Move

Move
Tidak ada yang boleh pergi


__ADS_3

"Mama itu tidak tahu apa-apa! Dia dan Bianca adalah satu orang.. Mereka sama dan juga satu, aku..." ucap Kafin dengan nada yang berteriak, namun terhenti ketika sebuah tamparan keras terdengar menggema di ruangan tersebut.


Plak


Sebuah tamparan keras terdengar menggema di area ruang tengah, membuat suasananya kian menjadi hening saat itu. Alice yang tidak menyangka jika Kiran akan melakukan hal tersebut kepada Kafin, seketika telinganya langsung berdenging di sertai pandangannya yang buram. Alice mundur sejenak dari tempatnya dan menyandarkan tubuhnya ke salah satu almari kecil, seakan berusaha untuk mencari tumpuan di sana.


"Apa yang terjadi kepada ku? Padahal tadi aku merasa baik-baik saja." ucap Alice dalam hati sambil berusaha untuk mengumpulkan fokusnya.


Disaat Alice tengah bingung akan kondisinya saat ini, lain halnya dengan Kafin dan juga Kiran yang nampak terlihat saling tatap dengan tatapan yang tajam. Kiran benar-benar mulai lelah akan sikap menantunya yang selalu saja egois dan tidak memikirkan sekitaran, membuatnya tidak tahu lagi harus mengatakan apa untuk membuat Kafin sadar akan tingkah lakunya.


"Berhenti bersikap egois Kaf! Apa kamu tidak kasihan dengan kedua anakmu? Jika kamu tidak bisa mengurusnya biar Mama yang melakukannya, bukankah hal itu sudah Mama katakan sejak dari dulu? Tapi kamu selalu saja menolak dan mengatakan jika akan mengurus mereka seorang diri." ucap Kiran kemudian yang lantas membuat Kafin semakin mengepalkan tangannya dengan erat.


"Aku jauh lebih tahu apa yang membuat mereka bahagia, apakah Mama tidak bisa melihat raut wajah bahagia mereka ketika mendapati jika Bianca kembali ke rumah? Tidak bisakah Mama melihatnya!" pekik Kafin, sepertinya emosinya saat ini sedang naik turun.


"Tapi dia bukanlah Bianca! Apakah kamu tidak bisa membedakannya?" pekik Kiran dengan nada yang kesal.


Disenggol mengenai sikapnya yang memutuskan untuk menarik seseorang berwajah mirip dengan Alice, tentu saja membuat Kafin menjadi naik pitam. Tidak ada yang bisa merubah keputusannya baik dulu, maupun sekarang karena baginya kebahagiaan anak-anaknya sangatlah penting untuknya. Meski ia harus mengambil kebahagian milik orang lain sekalipun.


"Dia Bianca atau bukan namun bagi ku mereka tetaplah sama!" ucap Kafin dengan nada yang tidak ingin di bantah sama sekali.

__ADS_1


"Jangan bersikap egois Kaf! Alice punya keluarga dan ia juga ingin berkumpul kembali bersama dengan mereka. Apa yang kamu lakukan sungguh tidak adil untuk dirinya, disaat kamu memutuskan untuk melengkapi keluarga mu. Namun yang kamu lakukan malah merampas keutuhan keluarga lainnya. Apa hal ini yang kau anggap benar? Alice punya seorang Ibu, dan bisa kamu bayangkan seperti apa perasaan Ibunya ketika kamu merampas anaknya begitu saja tanpa izin?" ucap Kiran mencoba untuk kembali membujuk Kafin agar melepaskan segalanya.


Mendapati kenyataan bahwa semua perkataan Kiran adalah benar, membuat Kafin lantas langsung membuang muka. Di sapunya beberapa vas dan juga hiasan kecil yang terletak di atas meja dengan spontan, sepertinya Kafin benar-benar tengah marah dengan takdir buruk yang terus menimpanya satu persatu. Sampai kemudian pandangannya terhenti pada Altair dan juga Belinda yang ternyata masih berada di sana dan melihat segala yang terjadi sedari tadi.


"Sial!" ucap Kafin ketika ia baru menyadari akan hal tersebut.


