Move

Move
Tidak seperti ini caranya


__ADS_3

"Apa yang dia lakukan di sana?" ucap Ashraf dengan raut wajah yang bingung.


Ashraf yang melihat Alice tidur di sofa saat itu lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alice berada saat ini. Ditatapnya Alice yang terlihat memejamkan kelopak matanya dengan posisi terduduk. Membuat helaan napas terdengar berhembus kasar dari mulut Ashraf saat itu.


"Sepertinya aku sudah keterlaluan tadi, apakah dia marah kepada ku? Mengapa Alice tidur di luar?" ucap Ashraf sambil fokus menatap area leher Alice yang terlihat memerah saat itu.


Ashraf yang melihat area bagian dada Alice saat itu sedikit terbuka, lantas berinisiatif untuk membenarkan posisi baju Alice saat itu. Hanya saja tak lama setelah tangannya hampir menyentuh baju yang dikenakan oleh Alice, tangan Alice mendadak menggenggam pergelangan tangannya dengan erat disertai kelopak mata Alice yang terlihat terbuka detik itu juga.


Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Ashraf terkejut bukan main, Ashraf bahkan tidak menyangka jika Alice mendadak terbangun dari tidurnya. Padahal tadi sebelumnya ia jelas-jelas melihat jika Alice tengah tertidur dengan pulasnya di atas sofa.


"Al.. Aku kira kamu tadi..." ucap Ashraf hendak menjelaskan situasinya, namun sayangnya perkataan Alice yang begitu dingin lantas membungkam mulutnya saat itu.


"Lalu jika aku tertidur, apa kamu akan menjamah ku lagi? Apa pikiran mu sekotor itu? Hingga tidak bisa membiarkan ku tidur dengan tenang." ucap Alice dengan nada yang dingin sambil menghempaskan tangan Ashraf begitu saja.


Alice bangkit dari tempat duduknya, ia benar-benar masih kesal akan sikap Ashraf sebelumnya. Bagaimana bisa tiba-tiba Ashraf bersikap seakan tidak pernah terjadi apa-apa? Padahal tanda merah ditubuh Alice belum memudar sedikit pun hingga kini, bukankah Ashraf sungguh keterlaluan?

__ADS_1


 "Al kamu salah paham aku..." ucap Ashraf namun lagi-lagi langsung terdiam dengan seketika karena perkataan Alice yang meng skak mat dirinya.


"Bagian mananya yang salah? Aku tanya sekarang, katakan kepadaku bagian mananya yang salah? Apakah ini? Ini? Ini? Atau ini? Katakan kepadaku bagian mananya yang salah? Oh aku lupa.. Seorang Ashraf tidak pernah salah bukan? Hanya Alice yang salah di sini. Ya hanya Alice yang salah..." ucap Alice sambil menunjuk tanda merah di tubuhnya kemudian berbalik badan dan memunggungi Ashraf saat itu.


Ashraf yang mendengar kata-kata Alice yang begitu menyudutkan dirinya saat itu, hanya bisa terdiam tanpa bisa menyangkal ataupun menyanggah perkataan Alice saat itu. Ashraf jelas tahu dan juga paham, jika Alice saat ini benar-benar emosi dan kecewa atas perilakunya sebelumnya. Hanya saja entah mengapa, Ashraf sama sekali kehilangan kendali dan tidak bisa mengendalikan dirinya, ketika mendapati Kafin dan juga kedua anak kembarnya itu kembali mendekat dan mencuri perhatian Alice saat ini.


