
Ruangan kerja Kafin
Setelah kepergian Ashraf dan juga Dimas dari ruangannya, Kafin terlihat memasang raut wajah yang serius. Pikirannya benar-benar tidak bisa tenang memikirkan segala hal tentang Alice saat ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Kafin dalam hati sambil menatap kosong ke arah depan.
Disaat Kafin tengah sibuk memikirkan segala hal tentang Alice, sebuah suara notifikasi yang berasal dari ponsel miliknya lantas membuyarkan segala lamunan Kafin saat itu.
Ckling...
Kafin yang penasaran akan isi dari pesan yang berasal di ponsel miliknya, lantas mulai menatap ke arah layar ponselnya. Berbarengan dengan hal tersebut, sebuah suara yang berasal dari pintu masuk ruangannya terdengar terbuka dengan bunyi yang cukup keras. Namun nyatanya sama sekali tidak mengganggu fokus Kafin saat itu.
"Tuan saya tidak bisa menemukan titik terang, pihak mall sama sekali tidak ingin bekerja sama dan mengatakan tidak akan memberikan informasi apapun terkait hal ini. Apakah..." ucap sebuah suara dengan nada yang tergesa-gesa dari area pintu masuk.
Perkataan Dimas terhenti di awang-awang ketika ia melihat kode tangan dari Kafin yang mengatakan kepadanya untuk berhenti. Membuat Dimas yang mendapati hal tersebut lantas langsung menutup mulutnya dengan seketika, begitu melihat kode dari Kafin barusan.
"Aku sudah menemukannya, lagi pula aku menyuruh mu untuk mencari Alice.. Bukan meminta perizinan kepada pihak mall. Apa kau pikir kau sedang membeli sebuah ruko di sana yang harus memerlukan sebuah ijin? Benar-benar menyebalkan!" ucap Kafin dengan nada yang kesal, membuat mulut Dimas langsung terdiam dengan seketika.
Kafin terlihat bangkit dari tempat duduknya, kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan Dimas di ruangan tersebut dengan berjuta pertanyaan di benaknya saat itu.
"Apa kali ini aku kalah cepat? Lagi pula bagaimana Tuan bisa mendapat informasi lebih cepat dariku?" ucap Dimas sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat itu.
***
Lift
Ting
Suara pintu lift yang tertutup membuat Kafin yang sedang sibuk menelpon seseorang di seberang sana, lantas membuat situasi semakin tidak enak saat itu.
__ADS_1
"Halo..." ucap sebuah suara lembut yang terdengar seperti di buat-buat itu.
"Apa sebenarnya masalah mu? Bukankah suami mu sudah masuk ke jalur politik? Lalu apalagi yang kau inginkan sekarang ha?" pekik Kafin dengan nada yang terdengar begitu kesal.
"Sabarlah Kaf, mengapa kamu sangat marah? Aku bahkan tidak tahu alasan mengapa suami ku membawa Bianca ah tidak maksud ku Alice ke suatu tempat." ucap sebuah suara yang ternyata berasal dari Cicil di seberang sana.
"Berhenti bermain-main dengan ku Cil karena aku sama sekali tidak berminat, untuk berurusan dengan kalian berdua!" ucap Kafin dengan nada yang terdengar begitu dingin.
"Temui aku di Cafe Aksara, aku akan menunggu mu di sana itu pun jika kau ingin mengetahui tentang Alice!" ucap Cicil sebelum pada akhirnya menutup panggilan telponnya begitu saja.
Tut tut tut...
"Sialan!" pekik Kafin dengan nada yang meninggi.
***
Dari arah pintu masuk terlihat Kafin tengah melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang lebar. Saat ini ia sudah benar-benar tidak punya waktu untuk bermain-main dengan hal-hal seperti ini.
Membuat Cicil yang mengetahui kedatangan Kafin barusan, lantas tersenyum dengan simpul sambil melambaikan tangannya dengan santai ke arah Kafin yang saat ini tengah berada tidak jauh dari posisinya berada.
