
"Apa yang Papa lakukan di sini?" ucap Alex begitu melihat seseorang tersebut.
Alex yang baru saja pulang dari bekerja, mendapati mertuanya mendadak sudah berada di kediamannya saat itu tentu saja langsung terkejut bukan main. Entah apa yang dilakukan Darmawangsa di kediamannya, tapi yang jelas hal tersebut tentu saja bukanlah hanya sekedar untuk berkunjung semata.
Alex yang melihat dengan jelas jika saat ini Darma tengah menunggu di sofa ruang tengah, lantas mulai membawa langkah kakinya secara perlahan mendekat ke arah di mana Darma berada saat itu. Dengan harap-harap cemas Alex mulai mendekat ke arah Darma dan mengambil duduk tepat di depan Darma.
"Papa sudah mendengar tentang masalah yang kamu hadapi di perusahaan saat ini..." ucap Darma dengan ekspresi raut wajah yang datar.
"Apakah Papa mendengarnya dari Cicil?" ucap Alex kemudian bertanya.
"Cih, kau tahu jika putriku itu sangat mencintaimu? Mana mungkin dia mengatakan hal ini kepadaku." ucap Darma dengan tersenyum tipis.
"Lalu?" ucap Alex dengan raut wajah yang bingung.
"Berhenti sekarang juga Lex! Jual perusahaanmu dan hentikan semua usahamu itu. Kau tahu bukan jika semua hal yang kau lakukan akan terasa begitu sia-sia? Perusahaan SJ Company hanyalah sebuah cangkang dan juga wadah yang dikelola Kafin secara langsung, jika si pengelola sudah menghentikan aktivitasnya... Bukankah cangkang tersebut akan hancur begitu saja?" ucap Darma dengan nada yang terdengar begitu ketus.
"Apa maksud Papa sebenarnya? Perusahaan itu adalah Perusahaan keluarga ku, bagaimana bisa Papa menyuruh ku untuk menyerah begitu saja? Itu tidak akan pernah terjadi!" ucap Alex yang terlihat langsung bangkit dari posisi duduknya begitu mendengar perkataan Darma barusan.
"Aku tahu, lagi pula aku tidak menyuruhmu untuk membiarkan perusahaanmu bangkrut. Aku hanya mengatakan untuk mengalih fungsikan perusahaanmu dan berhenti untuk membuat hal-hal yang akan berakhir dengan sia-sia saja." ucap Darma lagi sambil ikut bangkit dari kursinya saat itu.
__ADS_1
Mendengar perkataan Darmawangsa yang semakin tidak masuk akal di kepalanya, lantas membuat Alex hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang mengernyit sekaligus bingung. Entah ke mana arah pembicaraan Darmawangsa saat ini, yang jelas Alex sama sekali tidak mengerti akan hal tersebut.
Sedangkan Darma yang jelas mengetahui jika Alex tidak mengerti akan topik pembahasannya, lantas terlihat menghela napasnya dengan panjang.
"Maju lah ke pilkada tahun depan aku akan membukakan jalan untuk mu. Masalah perusahaan keluarga mu itu tidak perlu khawatir, aku akan mengalih fungsikan untuk gedung layanan sosial. Aku harap kamu menyetujui hal ini karena peluang untuk maju ke depan lebih bagus ketimbang mengurusi perusahaan mu yang hampir bangkrut itu." ucap Darma dengan nada yang datar.
"Tapi Pa..." ucap Alex hendak menolak opsi tersebut namun malah di potong oleh Darma, yang seakan tahu jika Alex akan menolak saran darinya.
"Tidak perlu gegabah dalam mengambil keputusan, masih ada waktu jadi aku harap kamu memikirkannya dengan teliti." ucap Darma sambil menepuk pundak Alex saat itu, sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan kediaman Alex.
Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Alex langsung terdiam seketika. Ditatapnya punggung mertuanya itu yang terlihat semakin menjauh darinya.
"Apakah aku harus mencobanya? Aku rasa ide ini tidaklah buruk..." ucap Alex sambil terus menatap punggung Darma yang saat ini sudah tidak lagi terlihat pada pandangannya.
