
Setelah mendengar perkataan dan juga laporan dari Dimas sebelumnya yang mengatakan jika Alice sudah mulai curiga akan segala hal yang terjadi kepada dirinya. Lantas membuat Kafin langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah di mana Alice berada saat ini, yang mungkin saja tengah bermain atau bahkan menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya.
Dengan langkah kaki yang bergegas Kafin terlihat menyusuri area mansion kediamannya untuk menuju ke arah di mana Alice berada saat ini.
Langkah kaki Kafin kemudian terhenti pada area meja makan, dimana di sana terlihat Alice tengah duduk di kursi sambil termenung menatap lurus ke arah depan dengan begitu banyaknya menu makanan yang sudah tersaji di hadapannya. Melihat hal tersebut lantas membuat Kafin menghela napasnya dengan panjang kemudian membawa langkah kakinya mendekat menuju ke arah dimana Alice berada.
Diusapnya pundak Alice selama beberapa kali ketika jarak di antara keduanya hanya tersisa beberapa centi meter saja, membuat Alice yang tengah terdiam sejak tadi lantas langsung menoleh ke arah samping dengan seketika begitu merasakan ada sebuah pegangan lembut di pundaknya.
"Apa yang terjadi? Apa kamu lelah? Jika kamu lelah kamu tidak perlu memasak lagi.. Aku akan mencarikan koki agar kamu bisa sedikit lebih bersantai, bagaimana?" ucap Kafin dengan nada yang lirih, membuat Alice hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Alice benar-benar tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar saat ini. Sikap Kafin bahkan begitu lembut dan juga baik kepadanya, membuat Alice terkadang merasa terhanyut ketika ia mendapati dirinya berada di dalam rumah tangga idaman bagi semua wanita.
Hanya saja perasaan aneh dan juga asing yang menyelimuti dirinya sungguh membuat Alice bingung akan hal tersebut.
Alice bahkan merutuki kebodohannya karena tidak bisa mengingat apapun saat ini kecuali ingatan tentang promosi jabatan yang sama sekali tidak berguna di saat-saat situasi seperti ini.
Helaan napas terdengar berhembus dengan jelas dari mulut Alice saat itu, membuat Kafin lantas langsung mengernyit ketika mendengarnya. Hanya saja Alice kemudian terlihat tersenyum dengan simpul dan menatap ke arah manik mata biru milik Kafin.
"Aku baik-baik saja kamu tak perlu khawatir, oh ya ayo kita sarapan aku akan panggil anak-anak untuk turun dan makan bersama." ucap Alice dengan tersenyum.
Alice bahkan sudah benar-benar lelah akan perasaan yang terus mempermainkan dirinya, entah siapa ia dan dari mana tempatnya berasal Alice sudah tidak lagi memperdulikannya.
"Apa kamu yakin? Jangan memaksakan dirimu seperti ini Al..." ucap Kafin sambil mengusap rambut Alice dengan lembut.
"Iya aku baik-baik saja, aku akan pergi ke kamar anak-anak dulu.." ucap Alice kemudian sambil mulai bangkit menuju ke kamar Belinda dan juga Altair.
"Tentu" ucap Kafin sambil membalasnya dengan senyuman.
__ADS_1
Ditatapnya punggung Alice yang terlihat mulai menjauh dari dirinya saat itu dengan tatapan yang sendu.
"Apa aku sudah keterlaluan karena memaksakan segala sesuatunya? Hanya saja aku tidak berdaya, anak-anak ku butuh sosok seorang Ibu." ucap Kafin dalam hati sambil menatap kepergian Alice saat itu.
**
Area meja makan
Suasana hening terjadi di area meja makan saat itu, tidak ada satupun dari mereka yang memulai pembicaraan selain hanya suara dentingan garpu dan juga sendok yang terdengar. Sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari Kafin lantas membuat suasananya menjadi berbeda dengan seketika.
