Move

Move
Egois


__ADS_3

"Maafkan saya Tuan, Nona Alice menghilang!" ucap Dimas dengan nada yang terdengar ragu.


"Apa?" pekik Kafin yang terkejut akan perkataan dari Dimas barusan.


"Benar Tuan, setelah kepergian Nona Alice dari kediaman anda saya mencoba untuk mencari keberadaannya. Hanya saja saya tidak menemukan keberadaan nona Alice di manapun. Sepertinya ia telah meninggalkan Ibukota saat itu juga!" ucap Dimas kembali meneruskan penjelasannya.


"Sial, bagaimana mungkin kita bisa kalah cepat darinya? Apa kau benar-benar tidak bisa melacak keberadaannya?" ucap Kafin dengan nada yang terdengar begitu kesal.


"Saya masih mengusahakannya Tuan tapi saya pastikan jika..." ucap Dimas namun terputus karena Kafin yang kesal dan tidak ingin mendengar janji yang dibuat oleh Dimas.


Kafin yang kesal akan berita yang baru saja ia terima lantas terlihat bangkit dari tempat duduknya. Diusapnya raut wajahnya dengan kasar kemudian menarik napasnya dalam-dalam. Kepergian Alice yang tiba-tiba membuat Kafin begitu frustasi karenanya.


"Arg bagaimana bisa Ashraf sudah membawa Alice pergi dari sini begitu cepat? Harusnya tadi aku tidak membiarkannya pergi dari Rumah ini, benar-benar sialan!" pekik Kafin dengan nada yang terdengar begitu frustasi.


Disaat rasa menyesal dan juga khawatir berkumpul menjadi satu, sebuah suara pintu yang di buka dari luar, lantas membuat Kafin langsung menoleh ke arah sumber suara untuk melihat siapa yang membuka pintu ruangannya.


"Belinda? Apa yang kamu lakukan tengah malam begini? Bukankah seharusnya kamu tidur? Bagaimana jika besok kamu terlambat ke sekolah?" ucap Kafin sambil mulai mengambil langkah kaki besar menuju ke arah ambang pintu dan menghampiri Belinda saat itu.


"Bunda dimana Ayah? Apakah Bunda sudah pulang? Mengapa Abel tidak melihatnya dimanapun?" ucap Belinda dengan raut wajah yang mengantuk.


Mendengar jawaban tersebut tentu saja membuat Kafin langsung terdiam di tempatnya dengan seketika. Pertanyaan tersebut bahkan Kafin sendiri pun tidak bisa menjawabnya. Kafin benar-benar tidak ingin hanya memberikan janji-janji palsu kepada Belinda saat ini.


"Bunda saat ini masih menginap di Rumah temannya, mungkin besok Ayah akan menjemput Bunda." ucap Kafin mencoba untuk menenangkan.

__ADS_1


"Apa Ayah yakin? Bukankah tadi Ayah dan Bunda ribut-ribut?" ucap Belinda lagi yang seakan tidak puas akan jawaban dari Kafin barusan.


"Tidak Bel, Abel tidak perlu khawatir ya.. Ayah pastikan jika Ayah akan menjemput Bunda secepatnya." ucap Kafin dengan nada penuh keyakinan yang lantas di balas senyuman oleh Belinda saat itu.


"Apapun yang terjadi aku akan pastikan untuk membawa mu pulang Al, tidak ada yang boleh merebut kebahagiaan putri ku barang sebentar saja." ucap Kafin dalam hati sambil mulai menggendong tubuh Belinda dan membawanya ke kamar.


**


Di ruangannya Alex terlihat menatap lurus ke arah berkas-berkas aset dan juga investasi miliknya. Keadaan perusahaan yang sedang tidak stabil membuatnya mau tidak mau harus menjual sebagian aset miliknya. Alex nampak berdecak dengan kesal ketika ia tak bisa menemukan jalan keluar yang lain lagi selain menjual aset-aset miliknya.