Kafin yang mendapati tatapan aneh dari wajah kedua anaknya tersebut, lantas memutuskan untuk melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana keduanya berada. Diambilnya posisi berjongkok untuk menyamai tinggi badan mereka, kemudian mengusap rambut Altair dan juga Belinda dengan lembut.


"Maafkan Ayah nak.. Semua ini sama sekali tidak seperti yang kalian berdua lihat, Ayah hanya..." ucap Kafin namun terhenti ketika mendengar suara yang berasal dari Altair saat itu.


"Biarkan Bunda pergi Ayah.. Em maaf maksud Alta, biarkan Tante itu pergi..." ucap Altair kemudian yang seakan mengerti akan situasinya saat ini.


"Apa yang Abang katakan? Dia adalah Bunda kita.. Bunda Abang dan juga Abel!" pekik Belinda yang seakan tidak terima akan perkataan yang keluar dari mulut Altair barusan.


"Lihatlah Kaf.. Apakah ini yang kamu inginkan? Sebuah kebohongan tetap akan terbuka pada akhirnya, apakah kau pikir mereka tidak mengerti segalanya?" ucap Kiran yang seakan tahu isi hati Kafin saat ini.


Namun Belinda yang seakan tidak terima dengan keputusan yang saat ini tengah di perdebatkan semua orang, lantas terlihat mendorong tubuh Kiran karena kesal akan perkataannya.


"Nenek jahat! Mengapa Nenek malah menyuruh Bunda pergi! Nenek jahat... Nenek jahat!" ucap Belinda sambil memukul-mukul paha Kiran dengan kencang.

__ADS_1


Tak lama setelah itu yang terjadi selanjutnya tentu saja tangisan Belinda yang pecah dan tidak ingin Alice pergi meninggalkannya. Kiran yang mendapati jika saat ini Belinda tengah menangis, lantas mulai menggendong tubuh gembul tersebut dan hendak membawanya pergi ke kamar.


"Sekarang semua ada di tangan mu, Mama hanya bisa menuntun tapi tidak bisa mempengaruhi keputusan mu." ucap Kiran sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan area tengah sambil menggendong Belinda.


**


Alice yang memang dalam keadaan pusing dan juga berkunang-kunang, sama sekali tidak memperhatikan keributan yang terjadi di hadapannya saat itu. Sampai kemudian sebuah tangan mungil nampak menggenggam tangannya, yang lantas membuat Alice menatap ke arah Altair saat itu.


"Jika Bunda ingin pergi.. Pergilah.. Altair dan juga Belinda akan baik-baik saja tanpa Bunda. Jangan lupakan kami ya Bun..." ucap Altair dengan manik mata yang berkaca-kaca, membuat sebuah perasaan lantas mendadak mengikat dirinya dengan kuat saat itu.


Alice mengambil posisi berjongkok kemudian memeluk tubuh Altair dengan eratnya, sambil mengusap pundak Pria kecil tersebut beberapa kali seakan mencoba untuk menenangkannya.


"Maafkan aku.. Aku benar-benar minta maaf.. Aku..." ucap Alice namun tercekat tak bisa ia teruskan.


"Tidak apa Bun, Alta mengerti.. Untuk Belinda biar Alta yang mengatakan kepadanya, Bunda tidak perlu khawatirkan kami." ucap Altair mencoba untuk tetap tersenyum walau rasanya ia juga ingin menangis saat ini.


Sedangkan Kafin yang melihat semua hal tepat dihadapannya saat ini tentu saja semakin kesal dan tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Restu Altair benar-benar telah merusak rencananya yang telah ia susun sedemikian rapi. Namun sayangnya semuanya hancur tepat setelah kedatangan Ashraf yang mengacaukan segalanya.


Kafin yang tidak senang akan hal tersebut lantas mulai mengambil langkah kaki yang lebar. Ditariknya tubuh Altair saat itu dengan kasar, membuat pelukan keduanya lantas langsung terputus dengan seketika.

__ADS_1


"Apa yang kamu bicarakan? Tidak ada yang boleh pergi dari sini!" pekik Kafin.


Bersambung


__ADS_2