"Em berhubung hari ini adalah weekend, bagaimana jika kita pergi untuk berpiknik? Bukankah kita sudah lama tidak pergi bersama?" ucap Kafin kemudian dengan nada yang ragu saat itu.
Mendengar kata piknik keluar dari mulut Kafin tentu saja membuat Belinda dan juga Altair bahagia bukan main. Ini adalah pertama kalinya Kafin mengajak mereka semua pergi bersama setelah malam kelam yang membuat semua atmosfirnya berubah saat itu.
"Apakah itu sungguh Yah? Wah.. Aku suka.. Aku suka..." ucap Belinda dengan nada yang girang.
Mendapat respon tersebut tentu saja Kafin langsung tersenyum kemudian menatap ke arah Altair dan juga Alice secara bergantian.
"Aku setuju..." ucap Alice sedangkan Altair hanya mengangguk dan mengiyakan perkataan Kafin barusan.
"Baiklah kalau begitu mari kita selesaikan sarapannya terlebih dahulu." ucap Kafin kemudian.
"Siap Yah..." ucap Belinda dengan penuh semangat.
***
Di sebuah taman yang masih terletak di Ibukota terlihat mobil yang dikendarai oleh Kafin berhenti tepat di area parkiran. Satu persatu dari mereka kemudian langsung turun dari dalam mobil dengan raut wajah yang gembira. Kafin terlihat membuka bagasi mobilnya dan mengeluarkan keranjang piknik dan juga karpet kecil untuk mereka duduk nantinya.
__ADS_1
"Sini biar aku bantu." ucap Alice yang lantas membuat Kafin langsung menoleh ke arahnya.
"Tak perlu biar aku yang membawanya, kamu cukup perhatikan saja anak-anak." ucap Kafin kemudian yang lantas membuat Alice mengangguk ketika mendengarnya.
Setelah semua barang-barang sudah berada di tangan Kafin, keempatnya kemudian mulai melangkahkan kakinya masuk ke area taman. Belinda dan juga Altair nampak melangkahkan kakinya lebih dahulu di depan dengan sesekali bersenda gurau selayaknya anak kecil seumuran mereka. Sedangkan Kafin dan juga Alice hanya menatap keduanya dengan senyuman yang simpul.
"Jangan lari-lari Abang.. Adek... Nanti kalian bisa jatuh..." ucap Kafin memperingatkan keduanya untuk tidak berlarian.
Kecanggungan mendadak terjadi diantara keduanya di tengah ramainya pengunjung taman yang juga sedang berpiknik di tempat tersebut. Sesekali Kafin nampak melirik ke arah Alice yang saat ini tengah sibuk mengawasi Belinda dan juga Altair yang berlarian di depan keduanya.
"Mengapa kamu hanya diam? Tidakkah kamu ingin mengatakan sesuatu?" tanya Kafin kemudian yang langsung membuat Alice menoleh dengan seketika ke arah sumber suara.
"Tentang apa?" tanya Alice dengan raut wajah yang penasaran.
"Sudahlah lupakan saja!" ucap Kafin kemudian dengan nada yang terdengar aneh kemudian melangkah lebih cepat meninggalkan Alice saat itu.
***
Tepi Danau
Setelah memilih lokasi tepat di tepi Danau buatan terlihat Belinda, Altair dan juga Kafin tengah bermain lempar tangkap di sana. Sedangkan Alice hanya duduk di karpet menyiapkan makanan sambil menatap ketiganya yang sedang bermain sambil sesekali tertawa.
"Mereka benar-benar sangat menggemaskan!" ucap Alice sambil tersenyum simpul.
Disaat Alice tengah sibuk menyiapkan segalanya, sebuah suara yang asing mendadak terdengar di telinganya dan memanggilnya dengan nama lain yang sama sekali tidak di ketahui oleh Alice siapa pemilik nama tersebut.
"Bianca! Kamu Bianca kan?" ucap sebuah suara yang tentu saja langsung membuat Alice mengernyit dengan seketika.
__ADS_1
"Siapa Bianca?"
Bersambung