"Benar-benar sialan kau Kaf.... Aku bahkan harus jungkir balik agar perusahaan ku bisa kembali stabil, namun kau malah bersenang-senang di atas penderitaan ku." ucap Alex pada diri sendiri dengan nada yang kesal.


Disaat perasaan gundah melanda hatinya saat ini, sebuah suara pintu yang di buka dengan lebar lantas membuat Alex terkejut karenanya.


Mendengar perkataan sindiran dari Alex barusan bukannya membuat Cicil takut, malah semakin melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alex berada saat ini.


"Apa maksud mu dengan ini sebenarnya?" ucap Cicil secara langsung tanpa basa-basi terlebih dahulu.


Alex yang awalnya tidak tahu akan arah pembicaraan dari Cicil barusan, lantas langsung menatap ke aras selembar kertas yang saat ini berada di tangan Cicil. Alex yang seakan tahu akan maksud dari kertas tersebut kemudian mulai menarik napasnya dengan santai.


"Perusahaan sedang dalam kondisi goyang, aku ingin menjual beberapa investasi dan juga aset kita. Kamu tak perlu khawatir karena aku akan usahakan jika tidak akan menyentuh aset atas nama dirimu." ucap Alex dengan nada yang terdengar begitu santai, membuat manik mata Cicil langsung membulat dengan seketika.


"Oh ya? Jika memang seperti itu.. Lalu mengapa ada agen yang menghubungiku tentang penjualan aset atas nama diriku? Apa kamu bisa menjelaskannya?" ucap Cicil dengan raut wajah yang kesal karena Alex bertindak semaunya tanpa berunding terlebih dahulu dengannya.

__ADS_1


"Aku hanya melakukan perbandingan, lagi pula aku juga belum menyetujuinya bukan? Mengapa kamu heboh sekali sih?" ucap Alex lagi-lagi dengan nada yang santai sambil terlihat mengambil posisi duduk di kursi kebesarannya.


"Apa kamu bilang? Lex ini bukanlah sebuah kacang yang bisa kamu buang begitu saja dan menjualnya tanpa perundingan terlebih dahulu seperti ini!" pekik Cicil yang kembali tidak terima akan sikap Alex yang terkesan egois itu.


Brak


Suara meja yang di gebrak tiba-tiba oleh Alex saat itu tentu saja langsung membuat mulut Cicil terdiam seketika. Ditatapnya Cicil dengan tatapan yang tajam, membuat Cicil lantas menelan salivanya dengan kasar begitu mendapati jika Alex marah karena ucapannya saat ini.


"Jangan pernah memancing ku untuk melakukan sesuatu yang buruk kepadamu, emosi ku saat ini sedang naik turun! Jadi jangan mengganggu ku jika kau hanya ingin memperdebatkan hal tidak penting dengan ku!" ucap Alex dengan nada yang terdengar begitu dingin.


***


Sementara itu di sebuah kediaman milik Ashraf, terlihat Alice tengah menatap lurus ke arah taman samping sambil melamun. Entah kemana pikirannya saat ini tengah melayang, namun yang jelas Alice sendiri pun tidak mengetahuinya. Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus kasar dari mulutnya.


Sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari Ashraf saat itu, lantas langsung membuyarkan lamunan Alice dengan seketika.


"Ini adalah dua tiket menuju Perancis, aku harap kamu bisa bersiap-siap sekarang karena sore ini kita berdua akan berangkat ke sana." ucap Ashraf dengan nada yang begitu santai namun berhasil mengejutkan Alice saat itu.


"Apa ini? Bukankah kamu berjanji jika tidak akan membawa ku pergi dari negara ini? Orang tua ku bahkan di kampung, bagaimana bisa aku pergi meninggalkannya ke negara yang begitu jauh dengannya." ucap Alice dengan nada yang mengiba berharap jika Ashraf mau mengurungkan niatnya.


"Jika aku katakan pergi ya pergi Al... Jangan membantah ku!" ucap Ashraf dengan nada yang tidak ingin di bantah sama sekali.


"Tapi..."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2