
"Altair?" ucap Alice begitu melihat bocah laki-laki tersebut.
Alice yang yakin jika itu adalah Altair, lantas langsung bergegas melangkahkan kakinya mendekat menuju ke arah di mana bocah laki-laki itu berada.
Alice mengambil posisi berjongkok begitu langkah kakinya berhenti tepat di hadapan bocah laki-laki tersebut. Diusapnya dengan perlahan rambut bocah laki-laki itu, membuat bocah tersebut perlahan-lahan mulai mendongak dan menatap ke arah Alice dengan tetapan yang sendu.
"Bunda..." panggil Altair dengan nada yang lirih.
"Apa yang Abang lakukan di sini? Bunda dan Ayah bahkan mencari Altair kemana-mana, apa yang Abang lakukan di sini?" ucap Alice dengan nada yang lembut namun Altair yang mendengar pertanyaan tersebut hanya menggeleng dengan pelan.
Melihat Altair yang seperti itu lantas langsung membuat Alice menghela nafasnya dengan panjang, ditariknya tangan pria kecil itu mencoba untuk membuatnya bangkit dan membawanya naik ke atas gendongannya.
"Turunkan Alta Bunda... Alta sudah berat, Bunda pasti tidak akan kuat menggendong Alta..." ucap Altair yang merengek minta untuk di turunkan.
Sedangkan Alice yang mendengar perkataan Altair barusan, hanya tersenyum dengan simpul kemudian tetap melangkahkan kakinya secara perlahan meninggalkan tempat itu.
"Benarkah? Bunda bahkan tidak merasakan apapun. Meski kamu sudah besar sekalipun kamu tetaplah putra kecil Bunda. Jangan berbuat itu lagi ya Bunda benar-benar khawatir." ucap Alice tanpa tersadar membuatnya langsung terdiam seketika.
Entah apa yang terjadi kepada Alice hingga mendadak mengatakan hal tersebut, padahal ia masih bertanya-tanya apakah kehidupannya saat ini benar-benar kehidupannya yang sesungguhnya? Alice bahkan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, namun sifat ke Ibuan dan juga simpati melihat kedua bocah tersebut yang seperti kurang mendapatkan kasih sayang seorang Ibu. Lantas membuat gadis itu berubah 360 derajat.
__ADS_1
Alice yang dulu mempunyai ego yang besar dan ingin menang sendiri, mendadak berubah menjadi lemah lembut dan juga penuh kasih sayang begitu melihat keduanya tumbuh bersama. Belinda dan juga Altair memang nakal namun mereka tetaplah anak-anak yang memiliki sisi lembutnya tersendiri.
Mungkin yang akan Alice lakukan saat ini hanyalah menerima keadaannya sekarang dan perlahan-lahan mencari bukti tentang kebenaran dirinya. Alice jelas yakin, cepat atau lambat kebenarannya pasti akan terbuka walau Alice tidak mencari kebenaran itu sekalipun.
Altair yang mendengar kata-kata penenang berasal dari Alice barusan, tentu saja langsung melingkarkan tangan mungilnya ke leher Alice saat itu dan bersandar pada bahu Alice.
"Alta benar-benar minta maaf Bun, Alta salah... Alta tidak akan mengulanginya lagi." ucap Altair kemudian dengan tangisan yang sedikit tersedu.
"Hei apa yang kamu katakan? Tidak ada yang menyalahkan Alta dengan apa yang terjadi saat ini." ucap Alice sambil mengusap rambut belakang Altair dengan lembut.
"Tapi adek tenggelam gara-gara Alta yang tidak bisa menjaganya dengan baik, Alta benar-benar minta maaf Bun..." ucap Altair dengan tangisan yang kembali terdengar.
Mendengar tangisan tersebut lantas langsung membuat Alice menghentikan langkah kakinya dengan seketika. Alice menurunkan tubuh Altair dengan perlahan dan menatap ke arah manik mata bocah kecil itu. Membuat Altair yang ditatap seperti itu tentu saja langsung penasaran dan juga kebingungan akan maksud dari tatapan tersebut.
