
Di dalam mobil
Setelah Alice siuman dan sudah lebih bisa mengontrol dirinya, Alice kemudian lantas di perbolehkan pulang malam harinya. Di area dalam mobil suasananya begitu hening, baik Alice dan juga Kafin sama-sama terhanyut dalam pemikiran mereka masing-masing. Sambil menyetir mobilnya Kafin terlihat sesekali melirik ke arah dimana Alice berada kemudian menghela napasnya dengan kasar.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Kafin pada akhirnya.
Mendengar pertanyaan tersebut membuat Alice lantas langsung menoleh ke arah sumber suara kemudian tersenyum tipis. Entah apa yang sedang memenuhi pikirannya. Namun setelah pertemuannya dengan seseorang tadi di area Rumah sakit membuatnya menjadi gelisah. Alice benar-benar yakin jika ia mengenal orang tersebut namun karena sesuatu mendadak terjadi kepadanya, pada akhirnya membuat segalanya menjadi runyam.
Alice bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi dengannya tadi. Namun setelah melihat pasien yang turun dari Ambulans tadi benar-benar membuatnya terkejut. Sebuah bayangan yang berputar di kepalanya juga membuat Alice tak terlalu yakin apakah dalam ingatannya itu adalah dirinya atau bukan karena Alice yang sama sekali tidak merasa jika ia telah mengalami sebuah kecelakaan. Ingatannya kala itu hanya sampai pada ia yang sedang ber teleponan dengan Ibunya, kemudian setelah itu semuanya menggelap dan berakhir dengan dirinya yang terbangun di kediaman Kafin.
"Apa kata Dokter? Apa dia mengatakan untuk membawa ku ke psikolog?" tanya Alice kemudian sekaligus menyindir Kafin saat itu.
Kafin yang mendapat pertanyaan tersebut lantas langsung melirik sekilas ke arah Alice kemudian mencoba untuk menggenggam tangan wanita itu, hanya saja sayangnya langsung di tepis oleh Alice membuat Kafin hanya bisa tersenyum dengan kecut.
"Aku minta maaf jika kamu tersinggung, aku janji tidak akan lagi memaksa mu." ucap Kafin kemudian namun yang dilakukan oleh Alice malah membuang mukanya.
***
Kediaman Kafin
Mobil yang dikendarai oleh Kafin terlihat parkir di depan halaman rumahnya, Kafin yang hendak mengatakan sesuatu kepada Alice lantas langsung menoleh ke arah Alice. Namun sayangnya Alice malah langsung melepas sabuk pengamannya dan turun begitu saja tanpa ingin berbicara lebih lanjut lagi bersama dengan Kafin, membuat Kafin hanya bisa menghela napasnya dengan panjang ketika melihat kepergian Alice dari dalam mobilnya.
Sebuah deringan ponsel miliknya lantas mulai terdengar menggema di telinga Kafin, membuat Kafin lantas langsung mengambil ponsel miliknya dan menggeser ikon berwarna hijau di sana ketika melihat nama Dimas tertulis dengan jelas di sana.
__ADS_1
"Halo" ucap Kafin tepat setelah ia meletakkan ponselnya ke telinganya.
"Saya sudah membereskannya Tuan, sekarang sudah bisa di pastikan jika segalanya aman dan tidak akan ada yang menyadarinya." ucap Dimas di seberang sana membuat seulas senyuman tipis terlihat dengan jelas dari wajah Kafin saat itu.
"Bagus, pastikan tidak ada satupun yang tertinggal karena aku tidak menyukai hal tersebut." ucap Kafin kemudian memperingati.
"Tentu saja Tuan sesuai keinginan anda." ucap Dimas lagi sebelum pada akhirnya Kafin menutup sambungan telponnya secara sepihak.
Setelah sambungan teleponnya terputus Kafin terlihat menatap lurus ke arah depan dengan tersenyum simpul, seakan-akan suasana hatinya tengah begitu senang saat ini tepat setelah menerima panggilan telpon dari Dimas barusan.
"Akan aku pastikan semua berjalan dengan lancar, siapapun yang menghalanginya akan aku singkirkan." ucap Kafin dengan tatapan yang tajam.
