Move

Move
Memaksa pergi


__ADS_3

Setelah Kafin berangkat pergi bekerja sedangkan Belinda dan juga Altair pergi ke sekolah, Alice yang mendapati keadaan rumah tengah kosong saat ini lantas langsung bergerak pergi menuju ke arah ruang kerja Kafin. Alice benar-benar penasaran akan apa yang ada di sana sebenarnya, membuat Alice lantas langsung mempercepat langkah kakinya memasuki area ruang kerja Kafin saat itu.


Tanpa membuang-buang waktu lagi Alice lantas langsung mengelilingi setiap sudut yang berada di dalam ruangan Kafin tersebut. Satu persatu tumpukan buku dan juga berkas ia lihat secara keseluruhan, seakan berusaha untuk mencari sebuah informasi yang Alice sendiri tidak tahu apa isi dari informasi tersebut.


Alice yang tak menemukan apapun di ruangan tersebut lantas beralih menuju meja ke besaran milik Kafin dan langsung membuka satu persatu laci yang ada di sana. Hanya saja ketika ia menyusurinya tetap saja Alice tak menemukan apapun selain hanya file-file dan berkas-berkas pekerjaan milik Kafin saat itu, membuat Alice yang mendapat hal tersebut lantas langsung berdecak dengan kesal karena tidak dapat menemukan informasi apapun di sana.


"Mengapa tidak ada informasi apapun di sini? Apa yang sedang aku cari sebenarnya?" ucap Alice sambil mengambil posisi berkacak pinggang menatap lurus ke arah depan.


Entah apa yang ada di pikiran Alice saat ini, namun yang jelas Alice tetap saja meyakini jika ada yang tidak beres dari segala hal yang terjadi di sekitarnya. Termasuk dengan tatapan seorang perempuan yang saat itu ia temui di taman dan juga tatapan teman Kafin saat itu, benar-benar membuatnya sama sekali tidak bisa diam dan mengacuhkannya begitu saja.


Alice mengusap raut wajahnya dengan kasar ketika melihat ke arah ponsel ditangannya yang bahkan hanya berisi sebuah ponsel kosong tanpa ada kontak telepon seorang pun di sana. Dalam ponsel itu hanya berisi kontak Kafin, Belinda dan juga Altair selain 3 kontak itu Alice tidak mendapati kontak siapapun lagi di ponsel miliknya.


"Mengapa aku tidak bisa mengingat apapun juga bahkan hingga hal terkecil sekalipun? Apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Alice sambil mengacak-ngacak rambutnya dengan kesal karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari pertanyaannya saat ini.


Alice yang tak kunjung mendapatkan apapun di sana pada akhirnya hanya bisa berlalu pergi dengan perasaan yang kecewa, lagi dan lagi Alice sama sekali tidak bisa mendapatkan informasi apapun yang bisa menjelaskan segala pertanyaan yang ada di kepalanya saat ini.


***


Sementara itu di ruangan CEO perusahaan Beauty, terlihat Kafin tengah sibuk menatap ke arah layar iPad miliknya. Seulas senyum nampak terbit dari wajah Kafin saat itu ketika melihat Alice yang tak menemukan sesuatu apapun di area ruang kerjanya.


Ya saat ini Kafin tengah melihat sebuah rekaman kamera pengawas yang ia letakkan di ruang kerjanya yang berada di rumah. Entah mengapa Kafin merasa jika Alice akan kembali lagi dan datang untuk mencari sesuatu ke ruangan tersebut, membuatnya lantas langsung fokus menatap ke arah rekaman kamera pengawas sejak kedatangannya di ruangan CEO di perusahaannya.

__ADS_1


"Sudah kuduga dia akan kembali lagi ke sana, beruntung aku sudah membereskan semua berkas penting yang menyangkut tentang segala informasi miliknya." ucap Kafin sambil menatap lurus ke arah layar iPad miliknya.