Altair yang mendengar penjelasan dari Alice barusan, tentu saja hanya mengangguk dengan perlahan. Meskipun saat ini perasaan bersalah tetap berada dalam dirinya, namun untuk membuat Alice tidak khawatir akan keadaannya, lantas membuat Altair mengalah dan mengiyakan segala perkataan Alice begitu mendengarkan perkataan tersebut.
"Anak pintar..." ucap Alice kemudian sambil mengelus rambut Altair dengan perlahan kemudian tersenyum simpul. "Baiklah jika begitu, sekarang kita pergi ke mobil ya? Adek dan juga Ayah tengah menunggu kita saat ini." ucap Alice kembali membuat Altair langsung mengangguk tanda mengiyakan perkataan Alice barusan.
***
__ADS_1
Area parkiran
Kafin yang baru saja mengganti pakaian Belinda yang basah, lantas terlihat keluar dari mobil dan menatap ke arah sekitaran dengan tatapan yang penuh khawatiran. Kafin benar-benar khawatir akan keadaan Altair saat ini sehingga membuatnya begitu cemas menanti Alice yang tak kunjung kelihatan juga.
"Dimana kalian berdua? Mengapa tidak kunjung datang juga?" ucap Kafin kemudian dengan raut wajah yang khawatir.
Di saat perasaan gelisah menyelimuti hati Kafin saat itu, tak berapa lama dari arah yang tak jauh dari posisinya berada saat ini. Kafin melihat Alice menuntun Altair dengan perlahan mendekat ke arah mereka saat ini. Kafin yang melihat hal tersebut tentu saja langsung bernafas dengan lega, melihat keduanya melangkahkan kaki mereka mendekat ke arahnya lantas membuat helaan napas terdengar dengan jelas berhembus dari mulutnya.
"Apa kamu baik-baik saja? Kamu benar-benar membuat Ayah khawatir." ucap Kafin sambil mengusap puncak kepala Altair saat itu.
"Maaf..." ucap Altair dengan nada yang terdengar sendu sambil menundukkan kepalanya tak berani menatap arah Kafin saat ini.
"Sebaiknya kita pulang saja, lain kali kita sambung weekend kita... Aku yakin Alta dan juga Abel pasti masih shock saat ini." ucap Alice kemudian yang lantas membuat Kafin langsung menatap ke arahnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
Mendengar hal tersebut lantas membuat Kafin menganggukkan kepalanya tanda setuju. Apa yang dikatakan oleh Alice barusan merupakan sebuah solusi yang tepat bagi mereka semua. Setelah kejadian tenggelamnya Belinda dan juga hilangnya Altair, pasti benar-benar membuat kedua saudara kembar itu terkejut. Tidak hanya mereka berdua, bahkan Kafin dan Alice juga merasa khawatir dan juga merasa bersalah karena telah lalai tidak bisa menjaga keduanya dengan baik saat itu.
Setelah mendapat keputusan akhir, ketiganya kemudian mulai melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk pulang kembali ke kediaman mereka.
Namun tanpa mereka semua sadari, dari arah yang tak jauh dari posisi mereka berada. Alma yang sedari tadi kebingungan akan sosok Alice yang ia yakin dengan benar bahwa itu adalah Bianca, lantas nampak memperhatikan mereka dari kejauhan. Entah mengapa sosok Bianca yang ia kenal benar-benar berbeda dengan Bianca yang baru saja ia temui, ada sesuatu perbedaan yang mencolok di sana. Namun Alma sama sekali tidak bisa mempertanyakannya lebih lanjut lagi karena memang kondisi yang tidak memungkinkan.
__ADS_1
"Aku benar-benar yakin jika itu adalah Bianca, namun mengapa aku juga merasa bahwa dia adalah orang yang berbeda?" ucap Alma kemudian bertanya-tanya pada diri sendiri sambil menatap ke arah kepergian mobil mereka.
Bersambung