"Aku minta maaf Al, tindakan ku benar-benar keterlaluan dan aku juga sadar akan hal itu. Hanya saja.. Aku sungguh tidak berdaya ketika mendapati kenyataan jika lagi dan lagi hati mu lebih mengarah kepada Kafin dan juga kedua anaknya. Apakah orang baru selalu mendapatkan tempat yang lebih besar di banding orang lama Al? Katakan padaku, apakah kamu bosan? Kamu bisa mengatakannya sesuka hatimu, bahkan beritahu aku di mana letak tingkah laku ku yang membuat mu bosan hingga berpaling kepadanya. Aku siap untuk berubah asalkan kamu tetap bersama dengan ku.. Aku.. Aku tidak sanggup jika harus kehilangan dirimu Al.. Jujur aku tidak sanggup." ucap Ashraf sambil menundukkan kepalanya.


Ashraf bahkan tidak punya keberanian untuk menatap raut wajah Alice yang penuh kebencian kepadanya saat ini. Cukup hati Alice yang berubah namun untuk tatapannya, Ashraf benar-benar tidak siap jika harus menerima kenyataan jika tatapan Alice kepadanya ikut berubah.


"Tapi hal ini bukanlah cara yang benar untuk mengungkapkan segalanya, sebuah tindakan jika hanya di lakukan oleh satu orang itu tidak adil rasanya. Benar menurut mu belum tentu benar menurut ku, jika kamu ingin menikah maka katakan dengan benar jangan seperti ini. Kamu pikir aku tidak memikirkannya sejak lama? Aku bahkan sedang menunggu momen yang tepat, tapi kamu malah merusak segalanya." ucap Alice yang kali ini dengan nada yang lebih rendah tidak seperti sebelumnya.


Ashraf yang mendengar perkataan Alice seperti sinyal lampu hijau untuknya, lantas mulai mendongakkan kepalanya menatap ke arah Alice saat itu. Ditatapnya raut wajah Alice dengan tatapan yang mengernyit, seakan menanyakan maksud dari perkataan Alice barusan.


Sampai kemudian helaan napas terdengar berhembus kasar dari mulut Alice saat itu, yang lantas membuat tatapan bingung semakin terasa menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Apakah kamu..." ucap Ashraf namun tercekat seakan tidak berani menerka maksud dari perkataan Alice sebelumnya.


"Ya, mari kita lakukan bersama-sama... Aku setuju menikah dengan mu Ashraf Matthew." ucap Alice pada akhirnya yang lantas membuat raut wajah sumringah terlihat dengan jelas pada wajah Ashraf saat itu.


Ashraf yang mendengar perkataan dari Alice barusan, tentu saja bahagia bukan main sambil mendekat ke arah di mana Alice berada saat ini. Dipeluknya tubuh Alice dengan erat kemudian mengangkatnya dan memutarnya secara perlahan, seakan-akan menandakan Jika ia tengah bahagia saat ini. Mendapati hal tersebut membuat seulas senyum tipis terlihat terbit dari wajah Alice saat itu, ketika mendapati ekspresi yang ditunjukkan oleh Ashraf.


Entahlah Alice bahkan tidak tahu apakah yang ia lakukan saat ini adalah sebuah keputusan yang benar atau tidak. Hanya saja tidak ada salahnya bukan jika ia mencoba segala sesuatunya terlebih dahulu. Lagi pula Ashraf sudah menantinya selama bertahun-tahun, setidaknya Ashraf juga menginginkan keputusan darinya. Bukan hanya sekedar kata menggantung yang tiada akhir hingga detik ini.


Ashraf yang puas dengan jawaban diberikan oleh Alida saat itu, lantas menghentikan gerakannya yang sedari tadi berputar-putar. Di tatapnya Alice dengan raut wajah yang kegirangan. Sampai kemudian Ashraf yang baru mengingat sesuatu, lantas langsung menatap ke arah Alice dengan tetapan yang mengernyit. Membuat Alice lantas bertanya-tanya akan maksud dari tatapan Ashraf tersebut.


"Ngomong-ngomong mengapa kamu tidur di luar? Bukankah seharusnya kamu tidur bersama dengan Caramel?" ucap Ashraf kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Astaga Caramel!" pekik Alice sambil berlarian ke arah kamar Caramel saat itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2