Disaat Kafin tengah sibuk menatap ke arah layar iPad miliknya, Dimas nampak terlihat melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut. Hanya saja sama sekali tidak Kafin sadari, membuat Dimas lantas langsung mengernyit begitu melihat tingkah Kafin yang aneh saat ini.


"Apakah ada sesuatu Tuan?" ucap Dimas yang tentu saja langsung membuyarkan lamunan Kafin dengan seketika.


Mendapat pertanyaan tersebut dari Dimas, lantas langsung membuat Kafin menoleh ke arah sumber suara dan menghentikan pengawasannya terhadap Alice saat itu.


"Apa ada informasi yang penting?" ucap Kafin kemudian balik bertanya kepada Dimas, seakan enggan menjawab pertanyaannya barusan.


"Tidak ada Tuan, saya hanya ingin memberikan beberapa berkas yang harus anda tanda tangani." ucap Dimas sambil memberikan beberapa map di atas meja Kafin saat itu.


Mendapati hal tersebut Kafin lantas langsung membuka satu persatu berkas itu dan membubuhkan tanda tangannya di sana. Sedangkan Dimas yang melihat raut wajah Kafin yang sedikit aneh tentu saja penasaran namun tidak berani bertanya dan hanya bisa menerkanya saja.


Kafin yang tidak mendengar adanya jawaban apapun yang diberikan oleh Dimas atau bahkan Dimas yang mulai melangkahkan kakinya pergi dari ruangannya, lantas langsung menatap ke arah Dimas dengan tatapan yang mengernyit sekaligus bertanya-tanya. Apa yang hendak dilakukan Dimas dengan tetap diam di ruangannya saat ini?


"Apakah ada sesuatu? Mengapa kau hanya diam saja sedari tadi?" ucap Kafin dengan raut wajah yang penasaran mantap ke arah Dimas.


"Eh tidak ada Tuan, saya permisi...." ucap Dimas kemudian sambil berlalu pergi dari sana meninggalkan ruangan Kafin, membuat Kafin yang mendapati tingkah laku Dimas yang seperti itu tentu saja hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang bingung sambil melihat kepergian Dimas dari ruangannya.


"Dasar aneh!" ucap Kafin sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan kemudian kembali fokus menatap ke arah layar iPad miliknya, dimana saat ini Alice sudah tidak lagi terlihat di area ruang kerjanya.

__ADS_1


**


Kediaman Kafin


Setelah tak menemukan apapun di ruang kerja Kafin, Alice nampak melangkahkan kakinya dengan perlahan keluar dari sana sambil memasang raut wajah yang di tekuk. Tidak ada siapapun yang bisa ia tanyai selain hanya sebuah keheningan semata.


Disaat Alice hendak melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur, Alice tak sengaja melihat Arman supir pribadi anak-anak yang sepertinya hendak pergi menjemput keduanya saat ini.


"Permisi Pak! Apa pak Arman mau menjemput anak-anak?" tanya Alice kemudian dengan raut wajah yang penasaran, membuat langkah kaki Arman langsung terhenti dengan seketika begitu mendengar perkataan dari Alice barusan.


"Iya Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" ucap Arman kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Jika memang begitu, biar saya saja yang menjemput mereka. Saya benar-benar bosan terus berada di rumah seperti ini." ucap Alice kemudian.


"Kalau begitu mari ikut saya menjemput anak-anak Nyonya..." ucap Arman kemudian yang mengira jika Alice akan ikut dengannya.


"Bukan, bukan seperti itu Pak! Maksud saya biarkan saya yang menyetir sendiri dan menjemput mereka ke sekolah." ucap Alice sambil mulai melangkahkan kakinya dan mengambil kunci mobil di tangan Arman saat itu.


"Tapi nanti Tuan bisa marah Nyonya..." ucap Arman memperingati.


"Tidak apa, katakan saja kepadanya jika aku yang memaksa." ucap Alice sambil berlalu pergi meninggalkan Arman di sana.

__ADS_1


"Tapi Nyonya..."


Bersambung


__ADS_2