Enam tahun kemudian
Di kediamannya, saat itu terlihat Kafin tengah melangkahkan kakinya dengan perlahan menuruni satu persatu anak tangga menuju ke arah area meja makan. Suasananya saat itu benar-benar terlihat begitu hening tanpa pembicaraan apapun. Setelah kepergian Alice yang tidak kunjung kembali, atmosfir rumah benar-benar terasa sangat berbeda. Belinda yang marah karena Kafin tidak menepati janjinya untuk membawa Alice pulang, lantas enggan untuk berbicara dengan Kafin.
Semuanya benar-benar telah berubah, tidak ada lagi canda tawa yang menyelimuti kebahagiaan keluarga tersebut. Selama enam tahun belakangan ini Kafin yang begitu merasa kehilangan Alice, lantas melampiaskannya kepada pekerjaan. Sehingga hari-harinya hanya di isi kerja dan kerja, tidak ada lagi waktu bersama di hari weekend. Membuat hubungan diantara ketiganya semakin terasa berjarak dan juga renggang.
__ADS_1
Jika kalian tanya bagaimana dengan Altair? Tidak ada yang berubah darinya, hanya mungkin ia menjadi lebih tertutup lagi. Pribadi Altair yang tidak terlalu banyak bicara membuatnya semakin memiliki dinding yang kokoh dengan Belinda maupun Kafin. Ya meski keduanya saudara kembar, namun baik Belinda dan juga Altair sama-sama menjaga privasi mereka.
Suara dentingan sendok dan garpu terdengar menggema di ruangan tersebut. Sampai kemudian Altair yang baru mengingat akan pertemuan wali murid minggu depan di Sekolahnya, lantas terlihat meletakkan sendok dan juga garpunya.
"Minggu depan akan ada pertemuan wali murid, apakah..." ucap Altair namun langsung dipotong oleh Kafin, yang seakan tahu arah pembicaraan Altair saat ini.
"Jadwal Ayah selama seminggu ke depan benar-benar padat, biar Dimas yang akan datang dan menghadiri pertemuan wali murid tersebut." ucap Kafin dengan raut wajah yang datar.
Mendengar perkataan dari Kafin barusan, baik Belinda maupun juga Altair nampak saling pandang antara satu sama lain. Belinda yang mulai jenuh akan sikap Kafin yang terus-terusan seperti ini, lantas terlihat meletakkan sendok miliknya di atas piring dengan kasar.
"Sebenarnya Ayah kita siapa? Om Dimas atau Ayah sih?" ucap Belinda pada akhirnya mengungkapkan isi hatinya.
Lagi pula hal ini bukan pertama kalinya, setiap rapat pertemuan wali murid atau bahkan pengambilan rapor selalu saja Dimas yang melakukannya lagi dan lagi. Hal tersebut membuat berita tentangnya yang sama sekali tidak mendapat kasih sayang orang tua, semakin terdengar memekakkan telinga Belinda ketika berada di lingkungan Sekolah.
"Jaga nada bicara mu Abel, Ayah tidak pernah mengajarkan mu untuk bersikap tidak sopan seperti ini!" ucap Kafin yang ikut meletakkan sendok makanannya di atas piring.
"Apanya yang harus aku jaga Yah? Bahkan hingga detik ini pun Ayah tidak pernah menepati janji untuk membawa Bunda kembali ke Rumah ini, apakah Ayah melupakannya? Aku bahkan masih mengingatnya dengan jelas, dimana Ayah dan juga Bunda yang sedang bertengkar saat itu. Aku sudah remaja Yah, Ayah tidak lagi bisa berkelit dariku. Andai saja Ayah dan Bunda tidak bertengkar mungkin Bunda tidak akan..." ucap Belinda namun terhenti ketika mendengar suara gebrakan meja yang berasal dari Kafin saat itu.
Brak...
__ADS_1
"Diam! Kamu sama sekali tidak tahu apa-apa!" pekik Kafin sambil menggebrak meja saat itu, membuat suasananya semakin terasa begitu dingin di area meja makan.
Bersambung