"Sekarang katakan atau aku akan pergi dari sini!" ucap Kafin dengan nada yang penuh ancaman.
Namun Cicil yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum dengan simpul seakan tidak terjadi apa-apa. Cicil terlihat menggeser sebuah map ke arah Kafin saat itu, yang tentu saja lantas membuat Kafin mengernyit ketika melihat tindakan Cicil saat ini.
Kafin yang seakan tahu maksud dari undangan Cicil saat itu, lantas mengambil map tersebut dengan malas dan mulai mempelajari isinya.
"Proyek taman terbuka hijau? Apa kau ingin memintanya sebagai imbalan? Jangan bercanda! Proyek sebesar ini butuh sebuah tunjangan dan juga aspirasi yang besar. Untuk perusahaan yang di alih fungsikan sebagai lembaga sosial, apa kau yakin mampu mengatasinya? Lagi pula SJ Company hanya sebuah perusahaan cangkang untuk menarik minat masyarakat, jadi jangan terlalu berlebihan!" ucap Kafin dengan raut wajah yang mengejek.
"Aku memang tidak terlalu tahu tentang sebuah proyek dan perusahaan, tapi yang aku tahu Alex membutuhkan ini untuk naik dan memperoleh simpati masyarakat. Jadi aku harap mohon kerjasamanya, jika kamu tidak menginginkan sesuatu terjadi kepada Alice!" ucap Cicil kembali sambil menggeser ponsel miliknya untuk menunjukkan Kafin sesuatu.
__ADS_1
Manik mata Kafin membulat dengan seketika begitu ia melihat dengan jelas Alice di bawa dalam keadaan pingsan oleh kaki tangan Alex ketika di area basement.
Ditatapnya Cicil dengan tatapan yang tajam, namun Cicil yang seakan mengetahui hal tersebut hanya mengangkat bahunya dengan santai.
"Kalian berdua benar-benar menyebalkan!" pekik Kafin dengan raut wajah yang memerah menahan amarah.
***
Area depan daerah puncak
Ashraf yang baru saja mendapat informasi jika Alice di bawa ke tempat ini, lantas terlihat menghentikan langkah kakinya tak jauh dari area plataran Villa saat itu. Ditatapnya area Villa yang di duga sebagai tempat Alice di sembunyikan oleh Alex dengan tatapan yang menelisik.
"Sepertinya aku harus mengambil jalan memutar, dia terlalu prepare untuk masalah ini. Jika aku lewat area depan tentu saja aku akan langsung tertangkap oleh mereka." ucap Ashraf sambil menatap ke arah Villa tersebut.
***
Di area dalam kamar
Alex yang tidak terlalu yakin jika Kafin akan datang dan melakukan penawaran, lantas mulai memutar otaknya saat itu. Sedangkan Alice yang melihat Alex tengah termenung mencoba untuk melepaskan diri dari ikatan yang membelenggu kaki dan tangannya saat itu.
Tangan bagian kanannya sudah berhasil terlepas, di susul dengan bagian tangan sebelah kiri. Kini yang tersisa tinggallah bagian kakinya saja. Sambil mulai berusaha melepas ikatan di area kakinya, Alice sesekali terlihat melirik ke arah Alex yang saat ini tengah memunggunginya.
"Mengapa sulit sekali untuk melepaskan ikatan ini? Sial!" ucap Alice dalam hati sambil terus berusaha untuk melepas ikatan tersebut.
Alice yang kesulitan membuka ikatan di bagian kaki, lantas berusaha sekuat tenaganya untuk membuka ikatan tersebut. Sampai kemudian ia yang tidak menyadari jika Alex sudah berbalik badan dan menatap ke arahnya saat ini. Alex yang melihat Alice tetap berusaha untuk melarikan diri dari sana, lantas membuat Alex hanya tersenyum dengan simpul dan menunggu apa yang akan Alice lakukan saat ini.
"Apa kamu butuh bantuan ku Al?" ucap Alex dengan nada yang terdengar begitu dingin.
Bersambung
__ADS_1