seorang klien penting perusahaan, lantas melupakan tugasnya ketika tanpa sengaja malah bertemu dengan Alice setelah bertahun-tahun semua orang mencarinya.
"Ya saya, dengan Bapak Pratama?" ucap Dimas sambil menjabat tangan Pria tersebut.
"Betul, saya mencari anda sedari tadi namun tidak ketemu juga. Ternyata anda malah di sini..." ucap Pratama dengan ramahnya.
"Ada beberapa hal yang harus saya urus sebelumnya, saya benar-benar minta maaf karena membuat anda menunggu lama." ucap Dimas kemudian sambil sesekali melirik ke arah belakang mencari keberadaan Alice di sana.
Namun sayangnya ketika Dimas kembali berbalik badan, Alice sudah menghilang dan tidak lagi terlihat di belakangnya. Mendapati hal tersebut membuat Dimas langsung mendengus dengan kesal begitu menyadari jika ia kehilangan jejak Alice barusan.
"Tidak apa Pak, anda tidak perlu sungkan..." ucap Pratama namun terhenti ketika mendapati gelagat aneh dari Dimas saat itu. "Apa ada sesuatu pak Dimas?" ucap Pratama kemudian.
__ADS_1
Mendapat pertanyaan tersebut lantas langsung membuat Dimas menatap ke arah Pratama dengan spontan. Kemudian mengulum senyum seakan mencoba untuk bersikap biasa saja, meskipun di dalam hatinya ia terus bertanya-tanya ke mana perginya Alice barusan.
"Tidak ada, mari.." ucap Dimas kemudian sambil mulai mengarahkan Pratama untuk mulai bergerak pergi.
"Aku akan melaporkan hal ini kepada Tuan setelah mengurus beberapa hal terlebih dahulu." ucap Dimas dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana bersama dengan Pratama.
**
Sementara itu Alice yang baru saja berhasil kabur dari Dimas, lantas terus melangkahkan kakinya sambil sekali melirik ke arah belakang. Bagaimanapun juga caranya Alice harus bisa pergi menjauh dari Dimas, sebelum sesuatu yang tidak ia inginkan akan terjadi berikutnya. Alice terus melangkahkan kakinya sejauh mungkin dari Dimas saat itu.
Sampai kemudian Alice yang tidak terlalu fokus menatap ke arah depan, lantas tidak menyadari akan seseorang yang berada dihadapannya. Membuat Alice langsung menabrak orang tersebut dan terhuyung karenanya. Beruntung seseorang tersebut menarik tangannya, sehingga membuatnya tidak sampai terjatuh saat itu.
"Ada apa Al? Mengapa kamu lari-lari seperti habis melihat setan?" ucap seseorang tersebut yang ternyata adalah Ashraf.
"Tidak apa, tadi hanya ada orang gila yang mengganggu ku maka dari itu aku langsung kabur mencari dirimu." ucap Alice mulai mencari alasan berharap jika Ashraf akan percaya dengan perkataannya.
"Orang gila di Bandara? Apa kamu yakin? Bagaimana bisa mereka membiarkan orang gila masuk ke sini? Aku akan membuat laporan atas ketidaknyamanan ini, apa kamu baik-baik saja?" ucap Ashraf yang nampak khawatir setelah mendengar perkataan Alice barusan.
"Tidak perlu melakukan hal itu, dia bukan orang gila seperti yang kamu bayangkan. Bagaimana aku menjelaskannya ya? Em pokoknya dia hanya mengganggu ku saja dan aku tidak menyukainya makanya aku menyebutnya orang gila." ucap Alice yang terlihat panik ketika mendapati jawaban dari Ashraf barusan.
Ashraf yang mendengar jawaban dari Alice barusan, tentu saja langsung mengernyit dengan seketika. Entah apa yang baru saja dikatakan oleh Alice, namun hal tersebut membuatnya curiga.
"Apa kamu yakin? Jika kamu mau kita bisa mengecek rekaman kamera pengawas dan melaporkannya." ucap Ashraf lagi.
Mendengar hal tersebut bukan malah lega, lantas membuat Alice semakin tambah panik. Entah apa yang akan terjadi jika Ashraf benar-benar mengecek rekaman kamera pengawas di Bandara ini tadi. Mendapati hal tersebut lantas langsung membuat Alice menggeleng dengan keras seakan menolak opsi dari Ashraf barusan.
__ADS_1
"Tidak usah, bukankah kita sudah terlambat? Tadi katamu akan ada pertemuan setelah ini, bukan? Jadi ayo segera pulang dan lupakan segalanya." ucap Alice kemudian sambil menarik tangan Ashraf agar mulai bergerak dari sana.
Ashraf yang tangannya ditarik begitu saja oleh Alice, pada akhirnya hanya bisa mengikuti langkah kakinya tanpa bisa protes atau kembali mengatakan sesuatu.
"Baiklah-baiklah tidak perlu terburu-buru, Caramel bisa bangun nantinya karena ulah mu." ucap Ashraf ketika mendapati tarikan tangan Alice yang berlebihan.
"Maaf!" ucap Alice kemudian sambil dengan spontan melepas pegangan tangannya.
***
Sementara itu di ruangannya, Kafin terlihat tengah fokus mempelajari beberapa berkas penting tentang kerja sama yang akan dilakukan dengan beberapa klien dalam negeri maupun luar negeri.
Di saat Kafin tengah sibuk mempersiapkan dan juga mempelajari segalanya. Sebuah ketukan pintu yang berasal dari luar, lantas langsung membuatnya mengernyit dan menatap ke arah sumber suara.
"Tuan.." ucap Dimas yang terlihat mulai membawa langkah kakinya masuk ke dalam ruangannya.
Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Kafin mendengus dengan kesal. Tadi Kafin pikir seseorang yang mengetuk pintu adalah karyawannya atau bahakan klien penting, namun ternyata dia hanyalah seorang Dimas.
"Ada apa?" tanya Kafin kemudian dengan nada yang terdengar begitu ketus tepat ketika melihat Dimas menghentikan langkah kakinya saat itu.
"Tuan saya sudah menemukan keberadaan nona Alice!" ucap Dimas yang tentu saja langsung mengejutkan Kafin saat itu.
"Apa?"
Bersambung
__ADS_1