***
Alice yang masih kepikiran dengan apa yang baru saja terjadi, lantas terlihat melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang perlahan memasuki semakin dalam kediaman Kafin. Dari arah sofa ruang tamu mendadak terlihat Belinda dan juga Altair nampak berlarian mendekat ke arahnya dengan manik mata yang berkaca-kaca. Hingga kemudian suara tangis Belinda yang memekakkan telinganya, lantas langsung membuyarkan segala pemikiran Alice saat itu karena terkejut ketika mendengar suara tangisan dari Belinda yang tiba-tiba.
"Hua.... Akhirnya Bunda pulang... Belinda kangen sama Bunda.... hiks hiks hiks..." ucap Belinda dengan tangis yang sesenggukan.
Sedangkan Altair yang melihat kepulangan Alice hanya melangkahkan kakinya dengan terdiam mendekat ke arah Alice. Altair memang juga merindukannya tapi Altair takkan menangis seperti Belinda ketika melihat kedatangan Alice barusan.
Melihat tangisan Belinda membuat Alice lantas mengambil posisi setengah jongkok mencoba untuk menyamai tinggi badan gadis kecil tersebut kemudian mengusap air matanya. Meski Alice lupa atau bahkan tidak yakin jika ia sudah mempunyai dua anak, namun Alice tidak akan setega itu menelantarkan kedua anak tersebut dan bersikap acuh kepada mereka yang begitu haus akan sebuah kasih sayang.
"Apa aku dulu begitu kejam pada mereka? Mengapa mereka seperti takut sekali kehilangan aku? Mereka bahkan selalu begini jika tidak melihat ku barang satu menit saja, padahal aku masih berada di area mansion ini. Apakah aku dulu pernah meninggalkan keduanya?" ucap Alice bertanya-tanya sambil mengusap air mata dan juga ingus Belinda.
__ADS_1
"Jangan pergi terlalu lama Bunda..." ucap Belinda kemudian ketika ia sudah mulai lebih tenang.
"Maafkan Bunda ya.." ucap Alice dengan tersenyum simpul.
Alice yang melihat tangis Belinda sudah mulai mereda lantas terlihat menggendong Belinda dengan susah payah. Disaat Alice hendak melangkahkan kakinya pergi dari sana pandangan mata Alice kemudian terhenti pada sosok Altair yang hanya bisa menatap ke arahnya seakan terlihat ragu untuk mendekat.
"Apa yang kamu lakukan? Kemarilah... Tidakkah kamu juga merindukan Bunda?" ucap Alice kemudian yang lantas membuat Altair langsung berlarian menuju ke arahnya.
"Bunda.... Bunda jangan pergi lagi ya? Altair benar-benar merindukan Bunda." ucap Altair sambil memeluk kaki bagian bawah milik Alice dengan erat, membuat Alice lantas tersenyum begitu melihat kelakuan putranya tersebut.
Diusapnya puncak kepala Altair dengan lembut seakan berusaha untuk memberi ketenangan kepada dua anak kecil tersebut, membuat Altair langsung mendongak begitu mendapat perhatian dari Alice barusan.
"Bunda minta maaf ya? Apakah kalian berdua sudah makan?" ucap Alice kemudian sambil menatap ke arah Belinda dan juga Altair secara bergantian yang langsung di balas keduanya dengan gelengan kepala.
"Kami tidak mau makan sebelum Bunda pulang agar kita bisa makan sama-sama." ucap Altair kemudian dengan nada yang lirih.
"Dasar anak nakal! Lain kali jangan lakukan hal itu, apa kalian berdua mengerti?" ucap Alice sambil mencubit hidup mancung melik Belinda dan menjewer telinga Altair, membuat keduanya langsung cemberut ketika mendapati hal tersebut.
"Maaf Bunda..." jawab Belinda dan juga Altair hampir secara bersamaan membuat Alice begitu gemas ketika melihat tingkah mereka berdua.
"Baiklah, karena kalian sudah menyesal kalau begitu mari kita makan bersama sekarang! Bunda juga lapar soalnya hehehe." ucap Alice dengan tersenyum polos membuat keduanya lantas langsung mengangguk, sebelum pada akhirnya mulai melangkah dan berlalu pergi dari area ruang tamu.
"Aku tidak akan membiarkan kebahagian kedua anak-anak ku terenggut, apapun yang terjadi mereka berdua harus selalu seperti ini." ucap Kafin yang tak sengaja melihat interaksi ketiganya tepat setelah ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kediamannya.
__ADS_1
Bersambung